Keajaiban Kerja Keras dan Ketekunan (4)

Keajaiban Kerja Keras dan Ketekunan

BIBLIOTIKA - Artikel ini lanjutan artikel sebelumnya (Keajaiban Kerja Keras dan Ketekunan 3). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah artikel sebelumnya terlebih dulu.

Dalam perjalanan untuk makan siang, mereka melewati gerai es krim, dan Dr. Russ menawarinya, “Kamu mau es krim?”

Rick mengangguk. Namun ia begitu gugup dan gelisah. Begitu gugup dan gelisahnya sampai ia tanpa sengaja mematahkan wadah es krim di tangannya hingga krim coklat es itu berleleran di antara jari-jari tangannya. Dengan panik dan sembunyi-sembunyi sebelum Dr. Russ melihatnya, ia mencoba mengibas-ngibaskan tangannya untuk menghilangkan leleran es krim itu. Tapi Dr. Russ terlanjur melihatnya dan ia tertawa terbahak-bahak. Ia kembali ke gerai es krim dan membawakan setumpuk kertas lap.

Rick naik ke mobil Dr. Russ dengan wajah yang merah dan murung. Bagaimana ia bisa meminta bantuan bagi pembiayaan program pendidikan baru yang tengah digagasnya jika ia sendiri tak mampu memegang sebuah wadah es krim dengan benar?

Setelah makan siang, Rick pun menceritakan semua impiannya kepada Dr. Russ Mawby. Ia mengatakan bahwa proyek yang tengah digagasnya itu sebenarnya bisa segera berjalan, namun ia terbentur pada masalah kekurangan dana. Menurut perhitungannya, kekurangan dana yang dibutuhkan itu sebesar 55.000 dolar. Dr. Russ hanya diam dan sesekali mengangguk, dan di akhir pertemuan itu, ia hanya menjanjikan untuk mencoba membantunya.

Dua minggu kemudian, Dr. Russ Mawby menelepon. “Rick, dua minggu yang lalu kamu meminta bantuan dana 55.000 dolar. Kami merasa menyesal, karena dewan komisaris menolaknya.”

Rick merasa air matanya siap untuk jebol keluar. Ia merasa semua perjuangan dan pengorbanannya selama dua tahun ini hanya sia-sia. Ternyata impiannya hanya tinggal impian...

“Tetapi,” lanjut Dr. Russ, “Dewan Komisaris benar-benar dengan sepakat bulat memutuskan untuk memberimu 130.000 dolar...”

Kali ini air mata Rick pun jatuh berlinangan. Rick bahkan nyaris tidak sanggup mengucapkan terima kasih dengan terbata-bata.

Semenjak itu, dengan cita-citanya yang begitu luhur, Rick Little telah mengumpulkan uang lebih dari seratus juta dolar untuk membiayai impian-nya. Kursus yang diimpikannya itu kini telah terwujud dan terkenal di seluruh dunia dengan nama The Quest Skills Program.

Program itu saat ini telah diajarkan di lebih dari 30.000 sekolah di semua negara Amerika Serikat dan di 32 negara lain di dunia. Jutaan anak tiap tahun diajari ketrampilan-ketrampilan yang penting untuk hidup mereka, lantaran seorang anak berusia sembilan belas tahun berani bermimpi untuk mewujudkan impiannya dan bekerja dengan tekun demi impian itu.

Pada tahun 1989, karena sukses luar biasa yang diraih oleh The Quest Skills Program, Rick pun memperoleh bantuan hibah sebesar 65.000.000 dolar, suatu nilai hibah terbesar kedua yang pernah diberikan dalam sejarah Amerika Serikat, untuk mendirikan The International Youth Foundation. Tujuan yayasan ini adalah untuk mengidentifikasi dan menyebarluaskan program-program kepemudaan ke seantero dunia.

Hari-hari ini, ketika sekolah-sekolah di Indonesia mulai mengajarkan apa yang disebut sebagai KBK atau Kurikulum Berbasis Kompetensi, saya selalu teringat kepada Rick Little dan impiannya. Kehidupan Rick Little adalah sebuah kesaksian terhadap kekuatan yang dimiliki sebuah komitmen terhadap suatu cita-cita yang tinggi, impian yang dibarengi oleh kemauan keras dan ketekunan yang luar biasa.