Perjalanan Mencari dan Menemukan Cinta (2)

 Perjalanan Mencari dan Menemukan Cinta

BIBLIOTIKA - Sekarang jernihkan hatimu. Kalau kita harus menyalahkan seseorang atau sesuatu, siapakah yang paling layak disalahkan ketika baju yang kau kira bagus itu ternyata tak sebagus yang kau kira? Apakah baju itu yang harus disalahkan?

Kalau saja baju itu bisa bicara, maka dia pasti akan berargumentasi, “Lho, mengapa kau salahkan aku? Aku ini memang baju murahan. Aku dibikin oleh tangan-tangan penjahit kodian yang hanya memburu waktu untuk mendapatkan banyak uang. Karena itu, aku ini baju yang memang dikhususkan buat orang-orang yang tidak mempersoalkan mutu dan kualitas. Lagian, kau kan juga sudah tahu kalau merekku ini merek palsu. Kenapa dulu kau memilihku?”

Atau, kau mau menyalahkan penjual baju itu? Kalau iya, maka kau pasti akan disemprot oleh penjual itu dengan kata-kata yang mungkin seperti ini, “Kau gila ya? Masak kau menginginkan baju yang bagus dengan harga yang murah segitu? Jangan lupa, yang saya jual ini baju murahan, karena mereknya juga merek murahan. Ini pasar jalanan, euy! Lagi pula, saya ini kan hanya menjual dan mencari untung. Kalau dulu kau memilih baju yang saya jual itu, saya jelas saja melayanimu karena saya memang ingin baju yang saya jual itu bisa laku!”

Nah, siapa yang paling layak disalahkan dalam hal ini? Jawabannya jelas; dirimu! Dirimu sendirilah yang paling layak dipersalahkan ketika kau kecewa pada bajumu. Mengapa? Kau terlalu terburu nafsu. Kau tak mau melakukan penelitian yang lebih seksama terlebih dulu pada baju yang akan kau ambil itu. Kau hanya mementingkan wujud dan bentuk. Kau hanya mengagungkan corak dan warna. Tetapi kau sama sekali tak memikirkan mutu dan kualitas!

Baju-baju murahan yang diobral di pinggir jalan mungkin memiliki bentuk yang sama dengan baju-baju mahal di etalase toko. Mengapa? Karena pasar jalanan selalu berusaha untuk meniru barang yang dijual di etalase toko! Mereka meniru modelnya, warnanya, coraknya, bentuknya, wujudnya, bahkan terkadang mereka pun berusaha meniru mereknya dengan merek yang memiliki nama hampir sama.

Tetapi bagaimanapun, baju di jalanan tetap berbeda dengan baju di etalase toko. Sentuhlah kainnya, rabalah benang-benang jahitannya, dan kau pasti akan menemui perbedaan itu. Kalau kau belum yakin juga, periksalah mereknya! Kita memang bukan sedang bicara soal merek atau mendewakan merek. Kita sedang berbicara tentang idealisme dalam memilih baju!

Sekali lagi, kau terlalu terburu nafsu. Niat pertamamu untuk membeli baju yang berkualitas di swalayan Love telah dikalahkan oleh rayuan penjual baju di jalanan yang menawarkan baju-baju yang hampir sama. Barangkali kau mungkin selamat dari rayuan itu kalau saja kau memberikan waktu pada dirimu sendiri untuk memeriksa baju itu. Tetapi sekali lagi, kau terlalu terburu nafsu.

Kau hanya menerima apa yang ditawarkan kepadamu. Kau hanya memilih apa yang ada di depan matamu. Karena itu, ketika kau dikecewakan oleh bajumu, ketika baju yang kau anggap bagus itu ternyata tak sebagus yang kau kira, ketika ternyata baju yang pada mulanya indah itu kemudian pudar dan bahkan lalu kainnya mudah bolong-bolong, maka jangan salahkan ia, jangan salahkan penjualnya, tapi salahkanlah dirimu sendiri, karena kau telah kalah oleh nafsumu sendiri.

Baca lanjutannya: Perjalanan Mencari dan Menemukan Cinta (3)