Raymond Kwok, Penguasa Bisnis Properti Singapura

  Raymond Kwok, Penguasa Bisnis Properti Singapura

BIBLIOTIKA - Harga tanah terus melejit di mana-mana, makin tahun harganya makin naik. Naiknya harga tanah itu menjadikan perusahaan-perusahaan properti mendapat keuntungan lebih besar dari investasi mereka. Karenanya, para pengembang properti selalu berusaha mengakuisisi tanah di berbagai tempat, untuk kemudian diubah menjadi perumahan, dan menghasilkan keuntungan. Hal semacam itu juga terjadi di Hong Kong.

Di Hong Kong, salah satu pengembang properti yang terkenal adalah SHK Properties. Perusahaan itu didirikan oleh Kwok Tak Seng puluhan tahun lalu, dan terus berkembang. Selama waktu-waktu itu, SHK Properties telah membangun gedung-gedung pencakar langit yang menjulang di Hong Kong, serta berbagai rumah pemukiman di berbagai wilayah.

Pada 1990, Kwok Tak Seng meninggal dunia, dan perusahaan miliknya pun diwarisi anak-anaknya, yaitu Raymond Kwok dan Thomas Kwok. Sejak itu, Raymond dan Thomas terkenal sebagai dua bersaudara yang memimpin dan mengelola SHK Properties.

Raymond Kwok lahir pada 1952, dan berkuliah di Universitas Cambridge, lalu meraih gelar MBA di Harvard Business School. Sementara Thomas Kwok, kakaknya, lahir pada 1951, dan berkuliah di University of London dan London Business School. Seperti yang disebutkan tadi, kedua bersaudara tersebut melanjutkan bisnis ayahnya, dengan menjadi ketua dan managing director SHK Properties.

Selain mengelola SHK Properties, kakak beradik Kwok juga memimpin perusahaan lain yang mereka dirikan, yaitu SUNeVision Holdings Ltd. dan SmarTone Telekomunikasi Holdings Limited. Di tangan mereka, SHK Properties terus tumbuh menjadi pengembang real estate yang menghasilkan keuntungan besar, yang artinya terus menambah kekayaan mereka. Sampai kemudian, Thomas Kwok ditangkap karena melakukan kejahatan suap.

Pada bulan Maret 2012, Thomas Kwok ditangkap Komisi Antikorupsi Independen Hong Kong (ICAC), karena diduga melakukan penyuapan terhadap pejabat pemerintah setempat. Penyuapan itu, menurut BBC, diperkirakan untuk memuluskan upaya Thomas Kwok yang ingin mengakuisisi tanah dan perencanaan proyek di wilayah Hong Kong. Selain Thomas Kwok, ICAC juga menangkap seorang pejabat pemerintah bernama Rafael Hui, dengan dugaan korupsi.

Semula, berkaitan penangkapan itu, Raymond Kwok—kakak Thomas Kwok—juga sempat ditangkap, mengingat mereka kakak beradik yang terlibat bersama dalam bisnis yang sama. Namun, belakangan, pengadilan membuktikan bahwa hanya Thomas Kwok yang terlibat kejahatan tersebut. Atas keputusan itu, Thomas Kwok dijatuhi hukuman 5 tahun penjara dengan denda sebesar 500 ribu dollar, sementara Raymond Kwok dinyatakan bersih.

Setelah putusan pengadilan diumumkan pada Desember 2014, Thomas Kwok menyatakan pengunduran diri dari jabatannya sebagai ketua maupun direktur SHK Properties. Praktis sejak itu, tinggal Raymond Kwok yang meneruskan bisnis SHK Properties. Bagaimana pun, penangkapan Thomas Kwok telah mempengaruhi harga saham perusahaan tersebut. Nilai sahamnya di bursa saham sempat anjlok hingga 15 persen, sehingga SHK properties diperkirakan mengalami kerugian mencapai 5 miliar dollar.

Meski begitu, sebagai pengusaha, Raymond Kwok masih memiliki kekayaan besar, mencapai 15,9 miliar dollar, yang bahkan masih menempatkannya di jajaran 100 orang terkaya di dunia. Bahkan kehilangan uang pun, orang kaya tetap kaya.