Cara Membedakan Benjolan Tumor dan Kanker pada Payudara

 Cara Membedakan Benjolan Tumor dan Kanker pada Payudara

BIBLIOTIKA - Kanker payudara merupakan pertumbuhan yang tidak normal dari sel-sel payudara, yang berubah menjadi ganas. Biasanya, kanker payudara ditandai dengan adanya benjolan, meski tidak semua benjolan di payudara pasti merupakan kanker. Kenyataannya, hanya 15 persen benjolan di payudara yang dapat berkembang menjadi kanker. Meski begitu, wanita perlu mewaspadai setiap perubahan apa pun yang terjadi pada payudaranya, khususnya benjolan, dengan cara sering melakukan pemeriksaan pada payudara sendiri.

Benjolan pada payudara bisa merupakan kanker, namun bisa pula hanya tumor jinak. Tumor jinak tidak seberbahaya kanker, karena tidak menyebabkan kegagalan organ yang dihinggapi. Lalu bagaimana cara membedakan benjolan yang merupakan kanker dan yang bukan? Setidaknya, beberapa hal berikut bisa diperhatikan.

Pertama, kanker lebih cepat bertumbuh, dibandingkan tumor. Dalam waktu 8 sampai 200 hari, sel-sel kanker dapat membelah dengan sangat cepat, sementara tumor memiliki pertumbuhan yang lambat.

Kedua, saat diraba, benjolan kanker terasa keras dan padat, bahkan—saat Anda merabanya—bisa terasa seperti meraba tulang. Sementara benjolan tumor akan teraba lebih lunak. Benjolan tumor pun dapat mengalami pergeseran saat ditekan, tidak seperti kanker yang kaku. Hal itu terjadi, karena sel-sel kanker umumnya melakukan infiltrasi (penyusupan) terhadap jaringan-jaringan di sekitarnya, sehingga sulit untuk digerakkan.

Benjolan kanker yang sudah berkembang lebih lanjut juga bisa menyebabkan perubahan pada permukaan payudara, misalnya puting yang tertarik ke dalam, karena infiltrasi tadi.

Merujuk pada kenyataan ini, wanita pun perlu diingatkan kembali untuk rutin melakukan pemeriksaan pada payudara sendiri (SADARI), agar bisa secepatnya mendeteksi kelainan apa pun yang mungkin terjadi pada payudaranya. Semakin dini kanker ditemukan, semakin besar pula kemungkinannya untuk disembuhkan. Dalam hal ini, deteksi dini menjadi hal yang penting untuk dilakukan.

Seperti melakukan keterampilan lain, kemampuan dalam melakukan pemeriksaan pada payudara sendiri juga akan meningkat seiring kebiasaan yang dijalani. Pada awal-awal melakukan SADARI, wanita mungkin belum terlalu paham atau terampil dalam mengenali payudaranya sendiri, sehingga masih kesulitan untuk mendeteksi kelainan pada payudaranya. Namun, lama-lama, seiring makin sering melakukannya, keterampilan bahkan kepekaan wanita dalam melakukan SADARI pun akan terus meningkat.

Tingkat akurasi SADARI dalam mendeteksi kanker payudara memang tidak setinggi jika menggunakan ultrasonografi (USG) atau mammogram. Sebagai perbandingan, mammografi yang dilakukan pertama kali dapat mendeteksi benjolan sebesar 0,6 centimeter. Sedangkan bila dilakukan secara teratur, teknik mammografi dapat mendeteksi benjolan yang ukurannya 0,2 centimeter.

Meski begitu, SADARI bisa dilakukan sendiri, sehingga bisa lebih rutin setiap bulan. SADARI yang dilakukan tidak teratur akan bisa mendeteksi benjolan pada payudara yang berukuran (diameter) 3,75 centimeter atau lebih.

Jika dilakukan dengan teratur, SADARI bisa mendeteksi benjolan yang berukuran lebih kecil yaitu 2,75 centimeter. Sementara jika sudah terampil melakukannya, benjolan yang berukuran 1,2 centimeter sudah dapat teraba. Itu artinya, semakin sering melakukan SADARI, semakin terampil dan semakin peka pula Anda dalam melakukannya.