Masalah Terorisme dan Kegagalan PBB (1)

Masalah Terorisme dan Kegagalan PBB

BIBLIOTIKA - Pada akhir Desember 2015, sebuah konferensi internasional diadakan untuk tujuan mengklasifikasikan kelayakan kelompok-kelompok militan di Suriah untuk berpartisipasi dalam pembicaraan damai yang disponsori PBB. Konferensi itu adalah usaha dari 17 negara yang tergabung dalam International Syria Support Group (ISSG) untuk memilih kelompok mana di antara 167 kelompok yang bisa dikategorikan sebagai teroris.

Sebelumnya, pada November 2015, ISSG menugaskan Menteri Luar Negeri Yordania, Nasser Judeh, untuk mencari tahu kelompok mana yang harus diberi label teroris dalam konflik di Suriah. Inisiatif itu digagas oleh Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov.

Dalam konferensi pers, Sergei Lavrov berbicara pada para wartawan bahwa hanya yang disebut “oposisi patriotik” yang harus diundang untuk berpartisipasi dalam pembicaraan damai. Pembicaraan damai tersebut juga tidak boleh mengikutsertakan “orang-orang yang menyebarkan ide ekstrimis dan teroris”.

Menteri Luar Negeri Yordania, yang ditugaskan untuk mendaftar kelompok-kelompok yang akan diklasifikasikan, kemudian menyusun daftar sebagaimana yang diminta. Tetapi, akhirnya, daftar yang ia susun tidak mendapatkan dukungan, selain hanya dua kelompok, yaitu Islamic States (IS, yang juga disebut ISIS) dan Jabhat al-Nusra, yang memang sudah dimasukkan sebagai organisasi teroris oleh Dewan Keamanan PBB.

Dalam pertemuan pada Desember 2015, Nasser Judeh memberikan salinan daftar awal yang membentuk dasar untuk diskusi antara negara anggota ISSG. Yang unik, daftar tersebut juga mencantumkan kelompok sekutu pemerintah Suriah, seperti Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) atau Garda Revolusi Iran, dan milisi Kurdi YPG yang didukung AS, serta bermacam kelompok Islam, termasuk Ahrar Syam dan Jaisyul Islam, yang bertempur melawan Presiden Suriah, Bashar al-Assad.

Menanggapi daftar tersebut, Javad Zarif, Menteri Luar Negeri Iran, marah. Javad Zarif memperingatkan bahwa ia siap untuk datang dengan daftar sendiri, dan Central Intelligence Agency (CIA) akan menempati peringkat pertama dalam daftar yang dibuatnya.

Javad Zarif bukan satu-satunya orang yang mengeluhkan daftar yang dibuat Nasser Judeh. Beberapa diplomat dari Lebanon dan Irak yang hadir juga memprotes dicantumkannya partai politik Lebanon yang terkait Nabih Berri, serta milisi Asaib Ahl al-Haq, yang memiliki hubungan dengan Pasukan Quds Iran dan pemerintah Irak. Sementara Sergei Lavrov bersikeras bahwa kelompok yang memerangi pasukan Rusia di Suriah, termasuk Jaish al-Islam, harus ditambahkan ke daftar teroris.

Akhirnya, Nasser Judeh berusaha memulihkan suasana pertemuan, dan menyisihkan perdebatan tentang daftar teroris yang kontroversial. Seorang diplomat yang hadir pada pertemuan tersebut mengatakan, “Yang jelas, hanya ada sedikit konsensus tentang siapa yang merupakan organisasi teroris.” Diplomat lain menambahkan, “Semua orang setuju untuk Jabhat al-Nusra dan IS. Tapi setelah itu, sangat sedikit konsensus.”

Tentara Pembebasan Suriah (FSA) yang didukung Amerika Serikat dan sekutunya, kemungkinan akan menghadapi sedikit perlawanan untuk berpartisipasi dalam pembicaraan damai. Karenanya, dalam pertemuan itu, seorang pejabat AS menyindir Ahrar Syam dan Jaisyul Islam, dua faksi Islam bersenjata yang paling efektif melawan pasukan Assad di Suriah. Mereka juga telah bekerja sama dengan beberapa kelompok yang paling terkenal, termasuk Jabhat al-Nusra, yang membentuk koalisi anti-pemerintah bersama Ahrar Syam dan faksi-faksi Islam lainnya.

Iran dan Rusia bersikeras bahwa Ahrar Syam dan Jaisyul Islam adalah kelompok teroris. Namun Arab Saudi, Turki, dan Qatar mengatakan bahwa kedua kelompok Islam tersebut termasuk pejuang yang paling efektif dalam menghadapi rezim Suriah. Dalam pertemuan tersebut, Arab Saudi, Turki, dan Qatar juga mendesak negara-negara lain untuk tidak melupakan peran Assad dalam mengobarkan kekerasan.

Baca lanjutannya: Masalah Terorisme dan Kegagalan PBB (2)