Keajaiban Kerja Keras dan Ketekunan (1)

Keajaiban Kerja Keras dan Ketekunan

BIBLIOTIKA - Artikel ini lanjutan artikel sebelumnya (Belajar Tanpa Henti, Belajar Tanpa Usai). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah artikel sebelumnya terlebih dulu.

Ini merupakan lanjutan langkah sebelumnya; tidak berhenti belajar. Langkah kali ini mengharuskan kerja keras dan ketekunan. Impian yang ditunjang dengan proses pembelajaran secara terus-menerus dan kerja keras yang tekun akan menghasilkan aktualitas, kemudian realitas. Kamu tidak bisa melepaskan satu di antara dua hal itu, karena proses pembelajaran dan ketekunan adalah mata rantai yang saling berkait. Kalau proses pembelajaran adalah proses mengasah pisau (bakat), maka proses kerja keras dan ketekunan adalah proses menggunakan pisau (bakat).

Proses pembelajaran lebih mengarah ke dalam; pengembangan pribadi dan penguatan potensi, sementara proses kerja keras mulai mengarah keluar; mengaktualisasikan segala yang telah dipelajari. Tapi kerja keras saja tidak pernah cukup, karena ada unsur lain yang harus menunjang untuk tercapai-nya impian, yaitu ketekunan.

Berapa banyak orang-orang yang kita kenal begitu keras dalam bekerjanya namun hidupnya tak pernah berubah? Berapa banyak orang-orang yang seolah kehabisan waktu hanya untuk bekerja namun kehidupannya tak pernah memperoleh peningkatan?

Mereka mungkin bekerja keras, namun tidak fokus. Dan untuk fokus inilah dibutuhkan ketekunan. Orang-orang ini hanya sibuk bekerja keras, namun kerja kerasnya tidak terfokus. Impian hanya terwujud bagi orang-orang yang fokus pada apa yang dikerjakannya. Lagi-lagi kata David J. Scwartz, “Yang jadi persoalan bukan berapa banyak yang kamu kerjakan, tapi apa yang kamu kerjakan.”

Ingat ini, impian membutuhkan fokusnya pikiran, fokusnya pikiran membutuhkan ketekunan, dan ketekunan membutuhkan kerja keras. Kalau kamu mampu mensinergikan tiga hal ini (fokus, tekun dan kerja keras) dalam upaya meraih impianmu untuk terwujud dalam hidup, kamu boleh yakin impian itu akan segera terwujud. Karena hal ini pulalah yang dilakukan oleh Rick Little, seorang cowok yang masih duduk di bangku SMA yang bermimpi ingin mengubah sistem pendidikan di negaranya.

Mustahil? Tidak mungkin? Buktinya cowok ini berhasil mewujudkannya!

Di dunia ini ada sekian banyak profesor, sekian banyak doktor dan orang-orang hebat bergelar macam-macam yang juga memiliki impian sama seperti Rick Little. Namun mereka tak pernah berhasil. Mengapa? Jawabannya sama; mereka tidak fokus dan tekun, sementara Rick Little begitu fokus dan tekun dalam kerja kerasnya mewujudkan impiannya.

Inilah kisah selengkapnya...

Suatu pagi saat hari masih subuh, Rick tertidur di dalam mobilnya yang masih melaju. Mobil itu meluncur dengan cepat, dan melewati jalan yang menurun. Rick tidak sadar pada bahaya yang tengah mengancamnya.

Ia masih tertidur ketika mobil yang ditumpanginya itu kemudian menabrak pohon, dan tubuhnya terjepit di dalamnya. Punggungnya patah dan ia pun masuk rumah sakit selama enam bulan untuk perawatan. Selama meringkuk di rumah sakit selama setengah tahun itu, Rick banyak menghabiskan waktunya untuk merenung.

Ia tahu bahwa tragedi yang dihadapinya ini adalah sebuah tragedi yang besar bagi anak seusianya, namun sistem pendidikan di sekolahnya tidak pernah mengajari mengenai hal ini; bagai-mana harus menghadapinya, bagaimana mempersiapkan emosi dan mentalnya untuk menghadapi tragedi yang bisa datang sewaktu-waktu.

Sebagai seorang murid SMA, Rick merasa bahwa apa yang selama ini telah diperolehnya di bangku sekolah sama sekali tak berguna untuk menghadapi hal-hal semacam ini. Rick berpikir, alangkah bagusnya jika di sekolah juga ada pelajaran tentang mempersiapkan mental dan emosi untuk menghadapi segala macam cobaan dalam hidup...

Saat pulang kembali ke rumahnya setelah selesai menjalani perawatannya di rumah sakit, dua minggu kemudian Rick pulang ke rumah malam hari dan mendapati ibunya tengah tergeletak tak sadar di lantai karena mencoba bunuh diri dengan pil tidur yang melebihi dosis. Rick sekali lagi terbentur pada soal memadainya pendidikan formalnya selama ini untuk menghadapi masalah-masalah sosial dan emosional dalam kehidupannya.

Baca lanjutannya: Keajaiban Kerja Keras dan Ketekunan (2)