7 Alasan Amerika Tidak Berani Menyerang Iran (Bagian 2)

7 Alasan Amerika Tidak Berani Menyerang Iran

BIBLIOTIKA - Artikel ini lanjutan artikel sebelumnya (7 Alasan Amerika Tidak Berani Menyerang Iran 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah artikel sebelumnya terlebih dulu.

Iran bahkan telah mengancam akan menenggelamkan kapal perang Amerika jika berani masuk ke Selat Hormuz, yang menunjukkan bahwa militer Iran memang telah siap untuk berperang. Akhirnya, jika Iran benar-benar menutup selat itu akibat perang, maka dunia akan mengalami kerugian besar-besaran akibat pelayaran komersial yang macet, dan harga minyak dunia akan melambung tinggi.

Iran telah banyak belajar tentang AS

Bagaimana pun, Iran pasti telah menyaksikan penyerangan Amerika ke Irak, Libya, Suriah, dan lain-lain, dan Iran pasti telah belajar tentang hal itu. Mereka tidak hanya memahami bahwa sewaktu-waktu Amerika bisa saja menyerang, tapi juga memahami bagaimana Amerika memainkan strateginya.

Jika Amerika benar-benar menyerang Iran, pasukan darat dan laut Iran pasti telah sangat siap. Lebih dari itu, mereka terus mengamati perkembangan terkini di dunia, meliputi Afghanistan dan lain-lain, serta terus menyelidiki kelemahan Amerika serta cara mengalahkan militernya.

Iran memiliki intelijen yang hebat

Iran diakui sebagai negara yang memiliki intelijen paling kuat sekaligus paling berkompeten di dunia. Hal itu tak bisa dilepaskan dari kondisi negara mereka yang kaya, namun sewaktu-waktu bisa terancam. Karenanya, Iran pun membangun divisi intelijen yang benar-benar matang.

Kenyataannya, selama tiga puluh tahun terakhir, Iran berhasil memburu dan menangkap elemen-elemen anti-Iran dengan sangat cemerlang.

Iran akan dibantu Hizbullah

Jika Amerika benar-benar menyerang Iran, maka yang akan dihadapi Amerika bukan hanya pasukan Iran, melainkan juga pasukan Hizbullah. Bagaimana pun, pasukan Hizbullah tidak akan tinggal diam jika menyaksikan Iran, yang merupakan teman mereka, diserang Amerika.

Selama tiga dekade ini, pasukan Hizbullah tak pernah berhenti menggempur Israel, yang menunjukkan bagaimana solidnya mereka dalam membangun pasukan perang. Jika Amerika mencari masalah dengan Iran, dan Amerika adalah teman dekat Israel, maka artinya Amerika juga mencari masalah dengan pasukan Hizbullah.

Iran memiliki jaringan teknologi hebat

Kemampuan Iran tidak hanya ada di dunia nyata, tapi juga di dunia maya. Divisi intelijen mereka tidak hanya aktif di berbagai negara, tapi juga di internet. Perkembangan jaringan teknologi Iran tidak hanya cepat, tapi terus berkembang pesat.

Karena kenyataan itu, analis militer pun memprediksi bahwa Iran telah mengintegrasikan infrastruktur nuklir mereka dengan dunia cyber. Jika perang terjadi, Iran tidak hanya akan menggunakan senjata nuklir di dunia nyata, tapi juga “nuklir” di dunia maya, yaitu penghapusan dan penghancuran data dunia secara besar-besaran, dan itu artinya adalah malapetaka yang tak terbayangkan.

Tentara AS perlu istirahat

Bisa dibilang, pasukan militer Amerika Serikat sangat jarang beristirahat, karena mereka terus dikirim ke berbagai negara untuk invasi. Mereka masuk ke Afghanistan, Irak, Suriah, Libya, dan terus tanpa henti terlibat pertempuran.

Bagaimana pun, energi mereka akan terus menyusut. Mereka sudah lama tidak berkumpul dengan keluarga, tidak lagi bisa berosialisasi dengan masyarakat, atau menjalani kehidupan yang normal. Jelas, mereka kelelahan. Jika mereka juga dikirim ke Iran untuk menyerang negara Arab tersebut, itu sama saja mengirim mayat. Iran pasti akan dengan mudah menghancurkan pasukan yang sedang kelelahan fisik maupun psikis.

Dampak yang akan meluas

Amerika Serikat bisa saja memfokuskan tujuannya dalam menyerang Iran, tapi mereka juga harus mempersiapkan dampak yang akan terjadi. Meski mereka hanya bermaksud menyerang Iran, tapi urusannya tidak akan semudah itu. Jika Iran diserang, negara itu akan melakukan apa pun yang menciptakan dampak secara internasional. Salah satunya—seperti yang disebut tadi—menutup Selat Hormuz, yang akan menciptakan keguncangan ekonomi di mana-mana.

Belum lagi jika mengingat bahwa penyerangan terhadap Iran akan mengundang negara lain yang pasti akan mendukung Iran. Akibatnya, meski sebenarnya tujuan AS hanya ingin menginvasi Iran, tapi mereka harus menghadapi banyak lawan.