Belajar Tanpa Henti, Belajar Tanpa Usai (2)

 Belajar Tanpa Henti, Belajar Tanpa Usai

BIBLIOTIKA - Artikel ini lanjutan artikel sebelumnya (Belajar Tanpa Henti, Belajar Tanpa Usai 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah artikel sebelumnya terlebih dulu.

Michael bahkan bisa membayangkan bagaimana rupa burung itu, warnanya, keindahannya, dan betapa menakjubkannya membayangkan ia menukik dari atas, dan kemudian terbang lagi menembus awan. Michael kemudian ingin bisa seperti burung-burung itu. Setiap ada kesempatan ia berlari-lari di jalanan desanya.

Ia dapat merasakan gumpalan batu dan gundukan tanah di kakinya. Dan saat melaju di padang tanaman gandum yang dilintasi rel kereta api, Michael selalu berusaha berlari lebih cepat dari laju lokomotif yang lewat. Di saat-saat itu, ia merasakan seolah tengah terbang seperti burung-burung yang biasa diceritakan ibunya setiap malam.

Keinginan untuk bisa terbang ini kemudian menjadi sebuah impian. Saat ia menyatakan impiannya ini kepada ibunya, sang ibu tersenyum dengan penuh cinta. Namun ayahnya dengan realistis menjawab, “Kalau itu keinginanmu, kamu harus berusaha!”

Dan itulah yang kemudian dilakukan oleh Michael yang buta ini. Pada usia 14 tahun, ia mulai mengikuti program angkat beban yang sangat hati-hati dan sistematis. Ia melakukan olahraga dua hari sekali dengan beban, diselingi dengan olahraga lari pada hari berikutnya. Program itu dipantau oleh pelatih, penggembleng dan ayahnya sendiri.

Semua latihan dan usaha keras itu dilakukan Michael untuk mewujudkan impiannya, yakni terbang di udara, dan sarana untuk terbang itu adalah dengan memenangkan olimpiade lompat galah.

Michael tahu, bahwa jika ia bisa melompat dengan bagus dan indah melewati palang halangan, melompat lebih tinggi dari siapapun, ia akan merasakan dirinya terbang, sekaligus memenangkan kejuaraan olimpiade itu. Dan Michael sudah bertekad untuk mewujudkan impiannya itu! Pengabdian, ketekunan, disiplin dan keteguhan hati yang dimiliki oleh Michael itu begitu disukai oleh pelatihnya, dan ia pun begitu bersuka hati menggembleng anak yang luar biasa ini.

Selepas berlatih dengan keras dan tekun, biasanya Michael kemudian membantu orang tuanya di peternakan mereka. Ibunya terus memberikan cinta kasihnya, sementara ayahnya terus mendorong dan memberikan semangat kepadanya. “Kalau kamu bisa melompati palang-palang itu dengan baik, kamu akan merasakan dirimu terbang,” kata ayahnya.

Maka begitulah, dengan tekun dan tak putus asa, Michael terus-menerus berlatih. Angkat berat, lari, lompat, push up, dan latihan-latihan lain yang seolah telah menjadi makanan sehari-harinya. Dan ia melakukan semuanya itu dengan keadaan buta, tak dapat melihat apa-apa. Ia hanya melihat impiannya, ia hanya melihat keteguhan hatinya!

Sampai kemudian hari itu pun tiba. Di depannya kini telah berdiri palang loncat setinggi 17 kaki. Michael tak bisa melihatnya, namun ia bisa merasakan-nya. Begitu ia mendarat di matras yang menggelembung, penonton pun meloncat berdiri dan Michael pun sudah bersiap untuk lompatan yang keduanya. Galah loncat dinaikkan. Palang dipasang 23 cm lebih tinggi.

Dengan hati sedikit berdebar, ia mengambil sikap untuk segera berlari menuju papan loncat, sementara seluruh stadion terasa hening. Dua puluh ribu orang yang duduk di sekeliling stadion itu tercekam oleh suasana yang sesaat lagi akan mereka saksikan.

Michael bersiap-siap. Kesunyian terasa memekakkan telinganya. Dan ketika sayup-sayup ia mendengar kicauan burung-burung yang tengah terbang, ia tahu bahwa kinilah saatnya untuk terbang seperti yang selama ini diimpikannya. Ia mulai berlari di jalur, dan ia merasakan batu dan gumpalan tanah serta bayangan padang gandum seperti yang selama ini ia hayati.

Dan saat kemudian ia melompat ke atas galah, keinginan itu pun terjadi. Ia merasa dirinya tengah terbang. Begitu mudah, begitu indah. Michael Stone sekarang sedang terbang, persis seperti mimpi masa kecilnya. Hanya saja kali ini ia tidak bermimpi. Ini kenyataan. Udara di sekitarnya semurni dan sesegar yang pernah dirasakannya. Michael mengangkasa di udara, ia telah berasil terbang seperti yang diimpikannya...

Saat kemudian ia jatuh terlentang di atas matras, dan merasakan hangat-nya sinar matahari yang menghangati wajahnya, ia tahu bahwa ia telah berhasil. Dua puluh ribu penonton meledak dalam sorak-sorai, dan Michael tahu bahwa ayah dan ibunya ada di antara mereka. Yang tidak ia tahu adalah bahwa ayah dan ibunya saat itu tengah saling memeluk sambil menangis, menitikkan air mata kebanggaan. Anaknya yang baru berusia 17 tahun dan menderita buta itu telah melakukan suatu hal yang nyaris mustahil...

Michael langsung dikelilingi orang-orang yang memeluk dan memberinya selamat atas prestasi terbesar dalam hidupnya itu. Dan beberapa waktu kemudian, ia pun berhasil melompati galah setinggi 535 cm; rekor nasional dan rekor Olimpiade Junior Internasional. Saat prestasi hebat itu terjadi, Michael pun tahu bahwa proses pembelajaran dan proses kerja kerasnya dalam latihannya selama ini tidaklah sia-sia...

Ingat ini; sukses adalah proses pembelajaran yang terus-menerus!