Tips Bila Kamu Naksir Tapi Malu

Tips Bila Kamu Naksir Tapi Malu

BIBLIOTIKA - Kasus semacam ini biasanya terjadi pada cewek, tapi bukan berarti cowok tidak mengalaminya. Ini adalah perasaan malu yang kita rasakan ketika kita naksir seseorang. Jadi kita jatuh cinta pada seseorang, namun juga malu kepadanya.

Apa atau bagaimana yang harus dilakukan? Karena jangankan untuk menyatakan cinta secara langsung, bahkan baru ketahuan naksir saja kita sudah malu bukan main.

Nah, rasa malu yang kita rasakan itu biasanya timbul karena ada perasaan suka atau cinta kepadanya. Seandainya perasaan itu tidak ada, kita tidak akan malu kepadanya, atau setidaknya kita akan biasa-biasa saja ketika menghadapinya. Jadi, resep pertama untuk menghadapi orang yang kita taksir dengan baik adalah dengan cara menyingkirkan dulu perasaan suka itu.

Ketika berhadapan dengannya, anggaplah dia tidak ada bedanya dengan teman-teman kita yang lain, yang tidak perlu menjadikan kita malu. Ketika berada bersamanya, jangan konsentrasikan pikiran pada perasaan suka kita, karena ini bisa menjadikan kita salah tingkah, gugup, dan wajah jadi memerah. Santailah, hadapi dia dengan rileks, dan tak perlu tegang atau gugup.

Kalau kita naksir seseorang namun malu menghadapinya, kita memang menghadapi masalah yang tidak ringan. Sebagai orang yang jatuh cinta, tentunya kita ingin orang itu tahu kalau kita jatuh cinta kepadanya. Sementara untuk menyatakan cinta, atau setidaknya untuk menunjukkannya, kita merasa malu. Bagaimana solusinya?

Cobalah mengirimkan sinyal

Cobalah mengirimkan sinyal atau tanda-tanda kalau kita jatuh cinta kepadanya. Karena, kalau kita tidak berbuat apa pun karena rasa malu kita, lalu bagaimana dia akan tahu kalau kita naksir kepadanya?

Sinyal cinta yang kita berikan kepadanya bisa berupa senyuman yang kita lontarkan saat bertemu atau berpapsan dengannya. Senyum yang sekilas itu sudah menandakan bahwa kita mau menjalin komunikasi dengannya. Dengan beberapa kali memberikan sinyal, siapa tahu dia akan membalas sinyal kita, lalu mau membalas senyum kita, atau malah menegur dan menyapa kita.

Kalau orang yang kita taksir itu satu kelas atau satu sekolah, urusannya memang tidak terlalu sulit dalam tahap pendekatan selanjutnya. Kita bisa pura-pura meminjam buku, atau mengajaknya ke kantin, atau semacamnya.

Namun, kalau langkah semacam itu pun sudah membuat kita malu untuk melakukannya, maka tak ada salahnya kalau kita meminta bantuan seorang teman yang kita percaya untuk menjadi penghubung atau mak comblang untuk mengkomunikasikan kita dengannya.

Atau, bisa pula kita ‘sok perhatian’ kepadanya. Misalnya ketika dia terlihat tidak enak badan, atau menjadi lebih pendiam dibanding hari-hari lainnya, kita mencoba tanyakan tentang itu. Bisa pula memakai jurus ‘tipuan’, misalnya suatu hari kita mendekatinya dan mengatakan, “Hei, kamu kelihatan cerah sekali pagi ini?” (Meskipun dia terlihat sama saja seperti hari-hari lainnya).

Dengan begitu, orang yang kita taksir pun lama-lama akan merasa bahwa dia diperhatikan oleh kita. Kalau kemudian dia membalas perhatian yang kita berikan, maka langkah selanjutnya adalah mencari saat yang tepat untuk menunggu ungkapan cinta, atau menyatakan perasaan cinta.

Cobalah untuk lebih percaya diri

Perasaan malu terhadap orang yang kita taksir biasanya timbul karena kita merasa kurang percaya diri. Kita menilai diri kita sendiri dengan penilaian-penilaian yang ‘tidak adil’. Kita menganggap diri kita kurang cakep, kurang pintar, kurang populer, kurang ini, kurang itu, dan akibatnya kita mengalami krisis percaya diri yang menyebabkan rasa malu ketika menghadapi orang yang kita taksir itu. Padahal semua kekurangan atau hal-hal yang kita anggap kurang itu hanyalah buatan kita sendiri yang kemudian kita percayai kebenarannya.

Sebenarnya pula, perasaan yang kita rasakan itu sesungguhnya bukan malu, melainkan kurang percaya diri.

Karenanya, lebih baik untuk mulai mencoba memikirkan hal-hal yang ‘lebih’ dari diri kita, bahwa kita memiliki senyum manis, bahwa kita punya banyak bahan obrolan menyenangkan, bahwa kita juga memiliki kelebihan-kelebihan tertentu.

Yang lebih penting dari itu; menyukai seseorang itu lebih baik daripada membencinya, bahwa tersenyum pada seseorang itu lebih baik daripada menunjukkan muka masam, bahwa ngajak ngomong dulu itu lebih manis dibanding terlalu pendiam, bahwa jatuh cinta itu sesuatu yang wajar-wajar saja.