Lakshmi Mittal, Penguasa Industri Baja Terbesar di Dunia

 Lakshmi Mittal, Penguasa Industri Baja Terbesar di Dunia

BIBLIOTIKA - Di Sidoarjo, Indonesia, ada sebuah daerah bernama Waru. Di tempat itu, pernah tinggal seseorang yang kini menjadi salah satu orang terkaya di dunia. Namanya Lakshmi Mittal. Saat ini, dia dikenal sebagai pemimpin Mittal Steel Company NV, perusahaan baja terbesar di dunia.

Lakshmi Mittal lahir pada 2 September 1950 di Rajgarh, India. Nama lengkapnya Lakshmi Narayan Mittal, tapi sering pula disebut Lakshmi Niwas Mittal. Dia lahir dan tumbuh di keluarga miskin. Ketika kecil, dia dan keluarganya tinggal di rumah sempit yang dihuni 20 orang. Mereka biasa tidur di lantai, dan memasak dengan tungku.

Dalam keadaan miskin semacam itu, ayah Lakshmi Mittal menyadari bahwa pendidikan adalah hal yang penting. Ayah Lakshmi Mittal bernama Mohan Mittal. Mohan Mittal adalah orang yang kurang berpendidikan. Ketika menjadi orang tua dengan banyak anak, dan hidup miskin, Mohan Mittal pun seperti disadarkan bahwa kemiskinannya berasal dari kebodohan. Maka dia pun bertekad anak-anaknya mendapatkan pendidikan.

Kesadaran itu menjadikan Mohan Mittal bekerja keras tanpa henti, dan berupaya mencari usaha yang dapat dijalankan, agar punya biaya menyekolahkan anak-anaknya. Sampai kemudian, dia diajak seorang teman untuk membantu usaha di bidang baja. Mohan Mittal pun bersedia, meski untuk itu dia harus pindah ke Kalkutta bersama keluarganya.

Di Kalkutta, Mohan Mittal dan temannya mengelola pabrik kecil yang mengolah baja. Lakshmi Mittal, yang waktu itu masih kecil, sering membantu ayahnya di pabrik, di sela-sela waktu sekolahnya. Dia juga mewarisi semangat kerja keras ayahnya yang setiap hari ia saksikan saat di pabrik. Kerja keras Mohan Mittal tidak sia-sia. Ia berhasil membiayai pendidikan Lakshmi Mittal hingga bisa kuliah di St. Xavier’s College Calcutta, dan mendapat gelar Bachelor of Commerce Degree.

Seiring berjalannya waktu, dan Lakshmi Mittal tumbuh dewasa, Mohan Mittal mulai bisa memiliki pabrik sendiri. Lakshmi Mittal pun membantu usaha ayahnya, hingga tahu seluk-beluk bisnis baja. Sayangnya, usaha mereka terganjal peraturan pemerintah India yang mengenakan pajak sangat tinggi untuk usaha baja (mencapai 97 persen). Pemerintah India juga membatasi kuota produksi baja yang dikelola oleh swasta.

Kenyataan itu membuat Lakshmi Mittal gelisah. Bagaimana pun, usaha mereka akan sulit berkembang di India, karena terganjal oleh pemerintahnya sendiri. Akhirnya, Lakshmi Mittal memutuskan untuk keluar dari India, dan membangun usaha di luar negeri. Waktu itu, Lakshmi Mittal berpikir untuk mencoba membangun usaha di Indonesia. Alasannya, dia memiliki seorang kerabat yang menikah dengan warga negara Indonesia keturunan India.

Lakshmi Mittal pun pindah ke Indonesia, pada pertengahan 1970-an. Dia tinggal di daerah Waru, Sidoarjo. Karena belum bisa berbahasa Indonesia, dia pun banyak dibantu oleh kerabatnya yang telah lama tinggal di Indonesia. Melalui kerabatnya pula, Lakshmi Mittal diperkenalkan seorang wanita bernama Nur Saidah, yang kemudian menjadi orang kepercayaannya dalam membangun usaha baja di Sidoarjo.

