Perjalanan Mencari dan Menemukan Cinta (7)

 Perjalanan Mencari dan Menemukan Cinta

BIBLIOTIKA - Mungkin saja baju itu terkena pinggiran seng yang tajam, atau terkena tusukan ujung paku tanpa sengaja. Itu hal-hal yang wajar dan lumrah untuk membuat sebuah baju menjadi sobek, betapapun mahal dan betapapun berkualitasnya baju itu. Nah, kalau itu sesuatu hal yang lumrah, mengapa kita harus mempersoalkan mengenai robeknya baju itu? Mengapa kita harus memikirkan tentang kalau-kalau baju itu robek?

Mari jernihkan hati. Kalau sebuah baju terkena sesuatu dan menjadi robek, maka kita sama sekali menjadi naif jika menyalahkan sesuatu. Kita tidak pantas kalau menyalahkan baju itu. Mengapa? Karena baju itu menjadi robek bukan karena keinginannya, tetapi karena adanya sesuatu yang menyebabkannya. Apa atau siapa yang menyebabkannya? Dirimu!

Kaulah yang membawa (memakai) baju itu ke tempat-tempat yang terdapat potongan-potongan seng sehingga baju itu mudah terkena ujung seng yang tajam yang merobekkannya. Kaulah yang membawa (memakai) baju itu ke tempat paku-paku tajam hingga paku-paku itu bisa menyentuh bajumu lalu merobekkannya.

Nah, sekarang, mau menyalahkan seng atau paku-paku yang telah merobek-kan bajumu? Itu lebih naif lagi! Dari dulu seng dan paku-paku itu sudah ada di di situ, bahkan sebelum kau memiliki sebuah baju. Kalau sekarang kau mau menyalahkan seng dan paku-paku itu, kau perlu berkaca terlebih dulu. Seng dan paku-paku itu tidak salah karena mereka juga ‘tidak sengaja’ merobekkan bajumu.

Lalu kau berteriak, “Aku tak mau disalahkan! Aku juga tidak salah! Aku tak tahu kalau di tempat itu ada seng dan paku-paku yang bisa merobekkan bajuku!”

Nah, kalau kau sendiri pun tak mau disalahkan, apalagi yang lain? Ketika sebuah baju menjadi robek oleh sesuatu, maka hanya ada dua kemungkinan; semuanya bersalah, atau semuanya tidak bersalah! Tapi buat apa mempelajari kemungkinan itu? Buat apa mencari objek untuk disalahkan? Tak ada gunanya. Lebih dari itu, yang menjadi persoalan sebenarnya adalah bukan mencari apa atau siapa yang merobekkan baju itu, tetapi bagaimana caranya memperbaiki baju itu agar robekannya bisa ditambal, diperbaiki, dan bisa dipakai kembali.

Mungkin kau ingin mengatakan, “Tapi robekannya sudah sangat besar. Baju itu sudah sulit untuk ditambal atau diperbaiki. Aku ingin ganti baju yang baru saja.”

Baik, kalau memang baju yang robek itu sudah tak bisa diperbaiki lagi karena robekannya yang sudah sangat parah, kau memang boleh menggantikannya dengan baju yang baru. Itu hakmu. Dan itu hal yang wajar. Mengganti sebuah baju dengan baju yang baru karena baju yang kita miliki telah robek serta rusak dan tak bisa diperbaiki lagi adalah sesuatu yang wajar, bahkan sangat wajar.

Yang tidak wajar adalah; jika kita sengaja merobek baju milik kita sendiri dengan tujuan untuk bisa mendapat baju yang baru! Lebih tidak wajar lagi jika kita merobek baju milik kita sendiri dengan tujuan untuk merampas baju milik orang lain!

Mungkin kau bisa saja membohongi orang lain, “Baju itu benar-benar robek karena seng dan juga karena tertusuk paku. Aku tidak sengaja merobekkannya!”

Memang mudah untuk menutupi cerita di balik fakta robekan sebuah baju. Apalagi, baju itu takkan bisa membongkar kebohongan itu karena baju itu kan tidak punya mulut untuk bicara. Tapi jangan lupa, robekan karena terkena seng atau paku itu jelas berbeda bentuknya dengan robekan karena sengaja dirobek oleh tanganmu sendiri! Baju memang tidak bisa bicara, tapi fakta yang ada akan mengungkapkan segalanya!

Baca lanjutannya: Perjalanan Mencari dan Menemukan Cinta (8)