Memahami Berpikir Positif dan Bersikap Positif (2)

Memahami Berpikir Positif dan Bersikap Positif

BIBLIOTIKA - Artikel ini lanjutan artikel sebelumnya (Memahami Berpikir Positif dan Bersikap Positif 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah artikel sebelumnya terlebih dulu.

Ini adalah kisah tentang seseorang bernama W. Mitchell, seorang jutawan sekaligus pembicara yang sangat digemari, mantan walikota, dan memiliki hobi naik rakit di sungai serta terjun dengan parasut. Semua prestasi yang ia capai dalam hidupnya itu bukan diperolehnya ketika ia sehat wal afiat, tetapi justru ketika ia telah mengalami kecelakaan parah dan mengalami kelumpuhan setengah dari badannya.

Kalau kamu melihat sosok orang bernama W. Mitchell ini, kamu pasti bakal merinding. Wajahnya tambal sulam, jari-jari di kedua tangannya putus atau tinggal ujungnya saja, dan kakinya yang lumpuh menjadi kurus kering dan tidak berguna di balik celana panjangnya. Mitchel sering ditanyai orang-orang yang kebetulan melihatnya, bagaimana ia sampai bisa seperti itu? Kecelakaan apa yang telah menimpanya?

“Sore itu, saya naik motor ke tempat kerja,” cerita W. Mitchell sambil mengingat-ingat, “dan di persimpangan, saya tabrakan dengan sebuah truk binatu. Sikut saya hancur, pinggul saya retak, dan tangki bensin motor saya terbuka. Bensinnya tumpah, panas mesinnya menyulut bensin, dan sebagian besar tubuh saya pun terbakar.”

Untungnya, saat kecelakaan itu terjadi, seseorang yang melihat itu langsung berpikir untuk mengambil tabung penyemprot pemadam kebakaran, dan langsung menyiramkannya ke tubuh Mitchell, sehingga ia selamat dari kematian yang tragis.

Tetapi tetap saja wajah Mitchell hangus terbakar, jari-jarinya hangus dan bengkok, kakinya tinggal daging mentah. Orang-orang yang membesuknya ke rumah sakit pun banyak yang pingsan karena tak kuat melihat keadaannya. W. Mitchell sendiri tidak sadar selama dua minggu, lalu siuman.

Semenjak itu, selama lebih dari empat bulan, ia menjalani 13 kali transfusi darah, 16 kali operasi tambal sulam untuk memperbaiki tubuhnya, dan beberapa operasi lainnya.

Empat tahun kemudian, setelah melewatkan waktu berbulan-bulan di pusat rehabilitasi dan bertahun-tahun belajar menyesuaikan diri dengan cacatnya, sesuatu yang tak pernah terbayangkan pun terjadi. Mitchell mengalami kecelakaan kedua, kali ini kecelakaan pesawat. Dan semenjak itu, dia mengalami lumpuh dari pinggang ke bawah. “Ketika saya mengatakan bahwa saya mengalami dua kecelakaan terpisah,” katanya, “orang yang mendengarnya tidak tahan.”

Setelah kecelakaan pesawatnya yang membuatnya lumpuh itu, W. Mitchell ingin bertemu dengan seorang pasien berusia sembilan belas tahun yang pernah ditemuinya di tempat latihan di rumah sakit.

“Dia juga lumpuh,” ia bercerita, “ia tadinya pendaki gunung, pemain ski, orang yang aktif di luar ruang, dan yakin kehidupannya sudah berakhir. Akhirnya, saya datang kepadanya dan saya bilang, ‘Tahu tidak? Sebelum semuanya ini terjadi pada saya, ada sepuluh ribu hal yang bisa saya lakukan. Sekarang ada sembilan ribu hal. Saya bisa menghabiskan sisa hidup saya untuk menyesali yang seribu yang sudah hilang itu, tetapi saya memilih untuk memfokuskan pada sembilan ribu yang tersisa’.”

Ketika ditanya mengenai sikapnya yang begitu positif itu, W. Mitchell mengatakan, “Sayalah yang mengendalikan pesawat kehidupan saya sendiri. Saya bisa membuat diri saya bersemangat atau loyo. Saya bisa memilih untuk memandang situasi saya sebagai suatu kemunduran atau malah sebagai titik permulaan.”

Nah, W. Mitchell adalah salah satu contoh dari orang yang mau berpikir positif dan bersikap positif.  Ia tidak mengutuk kehidupan, ia tidak mencaci-maki nasib ataupun mengkambinghitamkan keadaan atas kondisi yang dialaminya. Dan karena sikap yang positif itu pulalah yang kemudian menjadikan dia bisa menjadi seorang yang sukses, justru ketika ia telah menerima kecelakaan yang luar biasa parah itu. Mari kita tanyakan apa yang menjadi rahasia dari sikapnya yang sangat positif itu...

“Yang penting bukanlah apa yang terjadi padamu dalam hidup ini, melainkan bagaimana responmu terhadap kejadian itu.”

Itu kata W. Mitchell. Kalau dalam bahasa Art E. Berg, “Aku belajar bahwa impian tak pernah musnah akibat keadaan; impian dilahirkan dalam hati dan pikiran, dan hanya di situlah mereka bisa mati.”

Ingat, upayakanlah selalu untuk berpikir positif, bersikap positif.

Kalau kita berpikir positif, keadaan apapun akan nampak sebagai sesuatu yang positif dan akan memberikan efek yang sama positifnya dalam diri kita, dan itu akan melahirkan sikap yang positif. Sikap yang positif akan melahir-kan tindakan yang positif, dan tindakan yang positif akan mendatangkan hasil yang positif. Bukankah begitu...?

Baca lanjutannya: Pentingnya Meyakini Pertolongan Tuhan