Reuben Bersaudara, Kakak Beradik Petualang Bisnis

Reuben Bersaudara, Kakak Beradik Petualang Bisnis

BIBLIOTIKA - David Reuben dan Simon Reuben—yang dikenal sebagai Reuben Bersaudara—adalah kakak beradik yang mungkin bisa dibilang sebagai “petualang bisnis”. Mereka telah berbisnis sejak remaja, mencoba berbagai bidang usaha, kemudian bisnis mereka tumbuh dan menjalar ke mana-mana hingga masuk ke banyak negara.

Keluarga mereka berasal dari Irak, namun tinggal di India. Pada pertengahan 1950-an, ketika David dan Simon masih kecil, keluarga mereka memutuskan untuk pindah ke Inggris, untuk mencari penghidupan baru. Lalu mereka pun menetap di Inggris.

David Reuben lahir pada 1941, sementara Simon Reuben lahir tiga tahun setelahnya, yaitu pada 1944. Keduanya sempat bersekolah sampai tingkatan SMA, tapi kemudian memutuskan untuk langsung berbisnis. David memulai bisnisnya dengan mendirikan usaha jual beli logam. Sementara Simon menjalankan bisnis karpet.

Semula, Simon merupakan importir karpet independen yang menjual produk-produk karpet milik perusahaan lain. Tapi kemudian ia melihat peluang investasi dengan membeli perusahaan karpet. Perusahaan-perusahaan karpet yang mengalami kerugian dijual dengan harga murah. Oleh Simon, perusahaan itu diperbaiki dengan memperbanyak produksi dan lain-lain, hingga bisa menghasilkan kentungan lagi. Setelah itu, ia menjual perusahaan karpet tersebut dengan harga tinggi.

Salah satu perusahaan karpet yang pernah dibeli Simon adalah pabrik karpet tertua di Inggris, yaitu J. Holdsworth & Co. Dia membeli perusahaan itu pada 1965, dan menjualnya setahun kemudian dengan keuntungan lumayan. Keuntungan yang ia kumpulkan dari jual beli perusahaan kemudian ia gunakan untuk berinvestasi di bidang properti. Ia membentuk kelompok properti bernama Devereux pada awal tahun 1970, meski bisnis tersebut tidak bertahan lama. Pada 1972, dia menjual Devereux ke perusahaan Bovis, sebelum pasar properti rontok.

Sementara itu, David yang berbisnis logam telah berhasil mendirikan perusahaan perdagangan logam, bernama Trans World pada 1977. Tak jauh beda dengan Simon, David juga sempat tertarik pada bisnis properti, dan ia menjalankan cabang bisnis investasi properti. Di Inggris, David perlahan-lahan membangun portofolio bernilai miliaran poundsterling dari properti.

Sebagai saudara kandung, David dan Simon tampaknya menyadari mereka memiliki kesamaan, yaitu sama-sama tertarik pada bisnis. Selama ini, mereka jalan sendiri-sendiri. Meski dapat menghasilkan keuntungan, namun mereka berpikir akan jauh lebih baik jika mereka bersatu dan membangun bisnis bersama-sama. Dilatari pemikiran itu, Simon menutup bisnisnya di bidang logam, dan David menutup perusahaan karpetnya. Setelah itu, mereka berkongsi dan mendirikan perusahaan dengan nama Reuben Brothers yang dimiliki bersama.

Bisnis pertama yang diincar oleh Reuben Brothers adalah properti. Namun ternyata tidak mudah, karena waktu itu bertepatan dengan anjloknya harga properti, khususnya di Inggris. Maka mereka pun mengalihkan bisnis Reuben Brothers ke ekspor impor besi, aluminium, dan timah.

Pilihan itu ternyata tepat. Melalui usaha tersebut, Reuben Brothers bisa menjalin kerja sama dengan perusahaan logam di Amerika Serikat hingga Rusia. Memasuki 1990-an, Reuben Brothers telah membeli salah satu perusahaan penghasil besi, dan beberapa tahun kemudian sudah mendapatkan keuntungan miliaran dollar. Perusahaan mereka menjadi produsen alumunium terbesar ketiga di dunia waktu itu.

