Memahami Kekuatan Impian untuk Meraih Cita-cita (2)

Memahami Kekuatan Impian untuk Meraih Cita-cita

BIBLIOTIKA - Artikel ini lanjutan artikel sebelumnya (Memahami Kekuatan Impian untuk Meraih Cita-cita 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah artikel sebelumnya terlebih dulu.

E. Paul Hovey menyatakan, “Dunia orang buta dibatasi oleh sentuhannya; dunia orang dungu dibatasi oleh pengetahuannya; dan dunia orang hebat dibatasi oleh visinya.”

Benar sekali apa yang dikatakan oleh Paul Hovey itu. Bahwa dunia kita ini sesungguhnya dibatasi oleh visi kita, oleh impian kita, oleh pikiran kita. Kalau kita berpikir kecil, dunia kita pun akan menjadi kecil, hidup kita kecil, dan potensi yang kita miliki pun seolah-olah begitu kecil. Tetapi ketika kita berpikir besar, dunia kita pun menjadi besar, hidup kita menjadi besar dan potensi yang kita miliki pun akan mewujud begitu besar.

Impian membantu kita mengatur prioritas

Impian akan membantu kita untuk mengenali mana hal-hal yang penting untuk dikerjakan dan mana hal-hal tidak penting yang perlu ditinggalkan. Impian membantu kita dalam mengatur prioritas dalam hidup sehingga kita bisa mengisi hidup ini dengan hal-hal yang berarti.

Mungkin kita tidak perlu sampai menuliskan semua rencana kita dalam sebuah jadwal agenda yang sangat ketat, namun setidaknya, dengan memiliki suatu impian yang dituju, kita bisa menakar dan memilih mana saja kegiatan yang akan mendukung impian kita, dan mana saja kegiatan yang hanya akan membuang-buang waktu dan menjauhkan kita dari impian kita. Lebih dari itu, impian mem-berikan kepada kita suatu harapan di masa depan, sekaligus memberikan kekuatan untuk menjalani hari ini.

Impian menambah nilai pada pekerjaan kita

Ada kalanya kita menghadapi suatu pekerjaan yang tidak kita sukai namun kita terpaksa melakukannya karena hanya pekerjaan itulah yang bisa kita dapatkan. Mungkin pekerjaan atau profesi itu bukanlah pekerjaan yang sesuai dengan impian kita. Namun, orang yang memiliki impian akan mampu menghadapi dan menjalani pekerjaan itu dengan perspektif yang lebih baik, karena meskipun itu bukan pekerjaan atau profesi yang diinginkan, itu dapat membantu kita meraih impian yang kita inginkan.

Orang yang memiliki impian akan memandang batu di hadapannya sebagai batu loncatan, dan bukannya sebagai batu sandungan. Dengan memiliki suatu impian, kita bisa melakukan pekerjaan kita dengan lebih baik meskipun itu bukan pekerjaan yang kita sukai, karena menyadari bahwa kita dapat menggunakan pekerjaan itu sebagai semacam batu loncatan untuk meraih tujuan yang diinginkan.

Impian meramalkan masa depan kita

Saya seringkali merasa terharu saat membaca suatu kisah yang seringkali diceritakan oleh para penulis buku psikologi motivasi. Kisahnya adalah tentang tiga orang tukang batu yang tengah membangun sebuah gereja. Ketika mereka ditanya tentang apa yang sedang mereka kerjakan, tiga orang tukang batu itu memiliki jawabannya sendiri-sendiri.

Tukang batu pertama mengatakan, “Saya sedang mengaduk semen.” Tukang batu kedua menjawab, “Saya sedang mencari uang.” Sementara tukang batu ketiga dengan penuh semangat menyatakan, “Saya sedang mem-bangun katedral terindah di dunia!”

Memang tidak dijelaskan bagaimana kelanjutan kisah dari tiga orang tukang batu itu, tetapi setidaknya kita bisa meramalkan bahwa tukang batu ketigalah yang paling punya kemungkinan untuk sukses. Mengapa? Karena dia memiliki visi pada pekerjaannya, dia memiliki suatu gambaran impian tentang apa yang tengah dikerjakannya.

Dengan memiliki suatu impian, kita akan menjadi seperti pemain yang aktif di tengah lapangan dan ikut menentukan arah dari suatu pertandingan. Sebaliknya, tanpa impian, kita tak jauh beda dengan penonton yang duduk di kursi di pinggir lapangan. Kita mungkin aktif, tapi hanya aktif berkomentar dan berteriak-teriak, sementara kita tak memperoleh nilai apapun.

Pemain memiliki visi dalam bertanding dan memiliki impian untuk menang dalam pertandingan, sementara penonton tak punya visi apa-apa selain berkomentar, dan tak memiliki impian apapun selain hanya menonton. Padahal, visi sebagaimana yang ditulis oleh Katherine Logan, adalah “meramalkan apa yang menjadi milik kita.

Visi adalah undangan untuk melakukan sesuatu. Dengan gambaran mental yang besar di pikiran kita, kita pergi dari satu keberhasilan ke keberhasilan lainnya, menggunakan materi di sekitar kita sebagai batu loncatan ke tempat yang lebih tinggi, lebih baik, dan lebih memuaskan. Dengan adanya visi, kita menjadi pemilik nilai-nilai yang tidak kelihatan dan abadi.”

Jadi, sudahkah kamu memiliki visimu, menentukan impianmu...?