Kisah Klasik Perjuangan Membebaskan Budak

Kisah Klasik Perjuangan Membebaskan Budak

BIBLIOTIKA - Suatu hari, William Lloyd Garrison punya mimpi. Lebih dari dua abad yang lalu, William Lloyd Garrison hidup di antara suatu bangsa yang menganggap perbudakan manusia sebagai suatu hal yang biasa, alami, bahkan merupakan keadaan yang diperlukan.

Tetapi William memutuskan bahwa itu adalah tindakan kriminal besar terhadap Tuhan dan umat manusia. Maka ia pun kemudian mulai bermimpi bahwa dia, seorang yang berdiri sendiri, benar-benar dapat mewujudkan perubahan yang menggemparkan itu. Ia berkata kepada dirinya sendiri di dalam impian yang mustahil itu, “Saya akan menghancurkan perbudakan di negeri ini!”

Rintangan-rintangan yang dihadapinya besar sekali. Sinode gereja menyatakan bahwa perbudakan adalah suatu hal yang telah ditakdirkan oleh Tuhan. Negarawan-negarawan terkemuka menandaskan bahwa seluruh struktur negeri itu bergantung pada perbudakan.

Begitulah status perbudakan di Amerika Serikat yang secara ekonomis diberkati, baik oleh Bagian Utara maupun Bagian Selatannya ketika William Lloyd Garrison berani bermimpi tentang pembebasan budak.

Tetapi dengan luapan semangat yang luar biasa, ia pun menempati impiannya telah menjadi suatu ‘palu’ yang digunakan untuk menghantam batu karang perbudakan. Orang-orang mengejek dan tertawa, tetapi dari tahun ke tahun William terus menghantamkan palu semangatnya sehingga palu itu berubah menjadi godam yang sangat kuat, yang gemuruhnya bergema di seluruh negeri.

Akhirnya, muncullah retak di dalam karang kokoh perbudakan, dan fakta yang menggetarkan hati adalah bahwa akhirnya perbudakan dinyatakan dilarang berdasarkan hukum di Amerika Serikat.

Lalu seratus tahun kemudian, ketika Martin Luther King berbicara tentang dunia dimana masih terdapat sisa-sisa rasisme dan pra-anggapan yang perlu dihapuskan, ia pun mengatakan, “Saya punya mimpi…”

Umpama kepadamu diberikan sebuah pena dengan tinta yang terbatas, dan kamu tak mampu melihat seberapa banyak tinta di dalamnya, apa yang akan kamu perbuat dengan pena itu? Apakah kamu akan menggunakannya untuk menulis, untuk menggambar, atau sekedar untuk mencorat-coret garis? Atau, mungkin kamu malah akan menyimpannya saja di dalam laci atau kotak?

Memang, tidak ada peraturan yang mengatakan bahwa kamu wajib menggunakan pena itu. Jadi pilihanmu terhadap pena itu adalah hak mutlak milikmu. Kamu boleh menggunakannya untuk menulis karya-karya besar yang akan dikenang sepanjang masa, bahkan setelah kamu meninggalkan dunia ini.

Kamu juga boleh menggunakannya untuk menulis catatan-catatan pribadimu yang hanya akan kamu baca dan kamu nikmati seorang diri. Juga, kamu boleh menggunakannya untuk melukis gambar-gambar indah yang mempesonakan, atau, kamu juga bisa menggunakan pena itu untuk membuat garis-garis statistik hasil penelitianmu yang tentu akan bermanfaat bagi kehidupan, baik kehidupanmu pribadi maupun kehidupan orang lain.

Sekali lagi, semuanya terserah kamu. Kamu berhak untuk menggunakan pena itu, kamu juga berhak untuk tidak menggunakan pena itu. Bahkan, kamu pun punya hak sepenuhnya untuk membuang pena itu ke tempat sampah. Satu saja hal yang perlu kamu ingat, bahwa kamu telah diberikan sebuah pena, dan kamu punya hak mutlak untuk menggunakannya, atau untuk tidak meng-gunakannya.

Nah, umpama sekarang kamu telah diberi sesuatu bernama hidup…