10 Hal yang Akan Memicu Pecahnya Perang Dunia III (Bagian 2)

10 Hal yang Akan Memicu Pecahnya Perang Dunia III

BIBLIOTIKA - Artikel ini lanjutan artikel sebelumnya (10 Hal yang Akan Memicu Pecahnya Perang Dunia III - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah artikel sebelumnya terlebih dulu.

Dalam konflik di Laut Cina Selatan, misalnya, Amerika Serikat memiliki peran lebih aktif dibanding saat konflik di Krimea. Di sana, Amerika Serikat bahkan menyatakan dukungan untuk mengusir agresi militer Cina, dan membela Filipina serta Jepang sebagai negara sahabat melalui bantuan yang bersifat militer.

6. Jepang telah bersiap perang

Bagi negara-negara di sekitarnya, Cina tidak bisa dianggap sebagai tetangga yang ramah. Pasalnya, Cina secara agresif mengerahkan tentara lautnya untuk menguasai Laut Cina Selatan, yang bagian-bagiannya diklaim oleh banyak negara seperti Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan lainnya.

Tidak cukup di situ, Cina bahkan mengancam akan mengusir Jepang dari daerah yang diklaimnya, jika Jepang terus mengusik Cina. Tapi Jepang tampaknya tidak mau mundur. Mereka justru semakin agresif, bahkan memberi sinyal kalau mereka siap berperang. Akibatnya, situasi di tempat itu semakin memanas, dan perang bisa saja terjadi sewaktu-waktu.

7. Masalah kecil yang kian membesar

Amerika Serikat dan Rusia bukan hanya negara yang diprediksi akan tampil berhadap-hadapan, jika Perang Dunia III meletus. Karena Jepang dan Cina pun tampaknya ingin berhadap-hadapan langsung dalam perang yang mungkin terjadi. Masalah di antara Jepang dan Cina adalah persoalan di Laut Cina Selatan, yaitu pulau Senkaku. Cina mengancam akan melakukan invasi ke daerah tersebuit, padahal Jepang mengklaim wilayah itu miliknya.

Berdasarkan sejarah, melalui persoalan-persoalan semacam itulah Perang Dunia II terjadi, yaitu dari konflik kecil yang kian membesar. Artinya, perang besar itu tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan perlahan-lahan, konflik demi konflik, sampai akhirnya hal-hal yang semula tampak kecil itu menjadi besar dan menjadi masalah global.

Dalam Perang Dunia II, konflik itu dimulai ketika satu negara mencoba menginvasi dan merebut wilayah negara lain. Di masa lalu, para pelakunya adalah Italia, Jerman, dan Jepang. Invasi negara-negara tersebut tidak bisa diredam oleh Liga Bangsa-Bangsa (yang sekarang bernama PBB), hingga Perang Dunia II akhirnya pecah.

8. Masalah militer di Krimea

Amerika Serikat, bersama NATO dan PBB, telah memberi peringatan tegas dan keras kepada Rusia, mengenai operasi militer di Krimea. Presiden AS, Barack Obama, bahkan terang-terangan menyatakan bahwa dalang invasi di Krimea akan membayar harga sangat mahal. Ucapan itu seperti menunjuk hidung Rusia.

Karenanya, pernyataan AS melalui Obama, yang didukung PBB dan NATO, bisa dinilai sebagai intervensi internasional terhadap masalah yang terjadi di Krimea. Sementara, di sisi lain, Rusia yang menjadi pihak “tertuduh” tampak tidak gentar. Sebaliknya, Vladimir Putin bahkan menunjukkan sinyal bahwa Rusia siap berperang.

9. Pergolakan di Ukraina 

Agresivitas Rusia dalam kancah konflik dunia dinilai nasionalis Ukraina sebagai pernyataan perang. Mereka tidak sepakat dengan hal itu, meski ada pula sebagian masyarakat Ukraina yang pro terhadap Rusia. Perbedaan pandangan itu menimbulkan polemik bahkan konflik nasional di negara tersebut.

Belakangan, akibat polemik dan konflik yang kian bergolak, terjadi perusakan dan pemukulan terhadap nasionalis Ukraina oleh orang-orang pro-Rusia di Kharkiv, kota kedua terbesar di Ukraina, sekaligus bekas kota penting Uni Soviet pada masa Perang Dunia II. Sementara Presiden Rusia, Vladimir Putin, tampak memberi sinyal akan mengambil alih Kharkiv melalui operasi militer.

10. Invasi Rusia ke Krimea

Rusia telah melakukan operasi militer di Krimea, wilayah yang menjadi sengketa antara Rusia dan Ukraina. Dalam invasi tersebut, Rusia mengirimkan 6.000 tentara untuk menyerang Krimea, merebut pangkalan militer Ukraina, pusat komunikasi Ukraina, dan bangunan-bangunan pemerintahan di Ukraina.

Itu jelas invasi yang tidak bisa dianggap sepele. Meski begitu, para pakar politik internasional memprediksi, bahwa kedatangan tentara Rusia tersebut hanya sebuah awal dari periode penuh gejolak, yang akhirnya akan meledak menjadi perang besar-besaran.