Melihat yang Terbaik Pada Orang Lain (2)

 Melihat yang Terbaik Pada Orang Lain

BIBLIOTIKA - Artikel ini lanjutan artikel sebelumnya (Melihat yang Terbaik Pada Orang Lain 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah artikel sebelumnya terlebih dulu.

Seorang teman saya, Heri Bayu, memulai karirnya dengan bekerja sebagai seorang surveyor pada sebuah lembaga keuangan. Ia memiliki kebiasaan yang positif untuk melihat segi baik orang lain dan selalu berusaha memberikan penilaian yang positif pada orang yang ditemuinya.

Tidak heran kalau ia pun menjalin persahabatan dengan banyak berandal dan anak-anak nakal di jalanan meskipun teman-temannya yang lain merasa risih dengan itu. Bayu tidak menganggap para berandal itu sebagai orang-orang yang suka meng-ganggu, tetapi menilai mereka sebagai orang yang memiliki ‘pengetahuan jalanan’.

Dan inilah yang kemudian diterima Bayu sebagai balasannya atas sikap positifnya yang ia berikan kepada orang-orang yang sering dinilai sebagai sampah masyarakat itu. Ketika Bayu bekerja sebagai seorang surveyor, ia harus selalu turun ke lapangan, ke kampung-kampung untuk mensurvey setiap orang yang mengajukan permohonan kredit kepada perusahaannya.

Bayu bertanggung jawab penuh pada perusahaannya atas setiap orang yang pengajuan hutangnya di-acc. Karena itulah, Bayu tidak bisa asal survey dan asal acc. Ia harus benar-benar mengetahui dan mempelajari karakter masing-masing orang itu sebelum menetapkan keputusan untuk menerima pengajuan hutang mereka.

Nah, siapa kira-kira orang yang kemudian sering membantunya dalam pekerjaannya itu? Para berandal dan anak-anak nakal itu! Setiap kali Bayu masuk ke sebuah kampung atau kawasan perumahan, orang yang pertama kali ditemuinya adalah berandal-berandal yang hidup di kampung atau di kawasan itu.

Dan mereka biasanya memiliki pengetahuan yang lebih luas dibanding orang-orang kampung pada umumnya karena mereka pasti tahu setiap orang yang memiliki karakter buruk atau sifat jahat dibanding dengan orang-orang kampung lain yang biasanya hanya melihat sifat-sifat baik yang selama ini ditunjukkan pada mereka.

Mungkin terpikir dalam benak kita, bisa saja orang-orang ‘tidak enak’ alias para berandal itu memberikan informasi yang tidak benar. Iya, bisa saja, tetapi ingat, Bayu memberikan penilaian yang positif kepada mereka, dan para berandal itu juga manusia yang selalu berusaha untuk memenuhi nilai yang telah diberikan kepada mereka.

Para berandal itu tahu bahwa Bayu telah memberikan nilai kepada mereka sebagai ‘orang yang dapat dipercaya’, dan setiap dari mereka tidak akan berpikir untuk mengkhianati kepercayaan itu karena mereka pun selalu ingin sesuai dengan nilai yang telah diberikan kepada mereka!

Sekali lagi, beri nilai yang baik kepada orang lain, dan orang lain pun akan menunjukkan perilakunya setepat mungkin dengan nilai yang kita berikan. Berikan nilai yang buruk, dan mereka akan berlaku buruk. Berikan nilai yang baik, dan mereka pun akan berlaku baik. Antoine de saint Exupery menyata-kannya dengan sangat bagus, “Makna sesuatu tidak berada pada diri sesuatu itu, tetapi dalam sikap kita terhadapnya.”

Apa yang kira-kira akan kamu lakukan jika berpapasan dengan orang yang menunjukkan muka tidak senang kepadamu? Kamu pun akan me-nunjukkan muka yang sama tidak senangnya. Tapi apa yang akan kamu lakukan ketika bertemu dengan orang yang tersenyum tulus kepadamu? Benar, kamu akan membalas senyumnya!

Jadi, berusahalah untuk selalu mau dan mampu untuk melihat yang terbaik dalam diri orang lain!