Kesunyian yang Mengubah Banyak Hal

Kesunyian yang Mengubah Banyak Hal

BIBLIOTIKA - Bertahun-tahun lalu, ada seorang lelaki yang dikenal dengan nama Gus Miek, salah satu manusia misterius yang diyakini banyak orang sebagai wali. Gus Dur pun, secara langsung maupun tak langsung, mengakui Gus Miek sebagai wali.

Sebagai orang yang terkenal alim, dan dihormati para ulama, Gus Miek kerap melakukan hal-hal yang bisa dibilang “melenceng” dari aktivitas orang alim. Ketika para ulama lain sibuk berceramah tentang ajaran agama, Gus Miek masuk diskotik. Ketika para ulama lain berada di tengah-tengah masyarakat santri, Gus Miek ada di bar, bersama orang-orang mabuk.

Tetapi kemana pun Gus Miek datang, dia menciptakan perubahan. Dia mendatangi tempat-tempat perjudian, dan besoknya tempat judi itu sepi—tidak ada lagi orang berjudi. Dia nongkrong di tempat sabung ayam, dan besoknya tempat itu juga sepi—tidak ada lagi orang menyabung ayam. Dia mendatangi tempat-tempat maksiat, dan hal serupa terjadi. Tempat itu berubah sepi, orang-orang berhenti maksiat.

Gus Miek mendatangi tempat-tempat itu dengan sunyi, tanpa ribut-ribut, tanpa ceramah, tanpa membawa TOA apalagi senjata. Dia hanya datang, berbaur dengan orang-orang di mana pun, tanpa menceramahi siapa pun, tanpa melukai siapa pun, tanpa ribut-ribut, dan... tiba-tiba, perubahan terjadi. Orang-orang berhenti berjudi, berhenti mabuk, berhenti nyabung ayam, berhenti maksiat. Tidak ada yang terluka dan melukai. Semuanya terjadi dalam sunyi.

Dan Gus Miek melakukan semua itu juga tanpa ribut-ribut, tidak pernah berusaha memamerkan kehebatannya, tidak pernah berusaha agar dirinya diliput media, intinya tidak pernah berharap diketahui orang. Selama waktu-waktu dia melakukan semua “keajaiban” itu, nyaris tidak ada orang yang tahu. Dalam keheningan, dia melakukan banyak hal yang sulit—bahkan hampir mustahil—dilakukan kebanyakan orang.

“Kelakuan aneh” Gus Miek baru diketahui segelintir orang, ketika tanpa sengaja ada orang yang mengenal dirinya, dan memergokinya. Orang itu melihat Gus Miek di diskotik, lalu berita itu mulai tersiar. Tidak lama setelah itu, Gus Miek meninggal. Dan orang-orang baru tahu “prestasi” luar biasa yang telah dilakukan orang itu selama ini, secara diam-diam, dalam hening, dalam sunyi.

Saya sering membayangkan Gus Miek sebagai orang yang memahami sepenuhnya bahwa ibadah dan perbuatan baik adalah sesuatu yang esensial, dan bukan sebatas artifisial. Karena esensial, dia tidak peduli pujian manusia, atau penghargaan apa pun, karena dia hanya melakukan apa yang harus dilakukan. Tanpa ribut-ribut, tanpa suara, tanpa bising TOA.

Dia bahkan membawa esensi itu ke tempat yang lebih jauh, bukan ke masjid atau mushala, melainkan ke tempat sabung ayam, ke tempat perjudian, ke diskotik, ke tempat orang-orang mabuk. Dia juga tidak pernah menceramahi siapa pun, tidak pernah menimbulkan kebisingan apa pun. Dia hanya datang, duduk di sana, tidak dikenali siapa pun, lalu perubahan terjadi. Yang mabuk berhenti mabuk. Yang nyabung ayam berhenti nyabung ayam. Yang suka berjudi berhenti berjudi.

Kini, saat menulis catatan ini, saya seperti memahami kenapa Gus Miek meninggal saat usianya masih relatif muda. Mungkin karena Tuhan dan dia sama-sama tahu, bahwa hanya kematianlah yang mampu menjauhkan manusia dari bisingnya dunia.