Keajaiban Kerja Keras dan Ketekunan (2)

  Keajaiban Kerja Keras dan Ketekunan

BIBLIOTIKA - Artikel ini lanjutan artikel sebelumnya (Keajaiban Kerja Keras dan Ketekunan 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah artikel sebelumnya terlebih dulu.

Pada bulan-bulan berikutnya, Rick Little mulai merancang gagasan dan impiannya. Ia mengimpikan tentang sebuah kursus yang akan melengkapi para pelajar dengan harga diri yang tinggi, seni bergaul dan kecakapan dalam manajemen konflik, serta kesiapan mental dalam menghadapi cobaan hidup.

Ketika ia tengah berpikir tentang hal itu, secara kebetulan ia menemukan selebaran hasil studi National Institute of Education yang menyebutkan tentang seribu orang berusia tiga puluhan yang ditanya mengenai apakah mereka merasa pendidikan SMA mereka telah memperlengkapi mereka dengan ketrampilan-ketrampilan untuk menghadapi dunia nyata. Lebih dari 80 persen dari mereka menjawab, “Tidak”.

Orang-orang berusia tiga puluhan tahun ini juga ditanyai tentang ketrampilan-ketrampilan apa yang semestinya pernah mereka pelajari. Jawaban terbanyak adalah seni bergaul; bagaimana bergaul dengan lebih baik dengan orang-orang yang hidup bersama kita, bagaimana menemukan dan mempertahankan pekerjaan kita, bagaimana memahami pertumbuhan normal seorang anak, bagaimana mengelola urusan keuangan, juga bagaimana menangkap makna kehidupan.

Didorong oleh impiannya untuk menciptakan suatu kursus yang dapat mengajarkan hal-hal ini, Rick pun nekat keluar dari sekolahnya dan pergi menjelajahi negerinya untuk mewawancarai pelajar-pelajar SMA. Dalam penelitiannya untuk mengetahui apa yang sebaiknya dimuat dalam kursus yang digagasnya itu, ia pun membuat dua pertanyaan yang ia tanyakan kepada dua ribu murid di 120  SMA. Inilah dua pertanyaan itu:

Jika kamu mau membuat suatu program untuk SMA kamu untuk membantumu menghadapi apa yang kamu hadapi sekarang dan apa yang kamu duga akan kamu temui di masa yang akan datang, apa kira-kira isi program tersebut?

Daftarlah sepuluh masalah yang paling besar dalam kehidupanmu di rumah dan di sekolah yang kamu harapkan dapat kamu atasi dengan lebih baik.

Semua murid itu, baik yang berasal dari sekolah swasta maupun negeri, kaya maupun miskin, dari daerah pedesaan maupun dari kawasan perkotaan, secara mengejutkan memberikan jawaban-jawaban yang tak jauh berbeda. Kesepian dan kebencian terhadap diri sendiri menduduki puncak daftar masalah itu. Selain itu, daftar ketrampilan-ketrampilan yang semestinya pernah diajarkan kepada mereka sama dengan daftar yang disusun oleh orang-orang berusia tiga puluhan tahun dalam studi yang dulu itu.

Selama dalam penelitiannya itu, Rick tidur di mobilnya karena ia tak punya cukup uang untuk membayar sewa penginapan. Di sakunya hanya ada uang beberapa dolar, dan ia seringkali hanya makan sedikit biskuit untuk mengganjal perutnya setelah seharian berkeliling dari satu sekolah ke sekolah lain. Kadangkala ia bahkan tidak makan apapun. Ia memang miskin, namun ia begitu tekun mengejar impiannya.

Langkah yang kemudian dilakukannya adalah menyusun daftar nama-nama pendidik dan tokoh-tokoh ternama di negerinya dalam konseling dan psikologi. Ia merencanakan untuk menghubungi orang-orang itu untuk men-dapatkan bantuan mereka dengan keahlian dan dukungan mereka.

Ketika menemui para pendidik dan tokoh-tokoh itu, Rick hanya mem-peroleh senyuman. Mereka, orang-orang yang ditemuinya itu memang terkesan dengan apa yang tengah diperjuangkan oleh Rick, namun mereka hanya menawarkan pertolongan yang tak berarti.

“Kamu masih terlalu muda,” kata orang-orang yang ditemuinya itu. “Kembalilah ke bangku sekolah. Selesaikan pendidikanmu, lalu masuklah ke Perguruan Tinggi. Di sanalah kamu baru dapat memperjuangkan ini.” Mereka sama sekali tidak memberikan dorongan.

Namun Rick tetap teguh dalam pendiriannya. Ia kemudian berpikir bahwa untuk bisa mewujudkan impiannya membuka kursus bagi anak-anak SMA itu, ia sendirilah yang harus membiayainya.

Maka, saat ia menjelang usia dua puluh tahun, ia nekat menjual mobil milik keluarganya, pakaian-pakaiannya, dan meminjam uang dari teman-temannya. Ia menanggung hutang sebesar 32.000 dolar AS. Itu jumlah yang besar, namun belum mencukupi. Seorang kawannya kemudian menyarankannya untuk pergi ke kantor suatu yayasan untuk meminta bantuan dana.

Baca lanjutannya: Keajaiban Kerja Keras dan Ketekunan (3)