Perjalanan Mencari dan Menemukan Cinta (1)

  Perjalanan Mencari dan Menemukan Cinta

BIBLIOTIKA - Cinta adalah bahasa yang paling universal yang pernah dimiliki oleh makhluk bernama manusia. Bahkan saking universalnya, cinta ini pun bisa diumpamakan dengan berbagai barang, berbagai hal dan berbagai objek pemikiran. Ada yang menyebut cinta itu sebagai garam dunia. Ada yang mengatakan cinta itu api dalam kedinginan dan tetes air dalam panas kehausan. Ada yang menulis cinta itu laksana rembulan di langit yang penuh kilau bintang, dan berbagai macam perumpamaan lainnya.

Lalu, bagaimana kalau cinta itu diumpamakan dengan baju? Ada beberapa skenario yang cukup panjang untuk menjelaskan itu, dan catatan berikut ini berusaha untuk memberikan penjernihan tentang perumpamaan itu, satu demi satu.

Umpama kau punya niat untuk memiliki sebuah baju. Kau mendengar dari banyak orang kalau (umpamanya saja) swalayan Love menyediakan banyak baju yang bagus dan sangat nyaman dipakai. Memang harga-harga baju di swalayan Love tergolong lebih mahal dibanding dengan harga baju di tempat lain. Tetapi sebagaimana yang kau tahu, untuk sebuah baju, kita membutuhkan baju yang awet dan nyaman dipakai, dan bukan hanya mencari harga yang murah saja. Dan kau pun kemudian ingin memiliki baju itu, ingin merasakan kenyamanan memakai sebuah baju untuk tubuhmu.

Lalu kau mulai membayangkan dan menentukan baju macam apa yang kau inginkan, yang kau harapkan bisa menjadi milikmu. Kau membayangkan bentuk dan wujudnya, warna dan coraknya, bahkan kau pun sudah menimbang-nimbang merek baju yang akan kau pilih.

Ketika berangkat dari rumah, kau sudah membulatkan niatmu untuk membeli baju di swalayan Love. Tetapi ketika sampai di tengah jalan, kau melihat serangkaian penjual baju yang menawarkan baju-baju yang persis sama dengan baju yang kau bayangkan tadi. Warna dan coraknya sama, bentuk dan wujudnya sama, hanya mereknya yang berbeda. Kalau di swalayan Love baju itu bermerek Xira, maka baju di pinggir jalan itu bermerek Cira. Sekilas memang sama, tapi bagaimanapun juga, dua merek itu jelas berbeda, bahkan berbeda jauh.

Tetapi karena kau sudah ngebet ingin punya baju, maka kau pun menjadi terlupa atau setidaknya tak lagi terlalu mengurusi soal merek itu. Yang ada dalam pikiranmu waktu itu hanyalah sebuah baju dengan bentuk dan wujud pilihanmu. Kau lebih suka lagi dengan baju di pinggir jalan itu karena harganya yang jauh lebih murah dibandingkan dengan baju yang di swalayan Love. Maka setelah tawar-menawar, kau pun langsung membayar baju itu dan kamu pun membawanya pulang untuk segera kau pakai di tubuhmu.

Mula-mula kau senang, bahkan bahagia dengan baju barumu itu. Kemana pun kau pakai dan kepada siapapun kau ceritakan tentang bajumu yang baru, yang begitu kau sukai itu. Kau begitu bangga dengan bajumu, dan bahkan kau pun sampai bersumpah takkan meninggalkan baju itu sampai kapan pun.

Tetapi kemudian, karena baju murahan dan bermerek palsu, kau pun mulai merasakan adanya tanda-tanda ketidakberesan pada bajumu. Baju yang pada mulanya nyaman dipakai itu lama-lama tidak nyaman lagi. Kau merasakan seperti ada sesuatu yang tidak beres dengan bajumu. Jahitannya satu persatu lepas, bahkan kancingnya pun tiba-tiba ada yang hilang. Mungkin kancing itu terjatuh saat kau pakai tanpa kau menyadarinya. Lebih gawat lagi, warna baju itu menjadi lebih gampang pudar dan apabila sehabis dicuci, kau harus setengah mati menyeterikanya biar kainnya bisa mulus lagi.

Kau mulai dongkol. Kau pun marah-marah. Baju yang kau anggap bagus itu ternyata baju brengsek yang sama sekali tak menyenangkan untuk dimiliki. Lalu kau pun mulai menceritakan pada kawan-kawanmu tentang brengseknya baju yang dulu pernah kau sanjung-sanjung setengah mati itu. Ketika mendengar umpatanmu pada baju yang kau miliki itu, mungkin teman-temanmu mendengarkannya dengan penuh simpati. Tapi tahukah kau, waktu itu pun, di dalam hati masing-masing temanmu, mereka juga tengah menertawakanmu!

Baca lanjutannya: Perjalanan Mencari dan Menemukan Cinta (2)