Kontroversi Donald Trump dan Perang Dunia III (Bagian 2)

  Kontroversi Donald Trump dan Perang Dunia III

BIBLIOTIKA - Artikel ini lanjutan artikel sebelumnya (Kontroversi Donald Trump dan Perang Dunia III - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah artikel sebelumnya terlebih dulu.

Kenyataannya, indikasi semacam itu sudah mulai tampak, bahkan sejak sekarang. Pangeran Arab, Alwaleed Bin Talal, yang merupakan salah satu orang terkaya di dunia, menyatakan geram dengan pernyataan Trump terhadap muslim.

Sebegitu kesal, Alwaleed Bin Talal sampai menulis di Twitter, dengan menyatakan bahwa Trump adalah aib, tidak hanya bagi Partai Republik, tapi juga bagi Amerika Serikat. Alwaleed juga meminta Trump untuk menarik diri dari pencalonan presiden, yang menurut Alwaleed tidak akan pernah dimenangi Trump.

Selain Alwaleed, Akbar Al Baker, bos maskapai penerbangan Qatar Airways, juga mengancam Trump tidak akan pernah diterima di negara muslim. Kepada CNN, Akbar Al Baker menegaskan, “Saya bisa mengatakan, itu adalah reaksi saya sebagai seorang muslim. Saya tersinggung karena ini, dan terutama itu datang dari teman saya sendiri. Saya tidak menyangka dia bisa begitu naif untuk mengungkapkan pernyataan itu.”

Kecaman yang ditujukan kepada Donald Trump tidak hanya datang dari tokoh-tokoh muslim, namun juga dari orang-orang nonmuslim. Mark Zuckerberg, bos Facebook, menyatakan dalam akun resminya bahwa dia mendukung umat muslim.

Zuckerberg menulis, “Saya ingin menambahkan suara saya dalam mendukung muslim di komunitas kita dan di seluruh dunia... Sebagai pemimpin Facebook, saya ingin Anda tahu bahwa Anda selalu diterima di sini (Amerika Serikat), dan kami akan berjuang untuk melindungi hak-hak Anda.”

Selain Zuckerberg, orang terkaya dunia lain yang sama mengecam Trump adalah Jeff Bezos, pemilik perusahaan Amazon. Jeff Bezos bahkan mengaku geram kepada Trump, dan ingin mengirim Donald Trump ke luar angkasa.

Bagaimana pun, pernyataan-pernyataan Trump yang sangat rasis dan memusuhi Islam akan tertanam kuat dalam benak masyarakat muslim di dunia, dan itu bisa menjadi pemicu terjadinya jurang pemisah antara Amerika dengan negara-negara muslim. Lebih dari itu, yang paling dikhawatirkan adalah terjadinya pemusuhan yang semakin keras di antara keduanya. Karena, bagaimana pun, saat ini memang sudah tercipta konflik antara beberapa negara Islam (khususnya di wilayah Arab) dengan AS.

Negara-negara dengan mayoritas muslim seperti Iran, Qatar, Kuwait, Oman, Brunei Darussalam, Uni Emirat Arab, Bahrain, Turki, Libya, dan Saudi Arabia, saat ini telah menjadi negara-negara raksasa, karena memiliki kekayaan besar. Meski secara militer mungkin mereka tidak menonjol, namun negara-negara tersebut memiliki pengaruh besar dalam percaturan ekonomi dan politik dunia. Bahkan, sebagian negara tersebut telah memiliki tingkat keamanan setaraf negara-negara Eropa, misalnya Iran, Bahrain, Libya, dan Yordania.

Jika jurang pemisah antara Amerika dan negara-negara muslim semakin lebar, tidak mustahil akan menjadi pamantik terjadinya perang. Apalagi, selama ini sejumlah pihak sudah menyadari, bahwa kekacauan di negara-negara muslim merupakan ulah Amerika Serikat. Sebut saja di Irak, Yaman, Mesir, dan sejumlah negara Islam lainnya.

Sebenarnya, pihak yang terang-terangan tidak menyukai Donald Trump tidak hanya datang dari luar negeri. Karena dari dalam negeri sendiri, banyak orang yang tidak menyukai Trump, termasuk Barack Obama, yang saat ini sedang menjabat sebagai presiden AS. 

Selama menjadi presiden AS dalam dua periode, Barack Obama memiliki pengalaman langsung dengan dunia Islam, sehingga memahami karakter negara-negara Islam dan umat muslim. Karenanya, Obama juga tidak menginginkan Trump menjadi orang nomor satu di Amerika Serikat. Ia mengatakan, “Bukan hanya Trump, tetapi siapa pun kandidat yang bersentimen buruk atas umat Islam, pengungsi, dan berkontribusi negatif terhadap perubahan iklim, tidak akan dipilih oleh masyarakat AS.”

Pernyataan Obama itu pun akan menjadi pegangan bagi negara-negara Islam, bahwa pernyataan Trump memang telah masuk ke jantung kaum muslim. Hal itu juga menjadi kekhawatiran bagi para petinggi di berbagai negara, karena mereka menyadari bahwa jika Trump sampai menjadi presiden AS, maka hal-hal buruk bisa saja terjadi.

Jika Trump benar-benar menjadi Presiden AS, berbagai gejolak akan muncul, dari yang ringan sampai yang berat, termasuk kemungkinan pecahnya Perang Dunia III. Yang paling mengerikan, jika itu benar-benar terjadi, perang besar tersebut tidak hanya akan menjadi kobaran permusuhan antar negara, tapi juga antar agama.