Masalah Malware dan Software Bajakan di Indonesia

Masalah Malware dan Software Bajakan di Indonesia

BIBLIOTIKA - Indonesia menempati peringkat kedua sebagai negara yang paling banyak terkena malware di Asia Pasifik. Peringkat pertama dipegang oleh Pakistan, dan peringkat ketiga adalah Bangladesh. Kenyataan itu diungkap dalam data yang diterbitkan oleh Microsoft Malware Infection Index 2016.

Pakistan, Indonesia, dan Bangladesh, menjadi tiga besar negara yang memiliki persentase rata-rata komputer terserang malware mendekati atau lebih dari angka 40 persen. Jumlah itu sangat tinggi, dibandingkan dengan rata-rata negara lain di dunia, yang persentasenya hanya sekitar 20 persen. Sedangkan negara-negara dengan percobaan serangan malware terendah adalah Jepang, Finlandia, Norwegia, dan Swedia.

Mengapa Indonesia bisa menempati peringkat atas dalam hal serangan malware? Justisiari P. Kusumah, Sekretaris Jenderal Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan (MIAP), menjelaskan kemungkinan yang terjadi.

Ia mengatakan, “Hal ini kembali lagi karena pemakaian software bajakan. Para pengguna itu memanfaatkan key generator. Keygen (key generator) diambil dari luar negeri, dipakai di Indonesia. Otomatis yang terdeteksi IP Indonesia.”

Memilih menggunakan software bajakan mungkin terkesan lebih murah, karena selisih harganya kadang bisa sangat jauh. Tampaknya, kenyataan itu pula yang melatari banyak orang, khususnya di Indonesia, memilih software bajakan. Tetapi, rupanya, software bajakan yang tampak murah dan menguntungkan itu sebenarnya tidak benar-benar menguntungkan.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Microsoft dan Internasional Data Corporation (IDC) pada 2014, terungkap bahwa konsumen individu bisa menghabiskan USD25 miliar (Rp325 triliun), dan membuang waktu sebanyak 1,1 miliar jam untuk mengidentifikasi, memperbaiki, dan memastikan perangkat mereka sepenuhnya terbebas dari malware.

Kenyataan itu tentu menunjukkan bahwa sesuatu yang dianggap menguntungkan sebenarnya justru merugikan, karena menggunakan software bajakan membuat pengguna khawatir, dan juga rentan terhadap serangan malware atau hal lain semacamnya.

Sayangnya, di Indonesia, tingkat peredaran perangkat lunak (software) palsu tergolong tinggi, dan menempati urutan keempat, setelah tinta pencetak (49,4 persen), pakaian (38,9 persen), dan barang dari kulit (37,2 persen). Berdasarkan data yang diperoleh MIAP pada 2014, sebanyak 80 persen masyarakat Indonesia diketahui menggunakan perangkat lunak bajakan, dan 33,5 persen menggunakan perangkat lunak palsu.

Meski begitu, berdasarkan survei yang dilakukan MIAP pada dua tahun terakhir, ditemukan bahwa semakin banyak orang ingin membeli perangkat lunak asli. Pada periode 2010 sampai 2014, hampir 100 persen responden menjawab belum tentu mau membeli perangkat lunak asli. Tetapi, setelah 2014, sebanyak 38 persen menjawab ingin membeli perangkat lunak yang asli.

Temuan itu memperlihatkan terjadinya pergeseran ketertarikan, karena responden mungkin telah sadar atau mengalami sendiri kejadian yang tidak menyenangkan karena menggunakan produk palsu. Karena, bagaimana pun, menggunakan perangkat lunak yang asli memang lebih baik dan lebih aman.