Sejarah Dinasti Rothschild: Rahasia Tersembunyi Karl Marx dan Friedrich Nietzsche

 Sejarah Dinasti Rothschild: Rahasia Tersembunyi Karl Marx dan Friedrich Nietzsche

BIBLIOTIKA - Mungkin sangat mengejutkan bagi sebagian pihak, bahwa ternyata keluarga Rothschild adalah pihak yang ada di balik popularitas Karl Marx dan Friedrich Nietzsche. Dua tokoh besar yang melahirkan ideologi besar itu rupanya dibiayai oleh dinasti Rothschild, untuk suatu tujuan. Karl Marx maupun Friedrich Nietzsche sengaja diplot untuk menciptakan ideologi yang saling berseberangan, untuk kemudian memicu perang.

Artikel ini merupakan lanjutan artikel sebelumnya (Sejarah Dinasti Rothschild: Taktik Licik Menguasai Inggris). Disusun dalam bentuk kronologi, artikel ini didasarkan pada buku The History of Money Changers yang ditulis Andrew Hitchcock.

1816: 

Kongres Amerika akhirnya menyetujui pendirian bank sentral Amerika, yaitu Second Bank of the United States, yang mendapatkan kartel selama 20 tahun. Perang Inggris dengan Amerika pun berakhir dengan ribuan orang menjadi korban dalam perang demi Rothschild untuk mendapatkan banknya.

1818: 

Setelah Prancis mendapatkan pinjaman besar pada tahun 1817 untuk membangun kembali negara mereka paska perang Waterloo, Rothschild membeli surat hutang pemerintah dalam jumlah yang sangat besar, dan membuat harganya melambung.

Pada 5 November, mereka menjual besar-besaran di bursa dan menyebabkan nilai surat hutang tersebut jatuh bebas, dan membawa Prancis ke kepanikan finansial. Keluarga Rothschild kemudian masuk kembali ke pasar, dan mengambil kontrol atas suplai uang Prancis. Itu adalah tahun yang sama ketika Rothschild berhasil meminjamkan 5 juta pound kepada pemerintahan Prussia.

1821: 

Kelmann (Carl) Mayer Rothschild dikirim ke Naples, Italy. Dia kemudian melakukan banyak transaksi bisnis dengan Vatikan dan Paus Gregory XVI.

Setiap kali Paus menerima Kalmann, dia akan memberikan tangannya untuk dicium, bukannya jari kaki seperti kebiasaan umumnya, yang menunjukkan betapa besarnya pengaruh Kalmann di Vatikan.

1822: 

Raja Austria menanugerahi kelima Rothschild bersaudara dengan gelar Baron. Nathan Rothschild memutuskan untuk tidak menerima gelar itu.

1823: 

Keluarga Rothschild mengambil alih operasi finansial Gereja Katolik, di seluruh dunia.

1830: 

David Sassoon, seorang bankir Yahudi, dan juga agen opium dari Rothschild di Cina, Jepang, dan Hong Kong, berhasil menyelundupkan 18.956 peti opium ke wilayah tersebut. Bisnis ini menghasilkan keuntungan jutaan dolar bagi Rothschild dan Kerajaan Inggris.

1832: 

Presiden Amerika, Andrew Jackson, mengkampanyekan slogan “Jackson And No Bank!” Dia ingin kontrol sistem uang di Amerika ada di tangan rakyat, bukan di tangan bankir (Rothschild).

1833: 

Rothschild memperketat suplai uang Amerika dan memprakarsai sebuah depresi ekonomi. Presiden Jackson yang mengetahui maksud tindakan itu kemudian berkata, “Kalian para penjahat busuk, saya akan mengusir kalian, demi Tuhan, saya akan mengusir kalian.”

1834: 

Pimpinan revolusi Italia, Guiseppe Mazzini, dipilih oleh Illuminati untuk menjalankan program revolusinya, dan menjalankan tugas ini sampai dia meninggal tahun 1872.

1835:

Percobaan pembunuhan Presiden Jackson gagal.

Rothschild mendapatkan hak pertambangan quicksilver di Almaden, Spanyol. Transaksi ini adalah konsesi pertambangan terbesar pada zaman itu, dan karena quicksilver adalah komponen vital untuk penyaringan emas dan perak, maka Rothschild secara virtual mendapatkan hak monopoli dunia.

1836: 

Presiden Jackson berhasil menutup bank sentral Amerika, kartel bank mereka tidak diperbarui.

Nathan Rothschild meninggal dunia, dan kontrol atas banknya, N.M. Rothschild & Sons, diberikan kepada adiknya, James Mayer Rothschild.

Penyelundupan opium di Cina oleh organisasi David Sassoon mencapai 30.000 peti per tahun, dan mulai menciptakan endemik opium di daratan Cina.

