Agar Lebih Akurat Mendeteksi Kanker Payudara

Agar Lebih Akurat Mendeteksi Kanker Payudara

BIBLIOTIKA - Bagaimana pun, pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan. Dalam hal kanker payudara, mencegah tentu juga jauh lebih baik daripada mengobati. Kalau pun tak bisa dicegah, setidaknya dapat terdeteksi sejak dini, sehingga penanganan yang dilakukan dapat lebih baik. Dalam upaya deteksi dini tersebut, pemeriksaan payudara sendiri atau SADARI memiliki peranan penting.

Bagi para remaja putri, yang mulai menginjak usia 20 tahun, melakukan SADARI sudah mulai perlu dibiasakan. SADARI bisa dilakukan setelah mandi, dan di luar masa menstruasi. Mengenai waktu atau tanggalnya bisa ditentukan sendiri, yang penting dilakukan secara rutin.

Cara melakukan SADARI juga relatif mudah. Cukup berdiri di depan cermin, tangan kanan memeriksa payudara kiri, dan sebaliknya tangan kiri memeriksa payudara kanan. Lakukan pemeriksaan dengan meraba atau memutar telapak tangan seiring jarum jam dan sebaliknya, berulang kali. Pastikan tidak ada benjolan atau apa pun yang aneh pada payudara.

Selain SADARI, upaya lain yang bisa dilakukan untuk mendeteksi keberadaan kanker payudara secara lebih dini adalah melakukan USG payudara atau breast ultrasound. Metode ini lebih diperuntukkan bagi wanita yang telah menginjak usia 30 tahun.

USG payudara mirip dengan USG kandungan. Pertama-tama, pasien diminta berbaring di atas tempat tidur, kemudian bagian payudara diberi gel. Setelah itu, petugas medis akan menjalankan transduser ke seputar payudara, untuk mendapatkan gambaran ada atau tidaknya tumor ataupun kista di dalam payudara.

Pada waktu wanita memasuki usia 40 tahun, ada metode lain yang merupakan gabungan antara SADARI dan USG, yaitu mammografi. Mammografi disarankan dilakukan 3 tahun sekali untuk wanita berusia 40-45 tahun.

Khusus untuk mereka yang memiliki risiko tinggi, seperti kelebihan berat badan, belum punya anak, dan ada riwayat kanker dalam keluarga, mammografi disarankan dilakukan setiap 2 tahun sekali. Kemudian, saat memasuki usia 50 tahun, wanita disarankan melakukan pemeriksaan mammografi 2-3 tahun sekali. Sedangkan wanita yang telah berusia di atas 60 tahun, disarankan melakukan pemeriksaan mammografi sekitar 1-2 tahun sekali.

Pemeriksaan mammografi dilakukan seperti rontgen pada dada. Mula-mula, pasien diminta melepaskan berbagai aksesori logam dan pakaian, serta hanya menggunakan pakaian khusus mammografi.

Pada waktu pemeriksaan mammografi dilakukan, pasien bisa duduk atau berdiri, tergantung pada peralatan yang digunakan. Kemudian, salah satu payudara akan diletakkan di atas pelat datar, dan di bagian atas ada semacam plastik yang menekan payudara ke bawah untuk meratakan. Proses itu dimaksudkan untuk memperlihatkan jaringan payudara yang akan disinar-X.

Foto-foto kelenjar payudara akan diambil dari berbagai sudut, untuk memperoleh akurasi yang optimum. Pada mesin mammografi jenis Full Field Digital Mammography (FFDM) yang bekerja secara digital, gambar sinar-X yang didapat bisa diolah di layar komputer, sehingga meningkatkan akurasi hasil foto sinar-X.

Apabila pemeriksaan USG dan mammografi menemukan kejanggalan pada payudara, pemeriksaan bisa dilanjutkan dengan melakukan MRI (magnetic resonance imaging) terhadap payudara. Metode ini juga merupakan alternatif deteksi kanker payudara bagi wanita di atas 40 tahun, atau bagi wanita yang tidak nyaman dengan pemeriksaan mammografi.

Pemeriksaan menggunakan MRI memungkinkan dokter memperoleh gambaran struktur, bentuk, dan komposisi payudara secara lebih detail, bahkan bisa menangkap adanya sel yang (mungkin) sudah mengarah menuju kanker. Dibandingkan jenis pemeriksaan lain, metode MRI relatif lebih mahal biayanya.

Terakhir, pilihan lain yang bisa dipilih untuk mendeteksi kanker payudara adalah breast thermography atau termografi payudara. Berdasarkan penelitian klinis, pemeriksaan termografi memiliki sensitivitas yang meningkat hingga 98 persen jika dilakukan bersama mammografi.

Termografi juga relatif aman, karena tidak menimbulkan radiasi, tanpa injeksi, juga tanpa penekanan apa pun. Dengan memanfaatkan digital infra-red thermal imaging, pemeriksaan dengan termografi akan menemukan pola panas normal dan tak normal yang dihasilkan oleh adanya sel kanker. Pasien cukup berdiri di depan alat termografi, kemudian petugas akan merekam pola panas payudara. Bila terdapat warna merah (tanda suhu tinggi tak normal), maka terdapat aktivitas sel tumor.