Konspirasi Amerika dan Perang Dunia III

  Konspirasi Amerika dan Perang Dunia III

BIBLIOTIKA - Pada tahun 2009, Presiden Amerika, Barack Obama, berjanji akan menjadikan dunia bebas nuklir. Pernyataan yang terdengar sangat heroik itu dilontarkan di Praque, kota yang merupakan jantung Eropa. Banyak yang terharu dan menangis mendengar pidato Obama waktu itu, dan orang-orang pun berharap Obama benar-benar memenuhi janjinya—menghilangkan semua nuklir dari dunia—sehingga ancaman perang bisa diminimalkan.

Tidak lama setelah itu, Barack Obama mendapatkan hadiah Nobel Perdamaian.

Apakah kemudian Obama benar-benar menepati janjinya, untuk membebaskan dunia dari ancaman nuklir? Tidak. Alih-alih berusaha melakukan hal mulia itu, pemerintahan Obama bahkan membangun lebih banyak nuklir, lebih banyak senjata perang, lebih banyak sistem pengiriman senjata, dan lebih banyak pabrik nuklir. Amerika, saat ini, merupakan salah satu negara pemilik nuklir dalam jumlah terbesar.

Dibanding presiden Amerika lain atau sebelumnya, Obama bahkan menghabiskan biaya paling banyak untuk anggaran persenjataan nuklir. Sejauh ini, pemerintahan Obama telah menghabiskan 1 triliun dolar (atau sekitar 13 triliun rupiah) untuk membiayai pengembangan senjata nuklir di negaranya.

Di antara pengembangan nuklir yang dilakukan Amerika adalah menciptakan nuklir dalam bentuk mini. Yang terkenal, bernama B61 Model 12. Bom nuklir itu sangat hebat—berukuran kecil, tapi memiliki kemampuan besar dalam menghancurkan. Jenderal James Cartwright, mantan wakil kepala staf gabungan pasukan AS, memuji senjata itu dengan kata-kata, “Semakin kecil senjata nuklir, semakin masuk akal.”

Kemudian, pada 2014, Amerika Serikat mulai mengerahkan kekuatan militernya dalam jumlah besar untuk ditempatkan di Ukraina, yang bisa dibilang sebagai “halaman rumah” Rusia. CIA menggunakan Ukraina sebagai “ajang perang-perangan”. Setelah menggulingkan Kiev, Washington kemudian mengendalikan rezim di Krimea, yang bisa dibilang sebagai “pintu keluar” Rusia. Kenyataan itu pun memicu Rusia untuk merebut Krimea, dan sejak itu Krimea memisahkan diri dari Ukraina.

Upaya konspirasi yang dilakukan Amerika belum selesai. Setelah itu, Amerika mengerahkan pasukannya, termasuk tank dan senjata berat, di Latvia, Lithuania, dan Estonia. Tidak jauh beda dengan Krimea, tiga negara itu juga merupakan “pintu keluar” bagi Rusia. Langkah Amerika dengan menggelar kekuatan militer di sana merupakan provokasi ekstrem yang sungguh mengancam perdamaian dunia, tetapi media-media barat tidak ada yang meributkan.

Upaya lain yang dilakukan Amerika dalam “mengobok-obok” perdamaian dunia adalah kampanye mereka untuk melawan Cina. Admiral Harry Harris, komandan Amerika Serikat di wilayah pasifik, mengatakan bahwa Cina “membangun tembok besar di Laut Cina Selatan”.

Yang dimaksud Harry Harris dengan “tembok besar” itu adalah bangunan landasan pesawat udara di Kepulauan Spratly, yang menjadi isu sengketa Cina dengan Filipina. Sebenarnya, Filipina tidak memprioritaskan isu tersebut, namun Pentagon menekan Manila, dan membuat kampanye “kebebasan bernavigasi” untuk melawan Cina.

Tekanan Pentagon terhadap Manila tersebut merupakan upaya untuk membebaskan kapal-kapal perang Amerika untuk berpatroli dan mendominasi perairan pantai Cina. Hal semacam itu tentu wajar kalau kemudian membuat Cina marah. Bayangkan bagaimana reaksi Amerika kalau misalnya kapal-kapal perang Cina melakukan hal yang sama di perairan California. Yang lebih parah lagi, Amerika melakukan patroli kapal perangnya di Laut Cina Selatan, yang merupakan wilayah penting bagi Cina.

Langkah-langkah yang dilakukan Amerika, sebagaimana yang disebutkan di atas, hanyalah sebagian kecil dari upaya konspirasi yang mereka lakukan, dengan tujuan untuk memprovokasi peperangan. Konspirasi yang dilakukan Amerika tidak hanya berbentuk pameran kekuatan dalam militer, namun juga propaganda-propaganda yang sengaja disebarkan di berbagai negara.

Aneka isu yang terkait SARA, sebagaimana yang juga terjadi di Indonesia, disinyalir juga bagian dari konspirasi Amerika dalam upaya memecah belah dan memprovokasi peperangan. Bahkan, terbongkarnya kasus Panama Paper beberapa waktu lalu juga diyakini banyak pihak kalau itu merupakan ulah konspirasi Amerika. Dokumen Panama Paper dengan jelas menyebut keterlibatan Vladimir Putin, Presiden Rusia, namun tidak ada satu orang Amerika pun yang terlibat.