Pada 1976, Lakshmi Mittal membeli sebuah pabrik baja yang nyaris bangkrut di Indonesia, kemudian mengubahnya menjadi perusahaan yang menguntungkan, dan menamainya Mittal Steel. Dari situ, dia terus mengembangkan bisnis baja di Indonesia, hingga cukup besar, dengan bantuan Nur Saidah. (Saat ini, Nur Saidah menjabat sebagai pimpinan PT. Ispat Indo, pabrik baja di bawah naungan Mittal Corporation).

Selama 13 tahun Lakshmi Mittal beroperasi di Sidoarjo, dan daerah Waru yang semula terpencil perlahan mulai maju. Orang-orang berdatangan ke daerah itu untuk mencari kerja. Pada masa itu, pabrik Lakshmi Mittal bahkan telah mampu memproduksi 60.000 ton baja per tahun, bahkan terus meningkat menjadi 700.000 ton per tahun.

Sampai kemudian, pada 1994, Lakshmi Mittal berencana meluaskan bisnisnya ke Trinidad dan Tobago. Di negara kepulauan yang terletak di pantai timur Amerika Tengah itu, dia mengakuisisi Iscoot, perusahaan baja milik pemerintah setempat, yang nyaris bangkrut. Dia mengelola pabrik itu hingga sehat kembali.

Lalu Lakshmi Mittal melakukan ekspansi ke Meksiko. Di sana dia mengakuisisi Sicartsa, perusahaan baja milik pemerintah yang juga nyaris bangkrut. Nama perusahaan itu dia ubah menjadi Mittal Steel Lazaro Cardenas, dan menjadi tulang punggung produksi baja kelompok Mittal Steel di seluruh dunia. Produksinya mencapai 6,7 juta ton per tahun.

Sukses di Meksiko, Lakshmi Mittal kemudian mengakuisisi perusahaan serupa di Kanada, Jerman, Irlandia, Inggris, Amerika Serikat, Kazakhstan, hingga Polandia. Dia juga mengakuisisi pabrik baja terbesar di Eropa, Arcelor, yang berlokasi di Luksemburg. Pabrik raksasa itu sebelumnya dimiliki bersama antara pemerintah Prancis, Belgia, dan Spanyol. Pada 2006, dia mendirikan perusahaan induk di London, Inggris, dengan nama Arcelor-Mittal, yang lalu berubah nama menjadi Mittal Steel Company.

Saat ini, Mittal Steel Company telah menjadi perusahaan produsen baja internasional yang mencakup 14 negara di 4 benua, dengan jutaan ton produksi. Sebagai pengusaha yang berhasil merangkak dari bawah, Lakshmi Mittal pun kini dikenal sebagai “raja baja”, dan namanya masuk dalam daftar orang-orang terkaya di dunia.

Saat ditanya media mengenai resep suksesnya, Lakshmi Mittal menjawab, “Banyak orang sukses yang bekerja keras. Karena itu, jika ingin sukses, kita harus bekerja lebih keras, dan mendedikasikan diri pada tujuan yang ingin kita capai.”

Lakshmi Mittal memilih Inggris sebagai tempat tinggal, dan di sana dia membeli Kensington Mansion, senilai 128 juta dollar, yang disebut-sebut sebagai rumah termahal sepanjang sejarah.

Dia juga menyelenggarakan pesta perkawinan yang luar biasa mewah untuk putrinya, Vanisha Mittal, hingga menghabiskan biaya 50 juta dollar. Acara perkawinan yang diadakan pada 2012 itu dirayakan 5 hari berturut-turut di Palace of Versailles, Hotel Bristol, dan Jardin-des-Tuileries, Paris. Tamu-tamu yang berjumlah sekitar 1.200 orang disediakan tempat menginap di Hotel Intercontinental selama pesta berlangsung. Undangan perkawinannya berbahan perak setebal 21 halaman, disertai cenderamata berupa giok dan berlian.

Meski begitu, Lakshmi Mittal juga tidak ingin menjadi “kacang yang lupa kulit”. Di India, tanah kelahirannya, dia mendirikan Mittal Champions Trust, dan menyumbangkan dana hingga jutaan dollar untuk mendukung para atlet India, agar bisa berprestasi dan mengharumkan nama bangsa.