1837: 

Rothschild mengirim August Belmont, seorang Yahudi Ashkenazi lainnya, untuk menyelamatkan kepentingan perbankan mereka setelah dikalahkan Presiden Andrew Jackson.

1839: 

Pemerintahan Cina memerintahkan penyitaan opium dan membuang 2.000 peti opium ke sungai. David Sassoon segera menghubungi Rothschild, dan hasilnya Kerajaan Inggris segera mengirim tentaranya melawan tentara Cina (Perang Opium). Perang tersebut berakhir tahun 1842, dengan ditandatanganinya Perjanjian Nanking. Beberapa butir perjanjian tersebut antara lain:
  1. Legalisasi perdagangan opium di seluruh daratan Cina.
  2. Kompensasi sebesar 2 juta pound kepada David Sassoon atas opium yang dibuang ke sungai.
  3. Penguasaan beberapa teritorial (pulau) Cina oleh Kerajaan Inggris.

1840: 

Rothschild menjadi broker logam mulia Bank of England. Mereka kemudian juga mendirikan cabang di California dan Australia.

1844: 

Salomon Mayer Rothschild membeli United Coal Miners di Vitkovice dan Austro-Hungarian Blast Furnace Company, yang merupakan salah satu dari 10 transaksi paling berpengaruh di dunia industri global saat itu.

Benjamin Disreaeli, seorang Yahudi Askhenazi (yang dua kali menjabat sebagai Perdana Menteri), menerbitkan Coningsby, di dalamnya dia menggambarkan Nathan Rothschild sebagai berikut,

“Raja dan Tuan pasar uang di dunia, dan tentu saja Raja dan Tuan atas segala yang lain. Dia memegang pendapatan dari Italia Selatan dalam bentuk gadai, dan semua Raja dan Menteri di seluruh dunia ada di bawah kendalinya.”

1845: 

Presiden Andrew Jackson meninggal.

Jacob (James) Rothschild (yang menikahi keponakannya, Betty, putri saudaranya sendiri, Salomon Rothschild) memenangkan kontrak untuk membangun jalur kereta api terbesar.

Rel itu dinamai Chemin De Fer Du Nord yang menghubungkan Paris ke Valenciennes, kemudian bersatu dengan jaringan rel Austria yang dibangun oleh saudaranya (Salomon Rothschild).

1847: 

Lionel De Rothschild menikahi putri pamannya (Kalmann), dan terpilih menjadi anggota parlemen di London.

Salah satu persyaratan untuk memasuki parlemen adalah melakukan sumpah untuk setia sebagai Kristiani. Lionel Rothschild menolak, dan kursinya di parlemen tetap kosong selama 11 tahun, sampai kemudian peraturan baru tentang sumpah parlemen diperbarui. Bagaimana dia bisa mempertahankan kursinya di parlemen selama 11 tahun?

1848: 

Karl Marx, seorang Yahudi Ashkenazi, menerbitkan “The Communist Manifesto.” Pada saat bersamaan, Karl Ritter dari Universitas Frankfurt sedang menulis sebuah antitesis yang akan menjadi basis Friedrich Wilhelm Nietzsche untuk memulai “Nietzscheanisme”, yang kemudian dikembangkan menjadi Fasisme, dan akhirnya menjadi Nazisme yang digunakan untuk menjalankan Perang Dunia I dan II.

Marx, Ritter, dan Neitzsche, semuanya dibiayai dan bekerja atas instruksi keluarga Rothschild. Gagasan mereka adalah dengan menciptakan perbedaan ideologi, mereka bisa memecah-belah semakin banyak manusia, memancing mereka menuju pertengkaran, mempersenjatai mereka, dan membawa mereka ke medan perang untuk saling membunuh, dan pada saat bersamaan menghancurkan semua institusi politik dan religius—rencana sama yang dimulai oleh Weishaupt tahun 1776.

1849: 

Gutle Schnaper, istri Mayer Amschel Rothschild meninggal. Sebelum meninggal dia berkata, “Bila anak-anaku tidak menginginkan perang, maka tidak akan terjadi perang.”

1852: 

N.M. Rothschild & Sons mulai mencetak emas dan perak untuk Royal Mint, Bank of England, dan pembeli internasional lainnya.

1854: 

Caroline Stern, istri Salomon Rothschild, meninggal.

1855: 

Amschel Mayer Rothschild meninggal.

Salomon Mayer Rothschild meninggal.

Kalmann Mayer Rothschild meninggal.

1858: 

Lionel De Rothschild akhirnya menduduki kursinya di parlemen setelah peraturan tentang sumpah Kristiani diperluas ke agama lainnya. Dia menjadi orang Yahudi pertama yang duduk di parlemen Inggris.

Baca lanjutannya: Zionisme dan Awal Mula Pembentukan Israel