Perjalanan Mencari dan Menemukan Cinta (5)

 Perjalanan Mencari dan Menemukan Cinta

BIBLIOTIKA - Didorong oleh penyesalan itu, kau pun kemudian segera turun kembali ke lantai dua. Di sana kau menemui kasir yang tadi telah melayani pembayaranmu. Kau katakan bahwa kau tidak jadi membeli baju yang telah kau bayar tadi. Apa yang akan kau peroleh? Kasir itu akan mendelik sewot kepadamu.

Dia akan mengatakan bahwa kau tidak bisa mengembalikan baju itu kepadanya karena tugasnya hanyalah menerima pembayaran darimu. Dan kalau tadi kau sudah membayarnya, artinya baju itu sudah sesuai dengan pilihanmu. Karena itu, kalau kemudian kau mau mengembalikannya, kasir itu sama sekali tak punya wewenang untuk mengurusimu.

Kau semakin jengkel. Lalu kau menemui penjaga counter yang tadi juga telah melayanimu. Kau katakan kepadanya bahwa kau tidak jadi membeli baju itu dan kau berniat mengembalikannya. Dengan ramah, barangkali, penjaga counter itu masih akan melayanimu. Dia mungkin akan menanyakan apakah baju yang baru saja kau beli itu ada cacat atau kerusakannya? Apakah baju yang barusan kau beli itu terdapat kekurangan yang bisa diganti dengan baju lain yang satu merek dan berharga sama?

Kau jelas menggelengkan kepala karena memang alasanmu mengembalikan baju itu bukan karena baju itu rusak atau cacat atau terdapat kekurangan di dalamnya. Kau mau mengembalikan baju itu karena kau telah menemukan baju lain yang lebih bagus di lantai tiga, yang lebih bagus dibanding dengan baju yang telah kau beli tadi!

Apa jawab penjaga counter itu? Mungkin dengan sedikit sewot dia akan mengatakan, “Wah, kalau begitu alasannya, kami nggak bisa menerimanya. Kalau memang baju yang kamu beli tadi terdapat cacat atau kerusakan, kami memang bisa menukarnya dengan baju lain yang harganya sama. Tapi kalau alasannya begitu, ya maaf saja, kami bisa dimarahi bos kami kalau sampai melayani pengembalian seperti ini. Tadi kan saya sudah tanya apakah warnanya pas, kamu mengangguk. Saya tanya apakah modelnya pas, kamu mengangguk. Saya tanya apakah mereknya pas, kamu mengangguk lagi. Saya tanya apakah ukurannya pas, kamu juga mengangguk. Lha terus kalau sekarang mau dikembalikan, gimana dong?”

Kau semakin jengkel dan semakin menyesal. Tetapi bagaimanapun juga, baju yang telah dibungkus dengan kertas struk yang menempel yang kini ada di tanganmu itu tak bisa dikembalikan lagi. Apa yang waktu itu akan kau lakukan? Membuangnya di depan penjaga counter itu? Tak akan ada manfaatnya. Kau justru akan kehilangan baju yang telah menjadi milikmu.

Atau, mau mencaci-maki penjaga counter itu? Silakan saja. Tapi jangan kaget kalau kemudian kau ditangkap satpam karena bikin keributan di situ. Atau, mau nangis-nangis minta belas kasihan pada penjaga counter itu agar mengabulkan keinginanmu? Orang-orang yang ada di sekitar situ pasti akan menertawakanmu! Satu-satunya tindakan bijak yang bisa kau ambil waktu itu adalah segera pergi meninggalkan tempat itu, dan juga...membawa bungkusan bajumu!

Meski segera pergi dari situ adalah tindakan bijak, tapi karena tadi kau sudah ngotot ingin mengembalikan baju itu, para penjaga counter yang ada di situ pun akan menatapmu dengan pandangan aneh. Dan ketika kau telah melangkah pergi dari situ, mereka pasti akan berbisik-bisik, “Ssst, itu pasti tadi orang udik yang baru belanja di swalayan...”

Temannya mengangguk, lalu menyambung, “Ya kalau mau nyari yang lebih bagus ya nggak ada habis-habisnya! Lihat di lantai tiga lebih bagus, barang yang dibeli di sini mau dikembalikan. Ntar di lantai empat ada yang lebih bagus lagi, barang yang dibeli di lantai tiga mau dikembalikan lagi. Ya nggak ada habis-habisnya kalau mau nyari yang lebih bagus! Dasar sinting!”

Baca lanjutannya: Perjalanan Mencari dan Menemukan Cinta (6)