Melihat yang Terbaik Pada Orang Lain (1)

Melihat yang Terbaik Pada Orang Lain

BIBLIOTIKA - Kita tidak hidup sendirian sebagaimana Tarzan yang hidup di tengah hutan. Kita hidup bersama orang lain dalam dunia yang lebih beradab, dan inilah wujud rumusnya; Kita tidak pernah bisa untuk selalu mewujudkan segalanya sendirian!

Ya, kita selalu membutuhkan orang lain. Jangankan untuk hal-hal besar seperti mewujudkan impian menjadi kenyataan, bahkan untuk hal-hal yang remeh-temeh pun kita seringkali membutuhkan orang lain. Untuk bisa masuk swalayan dengan tenang, kita membutuhkan tukang parkir yang menjaga kendaraan kita, untuk dapat terus menggunakan ponsel, kita membutuhkan penjual voucher pulsa.

Nah, saat saya menulis artikel ini, komputer saya ngadat dan pekerjaan saya terganggu karena komputer saya tidak bisa digunakan. Apa yang saya lakukan? Saya tidak tahu apa yang rusak dalam komputer saya dan saya memang tidak menguasai teknik reparasi komputer. Maka saya memanggil orang lain untuk membetulkan komputer saya!

Orang yang ingin mewujudkan impiannya harus selalu berusaha menjalin hubungan dengan orang lain, dan salah satu cara paling efektif untuk menjalin hubungan dengan orang lain adalah dengan selalu berusaha untuk melihat segi yang terbaik dalam diri orang lain.

Tanpa kita sadari, kita seringkali lebih banyak memfokuskan pikiran kita untuk melihat kekurangan orang lain daripada memperhitungkan segi positif atau kelebihan yang dimilikinya. Sudah lumrah orang mengatakan, “Ah, dia sih hatinya baik, tapi mulutnya itu lho, nggak nguatin!”

Kenapa harus lebih memfokuskan pada keburukan mulutnya saja padahal ia juga memiliki hati yang baik? Atau, “Dia memang paling pintar di kelas ini, tapi pakaiannya jorok!” Mengapa harus lebih menitikberatkan pada pakaiannya yang jorok daripada nilai positif kepintarannya?

Ada satu rahasia abadi yang selalu berhasil dalam menjalin hubungan dengan orang lain, yakni dengan selalu melihat sisi positif orang itu, dan selalu berusaha untuk memberikan nilai yang baik pada orang itu. Secara psikologis, orang akan selalu berusaha untuk menampilkan sikap dan sifat sebagaimana orang lain memberikan penilaian itu kepadanya.

Coba lihat adik-adik kita yang masih kecil. Ketika mereka susah makan, bagaimana biasanya ibu kita membujuknya untuk mau makan? Dengan membohonginya bahwa makanan itu rasanya sangat lezat? Dengan memberi hardikan atau hukuman? Dengan mengata-ngatai adik kita dengan ucapan-ucapan kasar? Tidak!

Ibu kita lebih tahu bagaimana menghadapi anak-anak kecil itu. Ibu kita akan membujuknya dengan kata-kata yang manis, yang memujinya, yang memberikan sifat positif kepada adik kita. “Wah, pokoknya adik tuh pinter deh, makannya aja dihabiskan...” Dan tanpa dipaksa-paksa, adik kita pun menghabiskan makanannya. Mengapa? Karena adik kita yang kecil itu juga manusia, dan manusia selalu berusaha untuk melakukan tepat seperti nilai yang diberikan untuknya.

Teknik ini berlaku bukan hanya kepada anak-anak kecil yang kita anggap nalarnya belum matang, tetapi juga teknik ini selalu berhasil kepada orang-orang dewasa yang berapapun umurnya. Jadi, setiap orang yang kita hadapi sehari-hari sebenarnya akan memberikan yang terbaik dari diri mereka kalau kita mau memberikan penilaian yang positif kepada mereka dan tidak ter-buru-buru menghakiminya dengan menyematkan penilaian yang negatif.

Selalulah berusaha untuk melihat yang terbaik dalam diri orang lain, selalulah berusaha memberikan penilaian yang baik pada orang lain, karena akan tiba suatu saat dimana kita akan membutuhkan mereka, memerlukan bantuan mereka untuk ikut membantu mewujudkan impian kita. Kata George Shinn, “Tidak ada satu pun di dunia ini yang merupakan hasil karya sendiri. Kamu mencapai tujuanmu selalu berkat bantuan orang lain.”

Baca lanjutannya: Melihat yang Terbaik Pada Orang Lain (2)