Kisah Panjang di Balik Lahirnya Hamburger McDonald (2)

 Kisah Panjang di Balik Lahirnya Hamburger McDonald

BIBLIOTIKA - Artikel ini lanjutan artikel sebelumnya (Kisah Panjang di Balik Lahirnya Hamburger McDonald 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah artikel sebelumnya terlebih dulu.

Maka didorong oleh rasa penasarannya, Ray pun bertandang ke restoran milik McDonald Bersaudara itu. Akhirnya Ray pun melihat secara langsung restoran itu untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Dan ia benar-benar kagum dan nyaris tak percaya.

Selama ia berkeliling ke banyak kota untuk menawarkan multimixernya, Ray belum pernah mendapati restoran yang seramai seperti restoran milik McDonald ini. Kawasan tempat parkir milik restoran itu padat dengan mobil dan para pelanggannya berbaris dengan berdesakan, antri di depan pelayan. Ray kroc segera ikut dalam barisan orang-orang yang antri itu, dan antrian pun bertambah panjang.

Hari itu ia mempelajari restoran milik McDonald tersebut, sekaligus mem-pelajari masakannya. Keesokan harinya, Ray menemui McDonald Bersaudara dan mengusulkan supaya diadakan suatu cabang restoran serupa di banyak tempat agar keuntungan mereka semakin berlipat-lipat, dan secara otomatis Ray bisa semakin banyak menjual multimixernya.

Tetapi usulan Ray itu ditolak. McDonald Bersaudara mengatakan bahwa mereka sudah sangat sibuk mengurusi restorannya yang satu ini dan sama sekali tak berminat untuk membuka cabang. Mereka malah menawarkan pada Ray bahwa kalau memang Ray menginginkannya, Ray bisa membuka cabang restoran mereka dengan ijin yang sah dari mereka.

Ray Kroc tak menyia-nyiakan kesempatan. Segera saja ia menyetujui tawaran itu, dan pada saat itulah Ray memperoleh hak untuk menjadikan restoran McDonald sebagai waralaba (Ray berhak mendirikan restoran McDonald seperti yang telah didirikan oleh McDonald Bersaudara, dan boleh membuat sekaligus menjual hamburger seperti hamburger mereka, dengan syarat Ray memberikan prosentase keuntungan kepada mereka dari setiap potong hamburger yang terjual).

Setelah kembali ke kotanya di Chicago, Ray Kroc segera mencari sebidang tanah untuk mendirikan restoran McDonald-nya yang pertama. Banyak kawannya yang mengatakan kalau apa yang dilakukannya itu benar-benar gila, karena mempertaruhkan hidup hanya untuk bisa menjual hamburger murah. Tetapi Ray Kroc tetap tak tergoyah dari keinginannya.

Maka restoran McDonald-nya yang pertama pun segera beroperasi. Untuk hal ini ia mengata-kan, “Di mana sih yang tidak ada risiko? Apapun yang kita lakukan selalu mengandung risiko. Dan karena ada risiko itulah kita akan merasa begitu bangga sekaligus bahagia ketika kita berhasil mencapai keinginan dari apa yang kita lakukan.”

Setahun setelah itu, tiga cabang McDonald didirikan di daerah California. Menjelang akhir tahun 1965, Ray Kroc telah mendirikan delapan buah restoran hamburger McDonald di beberapa negara bagian di Amerika.

Perjalanan yang ditempuh oleh Ray Kroc dalam mengembangkan restoran McDonald itu bukan jalan yang mulus tanpa kendala dan hambatan, namun Ray Kroc adalah seorang pemimpi yang ulet dan tekun. Begitu ia telah menancapkan tonggak impiannya, ia sedikit pun tak pernah mundur dan terus maju mewujudkan impiannya.

Perkembangan restoran McDonald terus melaju, dan Ray Kroc terus bekerja keras mengembangkannya. Bulan demi bulan terus berjalan, tahun demi tahun terus berlalu. Kerja keras Ray tidak sia-sia. Pada tahun 1988, restoran McDonald telah berdiri sebanyak 4.177 buah di Amerika dan 21 buah lagi di luar negeri.

Sejak saat itu, rangkaian kesuksesan terus berjalan. Omset penjualannya terus meningkat dan restoran-restoran McDonald baru terus didirikan di berbagai belahan dunia. Catatan terakhir mengenai omset per-tahunnya adalah sebesar 3 milyar dolar, dan sekarang diperkirakan mencapai lebih dari 4 milyar dolar!

“Saya yakin,” kata Ray Kroc, “bahwa kalau saya berpikir kecil, saya akan tetap kecil, dan saya tidak mempunyai niatan untuk tetap kecil.”

Karenanya, seperti yang tadi saya katakan, kalau saja hamburger yang kita santap di restoran McDonald itu bisa bicara, ia pasti akan bercerita tentang keuletan seorang lelaki bernama Ray Kroc, yang tahu betul, bahwa hidup ini tergantung pada bagaimana kita berpikir, dan bagaimana kita bermimpi...