Kisah di Balik Novel dan Film “Eiffel... I’m in Love”

Kisah di Balik Novel dan Film “Eiffel... I’m in Love”

BIBLIOTIKA - Suatu hari, Rahmania Arunita punya mimpi. Cewek remaja kelahiran 30 Juli 1985 ini bermimpi ingin membuat sebuah novel remaja yang bisa dibaca oleh remaja dengan asyik dan tak membosankan. Ia menginginkan sebuah novel yang bahasanya mengalir dengan dialog-dialog yang wajar. Pokoknya, ia mengimpikan untuk bisa menulis sebuah novel yang ‘remaja banget’!

Maka Rahmania pun mulai menuliskan impiannya. Pada bulan Oktober tahun 2000, saat ia berusia 15 tahun, Rahmania mengerjakan novelnya selama lebih dari enam bulan. Panjangnya waktu ini karena dia juga harus membagi waktunya dengan jadwal kegiatan sekolahnya.

Setelah novel yang diimpikannya itu telah selesai, Rahmania meminta komentar teman-temannya mengenai novel yang telah ditulisnya itu. Dari situlah kemudian, naskah novel di atas kertas HVS itu menyebar dari satu tangan ke tangan yang lain di lingkungan sekolah Rahmania. Teman-temannya kemudian banyak yang minta difotokopikan karena mereka sangat suka dengan kisah dalam novel itu.

Maka begitulah, Nia pun dengan rela memfotokopikan novel karyanya itu agar teman-temannya bisa memilikinya. Karena semakin banyak yang meminta, maka Rahmania pun punya ide untuk menjual naskah fotokopian naskah itu.

Awalnya, hanya ada 19 orang yang memesan fotokopian itu, tapi kemudian berkembang menjadi 30 orang. Dan mungkin karena isi cerita yang ditulisnya itu memang bagus, orang-orang yang memesannya pun semakin banyak. Rahmania pun kemudian mulai mendandani naskah fotokopian novelnya dengan dijilid spiral dengan sampul kertas yang lembut.

Dengan kondisi yang amat sangat sederhana itu, novel karya Rahmania terjual sampai 150 eksemplar di seluruh Jakarta.

Cewek yang suka menulis ini pun kemudian memberanikan diri untuk meminjam uang kepada ayahnya untuk membiayai pencetakan naskah novelnya. Ayahnya meminjaminya sebesar 3,5 juta. Dengan uang yang cukup minim itu, Rahmania pun kemudian berhasil mencetak novelnya sebanyak 500 eksemplar dengan mutu cetakan yang sama minimnya.

Ia kemudian menitipkan novel-novel karyanya itu ke toko-toko buku yang dekat dengan rumahnya dengan harga Rp. 25.000,-. Kurang dari tiga minggu, novel ini telah terjual di atas angka 100 eksemplar. Tak heran kalau kemudian beberapa minggu kemudian, toko buku-toko buku yang dititipi novel ini pun segera minta tambahan stok.

Novel ini kemudian sampai di tangan seorang sutradara film bernama Surbakti. Dia memperoleh satu kopi novel ini, dan ketika beristirahat di sela-sela kegiatan syutingnya, dia pun membaca novel itu. Sang sutradara merasa tertarik dengan isi novel tersebut yang begitu renyah dan asyik untuk dibaca, dan ia pun kemudian mengirimkan email ke penulisnya, yang berisi tawaran kerjasama untuk memfilmkan naskah novelnya itu.

Rahmania waktu itu kebetulan masih ada di warnet, dan ketika ia membuka emailnya, ia mendapati sebuah email yang berisi tawaran kerjasama untuk memfilmkan naskah novelnya. Tawaran bagus itu tak disia-siakan, dan Rahmania pun menerimanya. Ia bahkan kemudian diminta untuk sekaligus menuliskan naskah skenarionya. Meski agak takut karena belum pernah menulis skenario, cewek ini pun akhirnya nekat juga menerima tantangan itu.

Dan begitulah. Selama enam bulan kemudian, Rahmania menuliskan skenario bagi naskah novelnya yang akan difilmkan itu, sementara sang sutradara dan Soraya Intercine Film (pihak yang akan memfilmkan naskah novel itu) mulai merekrut artis-artis yang akan dijadikan pemeran film itu.

Saat film itu kemudian beredar, film itu benar-benar menjadi sebuah bom yang luar biasa dahsyat yang mengguncang jutaan remaja di seluruh Indonesia! Pada hari pertamanya saja, film ini telah ditonton oleh lebih dari delapan ribu orang. Suatu rekor untuk sebuah film Indonesia! Kamu pasti tahu atau bahkan pernah nonton film yang heboh ini. Iya, judul film yang diangkat dari sebuah novel karya Rahmania ini berjudul ‘Eiffel... I’m in Love’.

“Ini semua emang berawal dari impian,” kata Rahmania Arunita saat diwawancarai oleh sebuah tabloid remaja. “Saya pernah naksir sama cowok, namanya Adit. Saya nulis novel ‘Eiffel... I’m in Love’ ini buat dia. Namanya saya pinjam juga buat tokoh di novel ini,” ceritanya sambil menyembunyikan wajah malunya.