Keajaiban Kerja Keras dan Ketekunan (3)

Keajaiban Kerja Keras dan Ketekunan

BIBLIOTIKA - Artikel ini lanjutan artikel sebelumnya (Keajaiban Kerja Keras dan Ketekunan 2). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah artikel sebelumnya terlebih dulu.

Kunjungan pertamanya ke sebuah kantor yayasan setempat hanya meng-hadirkan kekecewaan besar. Ketika berjalan memasuki kantor itu, Rick benar-benar gemetaran. Wakil direktur yayasan itu adalah seorang laki-laki besar berambut hitam dengan wajah yang keras dan dingin.

Selama setengah jam ia duduk tanpa mengucapkan kata-kata apapun, sementara Rick menumpahkan semua isi hatinya tentang kecelakaan yang menimpanya, tentang ibunya, tentang dua ribu anak SMA yang telah diwawancarainya, juga tentang rencananya untuk membangun suatu kursus yang lebih bermanfaat bagi anak-anak SMA.

Ketika Rick selesai berbicara, wakil direktur itu membuka setumpuk map. “Nak,” ia berkata, “aku telah ada di sini selama hampir dua puluh tahun. Yayasan ini telah membiayai semua program dalam seluruh map ini. Dan mereka semua gagal total! Programmu ini juga pasti akan demikian. Kamu tahu mengapa? Jelas! Karena kamu baru dua puluh tahun, kamu tidak punya pengalaman, tidak punya uang, tidak punya gelar, kamu tidak punya apa-apa!”

Ketika meninggalkan kantor yayasan itu, Rick bersumpah untuk mem-buktikan kekeliruan laki-laki itu. Rick memulai kembali mempelajari soal yayasan-yayasan mana yang kira-kira akan tertarik pada pendanaan proyek-proyek untuk anak-anak SMA seperti yang tengah digagasnya itu.

Ia menghabiskan waktu sampai berbulan-bulan untuk menulis proposal per-mohonan bantuan, masing-masing dengan cermat disesuaikan dengan minat dan persyaratan masing-masing yayasan. Proposal-proposal itu kemudian dikirimkan dengan harapan besar, namun semuanya kembali dengan penolakan.

Proposal demi proposal terus dikirim namun terus ditolak. Akhirnya, setelah proposal permintaan bantuan dana yang ke-155 ditolak juga, semua kawan yang mendukung Rick pun mulai menarik diri. Keluarganya mulai menuntut agar ia kembali bersekolah, dan orang-orang yang selama ini telah ikut membantunya pun mulai angkat tangan. Rick mulai dilanda kepanikan.

Namun ketekunannya selama ini telah menjadikan pribadinya sedemikian kuat. Ia tak mudah goyah dengan semuanya itu. Yang ia lakukan kemudian adalah kembali mempelajari yayasan-yayasan yang bisa dimintainya bantuan, karena hanya lewat yayasanlah ia berpikir bisa mengharapkan bantuan. Namun... semua yayasan itu telah menolaknya, kecuali tinggal satu, yakni Kellogg Foundation (Yayasan Kellogg).

Kini Rick tinggal mempunyai satu kesempatan terakhir. Digerakkan oleh kenekatan sekaligus keyakinan, ia menyelinap ke dalam sebuah kantor sebuah yayasan yang besar. Ia belum membuat janji dengan direkturnya, dan ia melangkahi beberapa sekretaris yang biasanya menghadang setiap tamu yang belum memiliki janji. Rick merasa sudah tak sabar lagi.

Ketika ia sampai di depan kantor direktur yayasan itu, bertepatan dengan Presiden Direktur yayasan itu yang akan keluar untuk makan siang. Dr. Russ Mawby, Presiden Direktur yayasan itu, menyapa dengan bingung saat melihat seorang remaja ada di depan pintu kantornya. Rick mencoba menjelaskannya, namun ia merasa sangat gugup. Akhirnya, mungkin karena tak sabar, Dr. Russ pun mengajaknya untuk ikut makan siang.

Baca lanjutannya: Keajaiban Kerja Keras dan Ketekunan (4)