Kontroversi Donald Trump dan Perang Dunia III (Bagian 1)

Kontroversi Donald Trump dan Perang Dunia III

BIBLIOTIKA - Donald Trump adalah pengusaha terkenal Amerika, yang kini mencalonkan diri sebagai presiden Amerika Serikat, melalui Partai Republik. Pemilihan presiden baru Amerika, yang rencananya akan digelar pada 8 November 2016, merupakan pilpres empat tahunan yang ke-58.

Nama Donald Trump juga mulai populer di seluruh dunia sejak ia terjun ke politik, dan bersaing dengan para calon presiden AS lainnya. Sayangnya, popularitas Donald Trump bukan popularitas yang positif, namun negatif. Hal itu tak bisa dilepaskan dari ucapan atau pernyataan bahkan tindakan-tindakannya yang kontroversial. Misalnya, saat melakukan kampanye pendahuluan, Trump selalu mengeluarkan pernyataan, yang tidak hanya berupa sindiran, namun juga kecaman dan penghinaan.

Selama kampanye berlangsung, media-media di dunia sempat mencatat beberapa pernyataan kontroversial yang dikeluarkan Donald Trump, di antaranya:

-  Melarang umat muslim datang ke Amerika
-  Memberi tanda pengenal khusus untuk orang muslim
-  Menutup seluruh masjid yang ada di Amerika Serikat
-  Mendeportasi 11 juta orang Hispanik yang tidak memiliki dokumen lengkap
-  Menghina imigran asal Meksiko
-  Menghina seorang wanita pembawa acara televisi Fox News
-  Mengusir wartawan keturunan Meksiko saat sesi wawancara sedang berlangsung
-  Mencela kandidat calon presiden Carly Fiorina saat debat kedua calon presiden
-  Mencela gaya rambut Hillary Clinton
-  Menentang dan tidak mendukung Barack Obama sebagai Presiden AS

Meski sudah cukup banyak, namun bisa jadi itu hanya sebagian pernyataan kontroversial Trump yang sempat terekam media. Tidak menutup kemungkinan masih banyak pernyataan lain yang sama kontroversial, namun luput dari media.

Dari banyaknya pernyataan kontroversial yang dikeluarkan Trump, yang paling berbahaya adalah penghinaannya kepada ras dan agama. Saat pernyataan yang bernada menghina itu keluar dari mulutnya, secara tak langsung akan dianggap telah mewakili pernyataan Partai Republik. Atau, bisa jadi akan dianggap sebagai pernyataan orang Amerika.

Dalam salah satu pernyataannya, Trump pernah mengatakan, “Begitu banyak muslim di seluruh dunia membenci Amerika Serikat, sehingga penting bagi negeri ini untuk melarang mereka (umat muslim) masuk. Sampai kita bisa memilah dan mengerti masalah ini—mengapa mereka membenci kita—bahaya ancaman itu masih nyata. Negara kita tidak bisa lagi menjadi korban penyerangan bagi mereka yang hanya mengerti soal jihad, dan tidak punya rasa hormat terhadap kemanusiaan.”

Sebelumnya, Trump juga pernah mengatakan agar semua umat muslim didaftarkan ke dalam database terpisah. Ia memaksa umat Islam membawa KTP khusus. Trump mengatakan, “Kita harus melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Sejumlah orang akan kecewa dengan hal ini, tapi saya pikir keamanan berada di pikiran dan tangan saya ketika menjadi presiden nanti.”

Tidak cukup sampai di situ, Donald Trump juga melanjutkan rencananya lebih jauh, saat mengatakan, “Amerika harus menutup sejumlah masjid di negara Paman Sam. Hal itu sebagai upaya mencegah serangan garis keras. Kita harus mengawasi dan meneliti masjid-masjid, karena banyak pembicaraan terjadi di tempat-tempat itu.”
   
Tidak hanya Islam atau umat muslim yang mennjadi sasaran tudingan, Trump juga berniat mengusir 11 juta imigram orang Hispanik yang tidak memiliki dokumen lengkap. Dalam pernyataannya yang bernada menghina, Trump mengatakan, “Untuk memerangi teroris, harus dibuat tembok tinggi yang membatasi Meksiko dengan AS. Karena mereka (orang Meksiko) mengirimkan masalah. Orang-orang Meksiko membawa obat-obatan, mereka membawa kriminal. Meski saya berasumsi ada juga orang baik.”

Sejak lama, Donald Trump memang telah dikenal sebagai sosok kontroversial yang rasis dan membenci Islam. Bahkan sebelum menjadi calon presiden AS, dia sudah sering melonarkan pernyataan-pernyataan yang menuai kontroversi, khususnya di kalangan Islam. Karena itu, saat Trump menjadi calon presiden AS, umat Islam di berbagai negara pun menatapnya dengan sinis sekaligus khawatir.

Jika Donald Trump benar-benar menjadi presiden AS, tidak mustahil dia akan benar-benar melaksanakan rencana seperti yang telah digembar-gemborkannya. Jika itu terjadi, tidak mustahil pula orang-orang Amerika yang datang ke negara lain akan menjadi korban kekerasan, sebagai tindak balasan atas penghinaan yang dilontarkan oleh Trump.

Baca lanjutannya: Kontroversi Donald Trump dan Perang Dunia III (Bagian 2)