Perjalanan Mencari dan Menemukan Cinta (3)

 Perjalanan Mencari dan Menemukan Cinta

BIBLIOTIKA - Seorang teman saya ada yang menjadi anggota PBB (Pecinta Barang Bekas). Dia selalu berusaha membeli semua barangnya di bursa barang bekas. Alasannya simpel saja; biar tidak keluar banyak duit! Sebagian besar barang yang dimilikinya adalah hasil dari pembelian barang bekas. Termasuk pula bajunya.

Kalau barang-barang bekas itu semacam guci antik, atau lukisan orisinal dari seorang pelukis terkenal, mungkin kita masih mengagumi, karena bagaimana pun juga, meski bekas, guci-guci antik atau lukisan-lukisan orisinal itu jelas lebih bermutu dan bernilai dibanding guci-guci atau lukisan-lukisan yang sekarang banyak dijual di swalayan atau di gerai-gerai. Tapi kalau baju bekas? Ya kalau baju bekasnya Micheal Jackson atau baju bekasnya Madonna memang memiliki nilai memorabilia atau nilai koleksi yang sangat tinggi. Tapi kalau baju bekas...yang benar-benar bekas?

Teman saya yang satu ini, didorong oleh kebiasaannya yang super ngirit, selalu membeli baju-bajunya di tempat penjualan baju bekas. Mungkin pula karena didorong oleh keinginannya untuk membeli banyak baju, teman saya ini pun sering membeli baju. Tapi tetap saja baju bekas. Nah, baju bekas yang telah dibeli dan dikumpulkannya itu sekarang jumlahnya sangat banyak dan bentuknya beraneka macam serta memiliki merek yang beraneka ragam.

Saya pernah tanya, di antara semua baju (bekas) miliknya itu, baju yang manakah yang paling disukainya; baju manakah yang paling terasa pas di badan dan di hatinya? Kau ingin tahu bagaimana jawabannya? Teman saya ini menjawab bahwa di antara semua baju (bekas) yang dimilikinya itu, tak ada satu pun baju yang paling ia sukai, tak ada satu pun baju yang terasa pas di badan dan di hatinya!

Karena itu pulalah kemudian dia semakin sering datang ke tempat penjualan baju bekas untuk mencari baju yang ia rasa bisa pas dengan keinginannya. Tapi sampai saat itu, sampai kemudian baju-baju itu bertumpuk di lemarinya, tetap saja ia belum pernah menemukannya.

Jelas saja, baju-baju bekas yang diobral di pinggir jalan, meski memiliki bentuk yang hebat dan merek yang terkenal, tetap saja tak akan bisa memberikan kedamaian dalam hati, tak akan bisa memberikan ketenangan dalam pikiran!

Saya pernah menyarankan agar dia sekali-kali membeli baju yang benar-benar baru. Apa jawabnya? “Baju-baju yang baru itu harganya mahal.”

Saya lalu mengatakan bahwa baju yang baru pun ada yang harganya murah. Dia menjawab, “Baju baru yang harganya murah itu tidak bermerek. Biasanya tidak enak dipakai. Mending beli baju bekas, asal mereknya terkenal.”

Kau lihat? Teman saya ini memiliki idealisme yang tinggi (merek yang terkenal) tetapi tidak mau membayar harga idealisme itu (harga yang mahal) dan lebih memilih idealisme yang tinggi tetapi yang diobral murah di jalanan! Bagaimana mungkin bisa tenang dan tenteram kalau pola pikirnya seperti itu? Semakin banyak dia membeli baju-baju bekas itu, maka semakin kurang puaslah hatinya. Padahal, kalau saja dia mau sedikit berkorban untuk menggunakan uangnya buat membeli satu baju saja yang benar-benar baru dan benar-benar berkualitas, maka dia pasti akan merasa puas!

Inilah pesan paling penting dalam membeli dan memilih sebuah baju: Lebih baik memiliki satu baju yang benar-benar pas di badan dan terasa nyaman dipakai, daripada memiliki banyak baju tapi tak ada satu pun yang bisa pas dan enak dipakai!

Baca lanjutannya: Perjalanan Mencari dan Menemukan Cinta (4)