Cempedak ternyata Bermanfaat sebagai Obat Malaria

Cempedak ternyata Bermanfaat sebagai Obat Malaria

BIBLIOTIKA - Cempedak (Artocarpus champeden Sp.) ternyata dapat dimanfaatkan sebagai obat malaria, khususnya bagian kulit batangnya. Kenyataan itu ditemukan oleh tim dari Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Surabaya, yang mengembangkan obat antimalaria dari ekstrak kulit batang cempedak. Riset itu telah dimulai lebih dari 10 tahun yang lalu, dan menghasilkan tablet fitofarmaka yang sinergis dengan kombinasi obat antimalaria lainnya.

Achmad Fuad Hafid, salah satu anggota tim, menyatakan bahwa mereka mengembangkan riset farmakologi dengan mengekstrak kulit batang cempedak, dan mencampurkannya dengan etanol 80 persen. Ekstrak itu lalu diujikan pada hewan percobaan mencit yang diinfeksi parasit malaria Plasmodium berghei.

Hasilnya, ekstrak tersebut mampu menghambat perkembangan parasit malaria sebesar 80 persen. Riset dilanjutkan dengan menentukan senyawa marker (penanda) pada kulit batang cempedak. Senyawa penanda sangat penting untuk menetapkan standardisasi bahan baku kulit batang cempedak. Dari kulit batang cempedak, tim memperoleh senyawa aktif Morachalkon A.

Bersama tim peneliti dari Fakultas Farmasi Unair, Achmad meriset kulit batang cempedak dari Papua, Kalimantan Timur, dan Jawa Barat. Riset dilakukan hingga tim memperoleh titik optimal manfaat penyembuhan malaria dengan tablet fitofarmaka ekstrak etanol kulit batang cempedak, yaitu ketika antimalaria herbal bisa dikombinasikan dengan obat antimalaria lain, seperti artemisinin.

“Penggunaan obat secara kombinasi disarankan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) sejak beberapa tahun lalu,” jelas Achmad.

Kombinasi obat antimalaria disarankan WHO, dengan pertimbangan saat ini makin mudah dan cepat terjadi resistensi atau kekebalan parasit malaria terhadap obat-obat penangkalnya. Pola resistensi ditentukan WHO, yaitu jika suatu daerah mengalami lebih dari 25 persen resistensi terhadap obat tertentu. Obat itu lalu disarankan untuk tidak digunakan dalam periode tertentu.

Ahmad menjelaskan, “Pencarian ragam senyawa aktif sebagai antimalaria sekarang makin dibutuhkan. Ekstrak kulit batang cempedak menjadi salah satu pilihan, meskipun saat ini belum bisa diproduksi secara massal.”

Ia juga menyatakan, obat herbal antimalaria berbeda dengan jenis obat-obat herbal lainnya. Sebagian besar obat herbal mudah diedarkan setelah dinyatakan selesai uji praklinik dengan hewan coba sebagai obat herbal terstandar (OHT). Apalagi setelah obat herbal melewati uji klinik pada pasien manusia menjadi fitofarmaka, obat herbal itu lebih mudah diserap masyarakat. Tetapi, dalam hal ini,  “Obat antimalaria harus menjadi obat program, sehingga tidak bisa begitu saja diproduksi lalu diedarkan kepada masyarakat.”

Menurutnya, produksi obat herbal tersebut akan berdasarkan rekomendasi WHO dan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kesehatan. Ketentuan obat antimalaria sebagai obat program mengacu pada pola resistensi parasit malaria terhadap obat-obatan antimalaria yang sekarang beredar. Resistensi parasit malaria awalnya diketahui pada 1961 terhadap jenis obat klorokuin di Thailand. Pada tahun berikutnya, diketahui di Amerika Serikat, dan semenjak itu menyebar ke seluruh dunia.

Di Indonesia, resistensi terhadap klorokuin diketahui tahun 1974 pada kasus malaria di Kaltim. Sejak itu, resistensi terhadap berbagai jenis obat antimalaria terus berkembang. Kecepatan resistensi terhadap obat antimalaria bergantung pada faktor operasional, seperti penetapan dosis, kepatuhan pasien, faktor farmakologik, dan faktor transmisi malaria.

Klorokuin merupakan antimalaria yang paling luas penggunaannya. Harganya tergolong paling murah dengan efek samping yang minimal. Namun, manfaat klorokuin kini berkurang drastis akibat resistensi.

Terkait dengan peningkatan intensitas penyakit malaria, pemanasan global disinyalir menjadi salah satu penyebab. Pemanasan global menyebabkan kelembapan udara naik, sehingga meningkatkan perkembangbiakan berbagai jenis serangga, termasuk nyamuk. Salah satunya adalah nyamuk Anopheles betina sebagai vektor (pembawa) parasit malaria yang menyebabkan penderitanya demam menggigil secara periodik.

Di seluruh dunia, diperkirakan sampai saat ini malaria menjangkiti 300 juta penduduk setiap tahun. Dari jumlah itu, 2 juta-4 juta penduduk tiap tahun meninggal dunia akibat malaria.