Perjalanan Mencari dan Menemukan Cinta (4)

 Perjalanan Mencari dan Menemukan Cinta

BIBLIOTIKA - Umpama kau ingin membeli sebuah baju di swalayan Love. Ketika sampai di sana, kau langsung naik ke lantai dua, melangkah ke counter baju dan langsung memilih-milih aneka baju yang terpajang manis di rangkaian hanger. Ada yang berharga penuh, ada pula yang berharga diskon. Bahkan ada pula yang didiskon sampai 70 persen. Tetapi kau sekarang sudah cukup bijak dalam memilih baju.

Kau menyadari bahwa baju-baju yang didiskon itu adalah baju-baju cacat atau baju-baju stok lama yang tidak laku-laku. Makanya harganya diturunkan dengan diskon agar baju itu segera laku agar gudang stok barang bisa dipenuhi dengan barang-barang baru. Karena itulah, meski baju-baju itu kini berharga lebih murah karena adanya diskon, kau tidak terbujuk dan tetap bersikukuh untuk memilih baju yang benar-benar pilihanmu, meski harganya lebih mahal, meski harganya tidak pakai diskon. Sekarang kau lebih bijak!

Lalu, pada suatu sudut counter baju itu, kau mendapatkan baju yang benar-benar sesuai dengan pilihanmu. Ini dia baju yang kucari itu, batinmu waktu itu. Kau langsung memeriksanya, menyentuh kainnya, meraba jahitannya, bahkan juga memeriksa kancing-kancingnya. Semakin kau periksa, kau semakin yakin kalau baju itulah baju yang kau cari.

Kau langsung jatuh cinta pada baju yang satu itu. Bahkan dalam benakmu kau sampai membatin, seluruh baju yang ada di lantai dua itu tak ada yang bisa menandingi baju pilihanmu. Saking gembiranya, kau sampai ngomong sama teman yang menemanimu, “Nah, ini lho baju yang kuinginkan itu!”

Karena mendengar suaramu, penjaga counter di dekatmu pun segera mendekatimu dan memberikan senyumnya, menanyakan apakah kau berminat dengan baju itu. Kau langsung mengangguk. Penjaga counter itu menanyakan apakah warnanya pas dengan pilihanmu? Apakah ukurannya pas dengan tubuhmu? Apakah coraknya sesuai dengan keinginanmu? Apakah mereknya juga oke menurutmu? Kau langsung mengangguk-anggukkan kepala berkali-kali tanda setuju. Penjaga counter itu menawarkan padamu untuk mencoba baju itu di kamar pas, dan kau kembali mengangguk. Lalu kau segera bergegas ke kamar pas untuk mencoba baju itu.

Ah, kau merasa nyaman memakai baju itu, dan begitu kau keluar dari kamar pas, kau langsung menemui penjaga counter tadi dan langsung menyatakan kalau kau akan membeli baju itu. Penjaga counter itu pun memberikan nota, lalu kau bergegas menuju ke tempat kasir untuk membayar baju pilihanmu. Sebagai tanda terima, petugas di tempat kasir membubuhkan kertas struk tanda jual pada plastik pembungkus bajumu, sebagai tanda yang menyatakan bahwa baju itu benar-benar telah kau beli dengan cara yang sah dan benar.

Lalu, dengan hati yang ringan kau melangkah meninggalkan kasir untuk naik ke lantai tiga di swalayan itu. Dengan menenteng bungkusan tas plastik berisi baju yang baru kau beli itu, kau pun kini berjalan santai di seputar lantai tiga. Di luar dugaanmu, ternyata di lantai tiga ini juga terdapat counter-counter baju. Karena tertarik, maka kau pun mendekati aneka baju yang terpajang di rangkaian hanger, dan tanpa kau sadari, kau kembali memilih-milih baju yang ada di situ, padahal di tanganmu telah ada sebungkus baju baru yang baru saja kau beli.

Yang membuatmu menyesal setengah mati adalah, ternyata salah satu baju di lantai tiga ini ada yang lebih bagus dan lebih cocok buat seleramu dibanding baju yang telah kau beli di lantai dua. Kau pun menyesal. Lebih menyesal lagi, uang di sakumu tidak cukup kalau harus digunakan untuk membeli dua baju. Baju pertama yang baru saja kau beli itu telah menghabiskan seluruh uang dalam dompetmu.

Baca lanjutannya: Perjalanan Mencari dan Menemukan Cinta (5)