Charoen Sirivadhanabhakdi, Putus Sekolah tapi Sukses

 Charoen Sirivadhanabhakdi, Putus Sekolah tapi Sukses

BIBLIOTIKA - Putus sekolah pada usia 9 tahun, memulai karir dengan berjualan di pinggir jalan, dan sekarang menjadi pengusaha terkenal di Thailand, bahkan masuk dalam jajaran orang-orang terkaya di dunia. Charoen Sirivadhanabhakdi benar-benar memulai usahanya dari nol.

Pada saat ini, Charoen Sirivadhanabhakdi menjabat sebagai direktur Thai Beverage dan Fraser & Neave Ltd., dua perusahaan yang didirikannya. Satu bergerak di bidang produksi bir, satunya lagi beroperasi di sektor properti. Selain itu, dia juga memiliki mal di Bangkok, perdagangan ritel di Singapura dan Thailand, juga memiliki beberapa hotel yang tersebar di Asia, Amerika Serikat, dan Australia. Tapi, seperti yang dibilang tadi, dia memulai karirnya dari nol.

Nama aslinya adalah Khun Charoen. “Sirivadhanabhakdi” adalah nama yang diberikan oleh Raja Thailand pada 1988, ketika dia telah dikenal sebagai pengusaha berpengaruh di Thailand. Sejak itu pula, dia pun menggunakan nama Charoen Sirivadhanabhakdi.

Dia lahir pada 2 Mei 1944 di Cina, sebagai anak keenam dari 11 bersaudara. Ketika dia masih kecil, keluarganya berimigrasi ke Thailand. Di Thailand, Charoen Sirivadhanabhakdi sempat mengenyam sekolah dasar, tapi kemudian keluar saat usianya 9 tahun. Alasannya mungkin klise, karena tidak ada biaya untuk melanjutkan. Setelah tidak bersekolah, Charoen Sirivadhanabhakdi pun mulai belajar mencari uang.

Karir pertamanya adalah menjadi buruh di pabrik penyulingan yang memproduksi wiski lokal Thailand, yang waktu itu masih dimonopoli oleh negara. Dari pekerjaannya di sana, Charoen Sirivadhanabhakdi mulai tahu cara membuat bir atau wiski, dan dia kemudian menggunakan pengetahuan itu untuk mulai berbisnis sendiri.

Pada 1970-an, Charoen Sirivadhanabhakdi pun memulai bisnis kecil-kecilan dengan menjual bir murah dan wiski lokal di pinggir jalan. Perlahan namun pasti, usahanya berkembang. Perkembangan itu tidak bisa dilepaskan dari kebijakan pemerintah Thailand waktu itu. Semula, perusahaan bir atau minuman keras dimonopoli oleh negara. Dengan kata lain, perorangan atau perusahaan di luar negara dilarang memproduksi minuman keras.

Perlahan-lahan, kebijakan itu dikurangi. Mula-mula, negara masih memegang 90 persen, dan sisanya menjadi jatah perusahaan atau perorangan di luar negara yang juga ingin memproduksi bir. Kemudian, jumlah jatah negara dikurangi perlahan-lahan, dari 80 persen menjadi 60 persen, dan begitu seterusnya. Seiring dengan itu, kuota atau jatah yang boleh diproduksi oleh perusahaan atau perorangan di luar negara semakin banyak.

Dalam hal itu, Charoen Sirivadhanabhakdi termasuk orang yang paling awal mengambil “jatah” kuota yang disediakan negara. Karenanya, seiring kuota yang semakin banyak, dia pun bisa memproduksi bir dalam jumlah lebih banyak, sementara orang-orang lain di Thailand belum sempat memulai. Dengan kata lain, dia bisa berbisnis nyaris tanpa saingan.

Karenanya, usaha bir dan wiski Charoen Sirivadhanabhakdi pun terus tumbuh, sampai kemudian bisa mendirikan perusahaan bir sendiri, dan produksinya telah menguasai hampir 60 persen pangsa pasar bir di Thailand. Pada 1995, dia bekerjasama dengan perusahaan bir Carlsberg di Denmark untuk memproduksi Chang Beer dan Beer Thai, yang kemudian menjadi bagian dari perusahaan yang terdaftar di Singapura, dengan nama Thai Bev atau Thai Beverage Plc. Sejak itu, Charoen Sirivadhanabhakdi pun menjadi pengusaha bir terbesar di Thailand.

Dari usaha bir, Charoen Sirivadhanabhakdi merambah bisnis pabrik gula, perusahaan perbankan, dan asuransi. Belakangan, dia juga mulai memasuki pasar investasi dan properti, dengan membangun pusat-pusat perbelanjaan serta hotel di beberapa negara.

Nama Charoen Sirivadhanabhakdi sempat menjadi buah bibir banyak orang di dunia, saat dia mengakuisisi Fraser and Neave Ltd., perusahaan Singapura yang memproduksi soft drink, susu, penerbitan, dan yang juga bergerak di bidang real estate. Nilai akuisisi itu mencapai 11 miliar dollar, dan dianggap sebagai nilai akuisisi terbesar di Asia Tenggara.

Memasuki awal tahun 2000-an, Charoen Sirivadhanabhakdi mengembangkan bisnis properti dengan mendirikan perusahaan tersendiri, bernama TCC Land Co Ltd. Perusahaan itu sekarang telah menjadi salah satu pengembang properti terbesar di Thailand, yang bergerak di bidang investasi dan pengembangan perumahan, perhotelan, dan ritel, selain juga terlibat dalam manajemen properti, logistik, agrobisnis, di Thailand dan Singapura.

TCC Land juga memiliki beberapa properti di luar negeri yang dikelola oleh TCC Land Co International Ltd., termasuk di AS, Inggris, Australia, Jepang, Cina, dan beberapa negara Asia Tenggara.