Ancaman Bahaya di Balik Permainan Pokémon GO (3)

 Ancaman Bahaya di Balik Permainan Pokémon GO

BIBLIOTIKA - Seorang ekspatriat Australia yang bekerja di Singapura sebagai vice president properti, dipecat akibat mencela Singpura karena Pokémon GO belum masuk negara tersebut. Ekspatriat itu bernama Sonny Truyen, dan dia menulis di laman akun Facebook miliknya, karena kesal tak dapat memainkan Pokémon GO. Tulisan di akun Facebook itu berbunyi, “You can’t f**king catch Pokémon in this piece of f**king sh*t country.”

Seorang wanita di Facebook merespons, “Why would you call Singapore “a f**king sh*t country?””

Sonny Truyen menjawab, “Cos its full of stup*d like you… I stated why at the start of the sentence.”

Kemudian wanita itu membalas, “Get out of our country!”

Posting percakapan itu seketika viral di Singapura, hingga terdengar oleh kolega-kolega Sonny Truyen dalam bisnis. Akhir cerita, Sonny Truyen dipecat dan diusir dari Singapura gara-gara polemik tersebut.

Kepala benjol gara-gara Pokémon GO

Sementara itu, departemen kepolisian di negara bagian Washington, AS, telah memberikan peringatan kepada para pemain Pokémon GO ketika ada di belakang markas mereka. Peringatan itu dikeluarkan gara-gara mereka menemukan beberapa pemain Pokémon GO mengalami benjol-benjol di kepala dan memar di beberapa bagian tubuh saat bermain, setelah terbentur akibat tidak memperhatikan dunia nyata selama permainan.

Peringatan serupa juga dikeluarkan oleh kepolisian di wilayah Australia, bersama dinas pemadam kebakaran dan layanan darurat di negara tersebut. Mereka mengatakan, banyak pemain Pokémon GO yang menjadi “gila” karena tidak lagi menyadari keberadaan sekelilingnya, dan hanya fokus pada layar ponsel permainannya. Yang mengkhawatirkan, bagaimana jika mereka bermain di tengah jalan? Atau bagaimana jika mereka bermain ketika sedang mengendarai kendaraaan?

Karena kenyataan-kenyataan itulah, sebagian orang sampai menyatakan bahwa permainan Pokémon GO bisa membuat pemainnya seperti ketagihan narkoba, karena mereka tidak lagi peduli dengan siapa berhadapan, di mana mereka berada, kata-kata kasar apa yang mereka lontarkan tanpa sadar.

Jual beli data dan informasi pemain

Bahaya lain yang juga menjadi ancaman di balik permainan Pokémon GO adalah kemungkinan penjualan data dan informasi pemain kepada pihak ketiga. Pokémon GO adalah permainan yang gratis untuk dimainkan, dan para gamer curiga hal itu memiliki akses kepada privasi mereka. Permainan Pokémon GO mampu mengumpulkan harta karun informasi dan data pengguna, serta mengetahui kebiasaan browsing internet pengguna.

Melalui akses terhadap Pokémon GO, maka data dan informasi serta kebiasaan masing-asing pemain akan dapat terlihat, seperti situs-situs apa yang pernah dibuka, bagaimana kebiasaan berinternetnya, apa kesukaannya, dan lain-lain.

Dalam privacy policy (kebijakan pribadi bagi pengguna) Pokémon GO yang bekerjasama dengan pemerintah AS, salah satu poin yang disebutkan adalah bahwa mereka (penyedia permainan) memiliki izin untuk mengumpulkan alamat IP pengguna, sejarah web apa yang pernah dan sedang diakses, berikut informasi lokasi dan beberapa data-data pemain lainnya. (“The game’s privacy policy reveals it has permission to collect users’ IP addresses, web history and location information, among other data.”)

Informasi tersebut dapat digunakan oleh penyedia layanan game untuk mengetahui kebiasaan perjalanan para pengguna game di dunia maya, siapa saja pengguna game yang ada di suatu daerah, dan banyak lagi lainnya. Data-data itu kemudian bisa dijual kepada pihak ketiga. (“The data could then be sold to third parties.”)

Salah satu aturan kebijakan pribadi bagi pengguna (privacy policy) pada permainan Pokémon GO mirip dengan yang terdapat untuk aplikasi-aplikasi lain, yang mengandalkan lokasi para pengguna atau gamers. Untuk hal tersebut, laman BuzzFeed menulis, “Jika gamer menggunakan akun Google pada iPhone untuk masuk, maka permainan Pokémon GO bisa memiliki akses ke e-mail mereka, Google Docs, dan lainnya.”

Baca lanjutannya: Ancaman Bahaya di Balik Permainan Pokémon GO (4)