Kisah Kegagalan dan Kesuksesan Thomas Edison

 Kisah Kegagalan dan Kesuksesan Thomas Edison

BIBLIOTIKA - Suatu hari, Thomas Alfa Edison punya mimpi. Ia membayangkan bahwa kehidupan akan lebih indah kalau saja malam yang gelap bisa menjadi terang dengan adanya sebuah lampu pijar. Mimpinya ini jelas saja ditertawakan oleh orang-orang di sekelilingnya, karena selama ini mereka sudah terbiasa menyalakan lampu teplok atau kayu bakar untuk menerangi kegelapan malam.

Tapi… Thomas Alfa Edison telah menaburkan impiannya! Ia mulai menyusun teori-teori. Pikirannya terus saja membayangkan sebuah lampu pijar yang bisa menyala dengan energi listrik. Mustahil? Edison tidak mau pikirannya terbelenggu oleh lingkungannya yang mengkondisikan ia agar tidak bermimpi yang ‘macam-macam’. Ia yakin bahwa apa yang dicarinya itu akan mewujud menjadi kenyataan.

Dengan dibantu oleh sahabat-sahabat dekatnya yang memiliki persamaan visi, Thomas Alfa Edison memulai riset dan penelitian di laboratoriumnya yang sangat sederhana. Siang malam mereka bekerja, mengerahkan segala kekuatan dan daya pikir untuk mewujudkan impian Edison. Detik-detik penelitian di laboratorium itu menjadi menit-menit yang melelahkan.

Dan menit-menit yang melelahkan itu pun terus berlalu, jam demi jam, hari berganti hari, minggu berganti minggu, sampai berbulan-bulan. Tahun-tahun pun berganti dan Edison beserta sahabat-sahabatnya tidak patah semangat. Waktu itu mereka telah hampir berhasil mewujudkan impian tentang bola lampu pijar. Persoalannya hanya mereka belum menemukan suatu bahan bernama filamen (sumbu) yang tepat untuk menyalakan lampu pijar.

Berbagai macam bahan filamen diuji, diteliti dan dicobakan. Tapi setiap kali dipasang di bola lampu, filamen itu langsung terbakar. Beberapa orang mulai putus asa. Satu-persatu mereka mulai mengundurkan diri dari penelitian itu. Tapi Edison tak patah semangat. Ia terus-menerus membesarkan hatinya bahwa ia pasti akan berhasil mewujudkan impiannya.

Sampai kemudian, bahan filamen yang diujicobakan telah mencapai jumlah 997 buah. Ini benar-benar membuat orang-orang yang membantu Edison menjadi frustrasi. Mereka sudah tidak punya kekuatan untuk meneruskan penelitian lagi. Mereka pun angkat tangan.

“Cukup, saya kira penelitian ini sebaiknya dihentikan saja. Impianmu itu sulit untuk terwujud, Edison. Kita bahkan telah gagal sampai 997 kali! Ini benar-benar jumlah kegagalan paling luar biasa sepanjang penelitian kami. Apakah kau mau gagal seribu kali?”

Thomas Alfa Edison, dengan segala ketabahannya, mencoba membujuk dan mengajak orang-orangnya untuk berjiwa besar menghadapi kegagalan ini. Katanya, “Kita bukan gagal 997 kali. Kita justru telah berhasil menemukan 997 bahan yang tidak bisa menyalakan lampu pijar!” (Luar biasa kan?) “Karena itu, mari lanjutkan penelitian!”

Dan benar saja. Ketika mereka kembali melakukan penelitian, ‘mukjizat’ pun terjadi. Tepat pada waktu penelitian keseribu, filamen yang diujicobakan mampu membuat lampu pijar menyala! Impian terindah Thomas Alfa Edison pun menjadi kenyataan!

Bayangkan, kalau saja Edison terbujuk oleh kawan-kawannya untuk menghentikan penelitian, apa yang akan terjadi? Padahal waktu itu mereka tinggal melakukan tiga penelitian lagi untuk berhasil. Dari sinilah kemudian Thomas Alfa Edison menyampaikan sebuah kalimat bijak tentang filsafat kesuksesan, bahwa, “Semakin banyak kita mengalami kegagalan, artinya semakin dekatlah kita pada keberhasilan!”