Belajar Tanpa Henti, Belajar Tanpa Usai (1)

Belajar Tanpa Henti, Belajar Tanpa Usai

BIBLIOTIKA - Artikel ini lanjutan artikel sebelumnya (Kekuatan Keyakinan dan Keteguhan Impian). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah artikel sebelumnya terlebih dulu.

Dulu, sewaktu saya masih di duduk di bangku SMA, saya pernah mewakili sekolah saya untuk menghadiri sebuah acara seminar dan pelatihan menulis yang menghadirkan NH. Dini, salah seorang sastrawati hebat Indonesia itu. Waktu itu saya baru menjadi seorang yang ‘baru belajar menulis’.

Meskipun tulisan-tulisan saya sudah muncul di majalah dinding sekolah saya, namun mutu tulisan itu jelas masih di bawah rata-rata. Karenanya, dalam acara itu saya kemudian bertanya kepadanya, “Bu Dini, untuk bisa menjadi penulis hebat seperti Anda, apakah diperlukan bakat dan pendidikan khusus?”

Penulis besar yang rendah hati itu menjawab, “Tidak. Yang paling diperlukan untuk bisa menulis dengan baik adalah tidak berhenti belajar!”

Saya percaya nasihatnya itu, dan saya melakukan apa yang dikatakannya itu. Semenjak itu saya membaca lebih banyak, belajar lebih banyak, dan menulis lebih banyak. Dan pelan namun pasti, tulisan-tulisan saya pun semakin baik, semakin menunjukkan kualitasnya. Mungkin memang belum menjadi the best, tapi setidaknya tulisan saya sudah tidak malu-maluin lagi bila dibaca oleh orang lain. Ketika duduk di kelas tiga SMA, tulisan saya mulai muncul di majalah, dan kemudian tulisan-tulisan yang lain pun menyusul.

Pada waktu duduk di Perguruan Tinggi, saya mewakili kampus saya untuk mengikuti lomba menulis puisi yang diadakan oleh Dewan Pembina Daerah Badan Seni Mahasiswa Indonesia. Ini adalah acara tahunan, dan  diikuti oleh seluruh Perguruan Tinggi di Indonesia.

Saya berhasil menjadi juara pertamanya, selama dua kali dalam dua tahun berturut-turut. Itu adalah rekor yang belum pernah dicapai oleh mahasiswa di manapun! Dan ketika kemudian buku-buku karya saya diterbitkan dan tersebar di seluruh Indonesia, banyak yang bertanya kepada saya, “Bagaimana sih agar bisa menulis seperti kamu?”

Dan sebagaimana dulu Bu NH. Dini menjawab pertanyaan saya, saya pun menjawab pertanyaan mereka dengan jawaban, “Tidak berhenti belajar!”

Semua impian, dari yang paling kecil sampai yang besar membutuhkan proses yang sama, yakni proses pembelajaran. Semua pencapaian, dari yang biasa-biasa saja sampai yang nyaris mustahil, semuanya mengharuskan perjalanan yang sama, yakni perjalanan belajar yang tanpa henti. Inilah salah satu harga yang harus dibayar untuk menebus impian yang diinginkan. Belajar tanpa henti! Belajar tanpa usai!

Dengan terus belajar dan mengasah potensi yang kita miliki, kita pun akan semakin memperoleh perbaikan kualitas dari potensi kita. Sebagaimana yang pernah saya tulis dalam buku terdahulu, bakat yang kita miliki ini adalah sama seperti pisau. Dan pisau, setajam apapun akan menjadi berkarat jika tidak pernah diasah dan digunakan. Sebaliknya, pisau yang setumpul apapun akan menjadi tajam jika terus-menerus diasah dan digunakan.

Nah, proses pembelajaran adalah proses mengasah pisau. Proses pem-belajaran adalah proses mengasah dan menggunakan bakat serta potensi yang kita miliki. Tidak ada satu pun pencapai impian di dunia ini yang mendapatkan impiannya dengan ongkang-ongkang kaki. Semuanya belajar dengan tekun, semuanya bekerja dengan keras. Karena memang, sukses membutuhkan kerja keras!

Dr. Joyce Brothers menulis dalam bukunya, “Hampir setiap cita-cita, sebuah impian yang kamu tetapkan bagi diri kamu sendiri, melibatkan proses pembelajaran; kemampuan untuk mempelajari apa yang perlu kamu ketahui, secepat-cepatnya, adalah peralatan dasar untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan.”

Apakah kamu merasa impianmu terlalu besar hingga kamu menjadi ragu apakah mungkin kamu mampu mewujudkannya? Atau, apakah kamu merasa impianmu adalah impian yang biasa-biasa saja namun kamu merasa tak mampu mewujudkannya karena kamu menilai dirmu sendiri sedemikian tak mampu?

Impianmu akan terwujud kalau kamu mempercayai dan meyakininya sepenuh hati. Dan bukti bahwa kamu meyakini impianmu, kamu tidak boleh bosan belajar dan bekerja keras untuk mewujudkannya. Camkan ini; impianmu akan terwujud, bukan tergantung pada besar kecilnya impian itu, tetapi tergantung pada besar kecilnya usahamu untuk mewujudkannya!

Nah, kalau tadi kita sudah membaca kisah tentang cewek yang menderita epilepsi namun mampu mewujudkan impiannya yang nyaris mustahil (memecahkan rekor pelari jarak jauh wanita), sekarang kita akan melihat bersama seorang cowok berusia 17 tahun yang menderita kebutaan (tak bisa melihat), namun punya impian untuk memecahkan rekor untuk lompat galah dalam Olimpiade Junior Internasional!

Cowok ini bernama Michael Stone. Ia sudah buta semenjak lahir, dan ibunya sangat menyayanginya. Setiap malam, saat menjelang tidur, ibunya selalu bercerita kepadanya tentang burung-burung yang terbang di langit, dan itu selalu membuat Michael terhibur. Meskipun tidak bisa melihatnya sendiri, namun dari kisah yang diceritakan oleh ibunya setiap malam itu membuat Michael seolah-olah bisa melihat burung-burung yang terbang itu.

Baca lanjutannya: Belajar Tanpa Henti, Belajar Tanpa Usai (2)