Quezon City, Penjara Paling Mengerikan di Filipina

Quezon City, Penjara Paling Mengerikan di Filipina

BIBLIOTIKA - Mendengar istilah penjara sudah membuat kita membayangkan hal-hal yang tidak menyenangkan, bahkan mengerikan. Dan Quezon City adalah penjara paling mengerikan di Filipina. Penjara ini memiliki kapasitas untuk 800 tahanan, tetapi setiap hari dihuni oleh 3.800 tahanan. Akibatnya, penjara itu pun jauh melebihi kapasitas, dan penghuninya berdesak-desakan.

Karena jumlah penghuni penjara empat kali lipat lebih banyak banyak dari kapasitas yang ditentukan, penjara Quezon City pun sama sekali tidak memiliki ruang kosong. Setiap sel yang sebenarnya diperuntukkan untuk 20 tahanan, dihuni sekitar 160-200 tahanan. Akibatnya, para tahanan harus berhimpitan untuk tidur atau sekadar untuk duduk.

Lantai penjara Quezon City tidak dilapisi alas, dan para tahanan menggunakan koran bekas atau pakaian untuk dijadikan alas tidur. Dalam urusan tidur pun bisa dibilang tidak seorang pun bisa tidur lurus telentang, karena sempitnya ruang yang ada. Tubuh-tubuh mereka saling berdempetan satu sama lain, saling mendesak dan berdesakan.

Karena kondisi itu, sebagian tahanan ada yang memilih tidur di lapangan basket tanpa atap, atau di tangga, ada pula tahanan yang menggunakan selimut lusuhnya untuk dijadikan tempat tidur gantung. Sementara itu, ventilasi di sana bisa dibilang sangat minim.

Selain ruang penjara yang sangat menyedihkan, makanan untuk ribuan tahanan yang ada di sana juga sama menyedihkan, dan jauh dari sehat. Sebagaimana yang diberitakan Dailymail, 30 Juli 2016, pada makanan mereka kadang ditemukan paku atau kecoak mati. Air juga sangat langka di penjara, sehingga para tahanan harus berebut bahkan bertarung untuk mendapat makanan dan air.

Karena kondisi mengerikan semacam itu, berbagai penyakit pun menjangkiti para tahanan, bahkan sampai mengakibatkan kematian. Raymund Narag, seorang mantan napi di Quezon City, mengatakan bahwa setiap bulan ada dua hingga lima tahanan yang sakit bahkan tewas di sana. “Selama hampir tujuh tahun, setiap waktu selama di dalam penjara, saya mempelajari kematian,” kata Narag.

Raymund Narag menjadi napi di Quezon City saat usianya masih 20 tahun, atas dakwaan membunuh seorang anak laki-laki, namun ia menolak dakwaan atau tuduhan itu. Pengalaman selama berada di dalam penjara Quezon City, dan menyaksikan kehidupan mengerikan di dalamnya, dituangkan Raymund Narag dalam buku yang ditulisnya, berjudul Freedom and Death Inside the Jail.

Penjara Quezon City dibangun sekitar 60 tahun yang lalu, dan ditujukan untuk para tahanan yang perkaranya ditunda. Setiap tahanan di sana diwajibkan mengenakan pakaian tahanan berwarna kuning. Sampai saat ini, tampaknya pemerintah Filipina belum terdorong untuk memperbaiki kondisi penjara yang mengerikan tersebut.