Ada faktor keberuntungan dalam bisnis Reuben Brothers, khususnya ketika menggeluti bisnis logam. Pada era 1990-an, Rusia adalah produsen logam terbesar kedua di dunia. Tetapi, pada waktu itu, bisnis alumunium Rusia tengah terpuruk.

Pemerintah Rusia pun memberikan insentif keuangan untuk mengangkat kembali sektor itu. Pemerintah membebaskan pajak impor bahan baku dari luar negeri untuk diolah menjadi aluminium. Produsen juga boleh mengekspor produk, dengan bebas pajak. Selain itu, dalam transisi negara baru (dari Soviet ke Rusia), pebisnis luar (asing) mendapat berbagai kemudahan berinvestasi.

Menanggapi kenyataan itu, David dan Simon mendirikan perusahaan di Rusia, dan dalam waktu tak terlalu lama telah menjadi pesaing Alcoa dan Alcan, yang waktu itu menjadi perusahaan logam terbesar pertama dan kedua di dunia. Pada 1996, CNN bahkan menyebut perusahaan David dan Simon di Rusia sebagai semacam “negara dalam negara”, disebabkan besarnya kekuasaan yang mereka miliki.

Dari situlah kemudian, Reuben Brothers mengembangkan bisnisnya hingga menjalar ke wilayah-wilayah lain, mencakup Sibera, Siprus, Bahama, Kepulauan Cayman, dan lainnya. Meski begitu, porsi penjualan terbesar mereka adalah Amerika Serikat, yang jumlahnya mencapai 30 persen dari total penjualan mereka.

Reuben Brothers memproduksi jenis logam yang biasa digunakan untuk roket, satelit, roda mobil, panel pesawat, sampai berbagai produk rumah tangga. Mereka juga memiliki kepemilikan besar di komoditas baja, krom, batubara, dan bahan dasar lain. Sekarang, Reuben Brothers memiliki kantor di Swiss, dan membawahi ratusan perusahaan yang tersebar di seluruh dunia, yang mencakup perusahan logam, properti, energi, komoditas minyak, pertambangan, pertanian, ritel, hingga hiburan.

Reuben Brothers juga memiliki Northern Racing Plc. yang mengoperasikan sepuluh tempat pacuan kuda di Inggris, dan menguasai 15,5 persen pangsa pasar perlengkapan balapan. Reuben Brothers juga diketahui memiliki berbagai properti di Monaco, New Jersey, Jerman, Prancis, Rumania, hingga Tel Aviv, Israel. Di bidang properti ritel, Reuben Brothers memiliki beberapa pusat perbelanjaan. Beberapa di antaranya adalah Eden dan St. James Retail Park di Newcastle. Mereka juga memiliki beberapa gerai ritel di pusat kota London.

Selain aktif berbisnis, kakak beradik Reuben juga mendirikan yayasan bernama Reuben Foundation yang banyak menyumbangkan amal di bidang kesehatan dan pendidikan. Proyek amal mereka tersebar di Inggris dan Israel. Meski keduanya aktif sebagai pebisnis internasional dan filantropis, namun mereka juga dikenal sangat tertutup pada media.

Sejauh ini, David maupun Simon hanya pernah bersedia diwawancarai media satu kali. Itu pun gara-gara seorang reporter kebetulan memergoki keduanya sedang santai di sebuah ruangan, dan David serta Simon merasa tidak sopan jika tidak melayani.

Meski begitu, atas kiprah mereka yang luas di bidang bisnis, kakak beradik Reuben mendapat penghargaan sebagai Enterpreneur of The Year dari Variety Club pada 2005. Saat ini, keduanya juga masuk dalam jajaran orang-orang terkaya di dunia, dengan kepemilikan bersama yang mencapai 13,7 miliar dollar.