Tips Menjalin Cinta Setelah Patah Hati

Tips Menjalin Cinta Setelah Patah Hati

BIBLIOTIKA - Sering kali kita merasa khawatir, ketakutan, dan merasa ragu-ragu ketika akan memulai sesuatu, termasuk dalam hal menjalin suatu hubungan baru dengan seseorang, entah hubungan persahabatan atau hubungan cinta. Perasaan khawatir, keraguan atau bahkan ketakutan itu biasanya timbul karena adanya perasaan takut ditolak, takut akan sakit hati, dan lain-lain.

Perasaan yang negatif semacam itu biasanya akan lebih kuat ketika kita pernah merasa trauma atas hubungan terdahulu, ketika kita merasa patah hati, sakit dan kecewa atas hubungan yang pernah kita jalin dengan seseorang—entah hubungan persahabatan ataupun hubungan pacaran.

Tentu saja ketakutan atau perasaan khawatir dan ragu-ragu itu akan menjadikan kita sulit melangkah, khususnya ketika akan menjalin suatu hubungan yang baru.
Nah, berikut ini adalah beberapa tips untuk mengatasi perasaan ketakutan yang berlebihan itu, dan jalan menuju pikiran serta hati yang lebih terbuka untuk dapat menerima suatu hubungan yang baru, serta menjalinnya.

Jangan takut berkomitmen

Ketika kita menjalin suatu hubungan dengan seseorang, entah itu hubungan persahabatan, lebih khususnya lagi hubungan cinta, maka secara langsung maupun tak langsung kita akan memasuki suatu keterikatan, bahkan suatu komitmen.

Keterikatan, karena bagaimana pun juga kita telah terhubung atau menghubungkan diri kita dengan orang lain dalam hubungan tersebut. Komitmen, karena suatu hubungan persahabatan atau hubungan cinta tentu saja memerlukan komitmen (yang meskipun tidak terucap) untuk bersama menjaga keutuhan hubungan itu.

Nah, bukalah hati untuk menyadari bahwa komitmen dalam suatu hubungan bukanlah sesuatu yang menakutkan, atau setidaknya bukanlah sesuatu yang layak ditakuti. Tentu saja suatu hubungan bisa bubar di tengah jalan ketika masing-masing sahabat atau pacar memilih untuk berpisah karena suatu hal, atau hubungan cinta bisa berakhir dengan patah hati ketika pacar yang kita cintai meninggalkan kita, dan hubungan itu pun terputus.

Tetapi, secara emosional, merasakan sakit karena putusnya suatu hubungan itu masih lebih baik daripada terus-menerus menahan diri untuk tidak pernah sama sekali membuka hati dan tidak pernah mau mencintai.

Jangan terlalu mengevaluasi

Seringnya mengevaluasi diri menjadi salah satu penghambat ketika kita ingin membuka hati kembali bagi suatu hubungan yang baru. Orang-orang yang pernah merasakan sakitnya putus cinta biasanya akan sering atau bahkan terlalu sering mengevaluasi hubungannya terdahulu dan dirinya sendiri, hingga ia justru secara tak langsung menciptakan ketakutan-ketakutannya sendiri.

Berhentilah untuk terus mengevaluasi, dan beranilah mengambil langkah yang baru. Terlalu sering mengevaluasi akan menjadikan kita merasa takut, atau ragu-ragu dan khawatir ketika akan melangkah, karena kita terus-menerus mengingat-ingat segala kepahitan yang pernah kita alami dan rasakan.

Cobalah untuk mulai berjalan sesuai alur, mengalir bersama yang terjadi dalam hidup, dan tidak usah terlalu merisaukan atau mengkhawatirkan yang akan terjadi. Ada kalimat bijak yang menyatakan, “Apa pun yang akan terjadi, terjadilah”. Dalam hal membuka hati kembali, kalimat itu sangat tepat untuk direnungkan. Hidup tidak berhenti, ia terus berjalan dan mengalir, maka berhentilah untuk terus mengevaluasi.

Beranilah mengambil risiko

Segala sesuatu tentu saja ada risikonya. Begitu pula ketika kita memutuskan untuk menjalin suatu hubungan dengan seseorang. Berapa kali kita mengurungkan niat untuk mendapatkan sesuatu atau menjalin suatu hubungan dengan seseorang karena begitu takutnya kita menghadapi risiko?

Ketakutan yang berlebihan terhadap risiko sering kali menjadi penghambat ketika sebenarnya kita akan mendapatkan pengalaman-pengalaman baru, pelajaran-pelajaran baru, hubungan-hubungan baru, bahkan nuansa hidup yang baru.

Cobalah untuk memahami bahwa segala sesuatu pasti ada risikonya, sekecil apa pun. Yang perlu kita lakukan bukanlah mencoba menghilangkan risiko itu, tapi menghadapinya sekaligus mengelolanya. Begitu pula halnya dengan risiko ketika kita memutuskan untuk membuka hati kembali untuk mencintai.

Ungkapkanlah perasaan

Salah satu manfaat dari suatu hubungan dengan seseorang adalah kita memiliki sesuatu (seseorang) yang bisa kita jadikan tempat untuk mengungkapkan perasaan-perasaan kita, bahkan kekhawatiran dan ketakutan-ketakutan kita.

Menutup hati untuk tidak mencintai (atau tidak mencintai lagi) barangkali aman secara emosional karena kita tidak lagi takut tersakiti. Namun segala perasaan negatif yang kita miliki atau kita rasakan akan berkumpul tanpa pernah dapat keluar, karena kita tak memiliki saluran atau tempat untuk mengeluarkannya.

Sebaliknya, ketika kita mau melangkah dan membuka hati untuk menjalin suatu hubungan, atau hubungan yang baru, kita memang memiliki kemungkinan tersakiti (ketika hubungan itu putus), tetapi ketakutan dan kekhawatiran kita pada perasaan takut tersakiti itu bisa kita ungkapkan kepada orang yang menjalin hubungan dengan kita.

Hilangkan perasaan bersalah

Tidak jarang seseorang menjadi takut untuk membuka hatinya atau untuk jatuh cinta lagi kepada seseorang karena dibelenggu perasaan bersalah yang tak juga sirna. Ini biasanya terjadi ketika seseorang pernah menjalin suatu hubungan sebelumnya, namun kemudian merasa trauma dan ‘terlalu sadar diri’ bahwa dialah penyebab putusnya hubungan sebelumnya.

Merasa bersalah itu satu hal, namun keberanian untuk menjalin suatu hubungan yang baru adalah hal lain. Tentu saja instrospeksi untuk menyadari bahwa kita tak selamanya benar adalah sesuatu yang positif. Tetapi apabila perasaan bersalah itu menjadi hambatan kita untuk melangkah kembali, maka itu pun menjadi sesuatu yang negatif.

Lepaskanlah perasaan bersalah yang kita miliki, dan beranilah untuk melangkah kepada kehidupan yang baru, dengan hubungan baru bersama seseorang yang baru. Jadikanlah perasaan bersalah itu sebagai semacam pelajaran untuk tidak diulang kembali di masa yang akan datang, di dalam hubungan yang kini terjalin.