Memahami Berpikir Positif dan Bersikap Positif (1)

Memahami Berpikir Positif dan Bersikap Positif

BIBLIOTIKA - Artikel ini lanjutan artikel sebelumnya (Pentingnya Sikap Gigih dan Pantang Menyerah). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah artikel sebelumnya terlebih dulu.

W. Clement Stone mengatakan, “Sikap seseorang adalah satu-satunya hal yang bisa dikendalikannya secara mutlak.”

Itu adalah kata-kata yang benar sekali. Kita memang tidak selalu bisa mengendalikan keadaan yang menimpa kita atau kondisi yang ada di sekitar kita, namun kita selalu bisa mengendalikan pikiran kita sendiri.

Dan siapapun yang mempunyai impian dan menginginkan impian itu menjadi kenyataan harus mengingat betul akan fakta yang satu ini. Kita memang tidak bisa mengendalikan keadaan yang ada di luar kita, namun kita selalu bisa mengendalikan keadaan yang ada di dalam kita.

Sebagai contoh, kemiskinan adalah salah satu hal yang berada di luar kendali kita. Itu adalah keadaan yang tak bisa kita kendalikan, karena setiap anak yang lahir ke dunia ini tak pernah bisa memilih untuk dilahirkan oleh orang tua yang kaya atau oleh orang tua yang miskin. Tetapi kita bisa mengendalikan isi pikiran kita! Kita bisa menganggap kemiskinan itu sebagai hambatan atau sebagai tantangan. Kita bisa menjadikan kemiskinan itu sebagai penghalang cita-cita atau justru sebagai dorongan semangat.

Napoleon Hill lahir sebagai anak orang miskin. Enrico Caruso lahir dalam keluarga yang miskin. Pablo Picasso dilahirkan dalam kemiskinan. Abraham Lincoln juga lahir dalam kemiskinan. Tetapi mereka bisa menjadi penulis besar, penyanyi besar, pelukis besar dan pemimpin besar. Mereka adalah orang-orang yang menjadikan kemiskinan sebagai dorongan semangat untuk maju meraih impiannya, dan bukan menjadikannya sebagai hambatan yang menghalangi mereka meraih cita-cita.

Sekali lagi, kemiskinan adalah salah satu kondisi di luar diri kita yang tak dapat kita kendalikan, namun kita selalu dapat mengendalikan pikiran kita dalam menghadapi kondisi kemiskinan itu.

Kekurangan fisik atau cacat tubuh juga serupa dengan itu. Cacat atau kekurangan fisik, meskipun itu ada pada tubuh kita, tetapi itu juga bagian dari kondisi yang ada di luar kendali kita. Kita bisa menganggap cacat atau kekurangan itu sebagai penghambat atau sebagai dorongan. Sebagai batu rintangan, atau sebagai batu loncatan. Semuanya terserah pada sikap kita yang kita bentuk pada pikiran kita.

Ludwig van Beethoven adalah orang yang tuli. Franklin Delano Roosevelt adalah orang yang lumpuh. John Milton adalah orang yang buta. Demosthenes adalah orang yang gagu. Dan Hellen Keller adalah orang yang buta, bisu, sekaligus tuli. Tetapi apa yang dilakukan oleh orang-orang ini? Mereka memang tidak bisa mengendalikan keadaan di luar kendali mereka dalam bentuk cacat atau kekurangan yang mereka miliki, namun mereka bisa mengendalikan pikiran mereka, dan itulah yang telah mereka lakukan.

Hingga meskipun memiliki cacat dan kekurangan, Beethoven bisa menjadi seorang penggubah yang musiknya abadi, Roosevelt bisa menjadi presiden terbesar, John Milton bisa menjadi penyair yang luar biasa, Demosthenes bisa menjadi orator yang mampu menghipnotis ribuan pendengarnya, dan Hellen Keller bisa menjadi penulis hebat dan menjadi salah satu wanita paling dikagumi di dunia.

Pikiran positif dan sikap yang positif adalah dua hal yang harus dimiliki ketika kita melangkah menuju impian yang didambakan. Dengarkan apa yang dikatakan oleh George Bernard Shaw, penulis drama Inggris yang tersohor ini, “Orang selalu menyalahkan keadaan. Saya sih tidak percaya kepada keadaan. Orang yang berhasil di dunia ini adalah orang-orang yang bangkit dan mencari keadaan-keadaan yang mereka inginkan, dan kalau tidak ketemu, mereka menciptakan keadaan-keadaan tersebut.”

Mungkin kamu bisa saja mengatakan, “Persoalannya, lingkungan di tempat tinggal saya tidak mendukung impian saya,” atau, “Aduh, kamu nggak tahu gimana orang tua saya sih! Mereka sangat protektif dan tidak membebaskan saya untuk menentukan cita-cita saya,” atau, “Keadaan keluarga saya benar-benar tidak memungkinkan saya untuk mewujudkan impian saya.”

Kalau kamu mengajukan argumen-argumen yang hanya akan melemah-kan semangatmu sendiri seperti itu, ada baiknya juga kamu mendengarkan nasihat Elaine Maxwell ini, “Entah saya gagal atau sukses bukanlah akibat orang lain atau hal lain, melainkan diri sendiri. Sayalah sumber pendorong diri sendiri; saya bisa menyingkirkan hambatan di depan saya, atau sesat dalam perangkapnya.”

Untuk menguatkan hal ini, sekaligus untuk memberimu contoh bahwa orang selalu bisa mengendalikan apa yang ada dalam pikirannya, saya akan menceritakan kepadamu tentang seorang yang mengalami kemunduran hebat dalam hidupnya, namun ia tetap bisa berpikir dan bersikap positif, dan menjadikan kemunduran itu sebagai batu loncatan untuk meraih kemajuan.

Baca lanjutannya: Memahami Berpikir Positif dan Bersikap Positif (2)