Sejarah dan Asal Usul Uang: Konspirasi di Balik Lahirnya Uang Emas

 Sejarah dan Asal Usul Uang: Konspirasi di Balik Lahirnya Uang Emas

BIBLIOTIKA - Pengaruh para bankir di Amerika semakin kuat dari tahun ke tahun, dan kenyataan itu menjadikan sebagian orang nekat menentang langkah serta kebijakan mereka. Tapi rupanya upaya itu tidak semudah yang dibayangkan.

Artikel ini adalah lanjutan artikel sebelumnya (Sejarah dan Asal Usul Uang: Konspirasi Bank di AS Hingga Terbunuhnya Lincoln). Jika artikel sebelumnya mengisahkan tewasnya Abraham Lincoln karena mencoba menentang para bankir internasional, artikel kali ini mengisahkan tewasnya Presiden Amerika, James Garfield, yang juga menentang para bankir. Artikel ini juga menyuguhkan asal usul lahirnya standar uang emas, yang bisa dibilang dibalut konspirasi. Disusun dalam bentuk kronologi, uraian ini didasarkan pada buku The History of Money Changers yang ditulis Andrew Hitchcock.

1866: 

Para pemilik bank sentral Eropa menginginkan agar bank sentral Amerika segera didirikan, dan mata uang Amerika harus di-backing oleh emas. Emas adalah komoditas yang tidak tersedia banyak, dan karenanya lebih gampang untuk dimonopoli. Lebih baik dibandingkan dengan perak, yang tersedia secara berlimpah di Amerika.

Pada 12 April, atas prakarsa bankir elit Eropa, Kongres mengizinkan Sekretaris Keuangan untuk memperketat suplai uang untuk menarik kembali mata uang greenbacks. Akibatnya, suplai uang berkurang drastis:
  1. 1866: $1.800.000 dalam peredaran: $50.46 per kapita
  2. 1867: $1.300.000 dalam peredaran: $44.00 per kapita
  3. 1876: $ 600.000 dalam peredaran: $14.60 per kapita
  4. 1886: $ 400.000 dalam peredaran: $ 6.67 per kapita

Dalam waktu 20 tahun sejak 1866, sebanyak 2/3 suplai uang Amerika ditarik oleh bankir dan menyebabkan kehilangan daya beli sebesar 760% bagi rakyat Amerika. Uang sulit didapat karena pinjaman bank ditarik, dan pinjaman baru tidak diberikan.

1872: 

Ernest Seyd dikirim ke Amerika oleh Rothschild, pemilik Bank of England. Dia diberi $100.000 yang dipakai untuk menyuap anggota Kongres sebanyak yang dia bisa. Misinya adalah mendemoneterisasi perak, yang ditemukan secara berlimpah di sisi Barat Amerika dan mengancam keuntungan Rothschild.

1873: 

Ernest Seyd tampaknya menggunakan uangnya dengan “bijak”, Kongres meluluskan sebuah peraturan baru “Coinage Act”, yang menyebabkan pembuatan koin perak dihentikan sama sekali.

1874: 

Koin emas adalah bentuk mata uang satu-satunya di Amerika.

1876: 

Atas manipulasi suplai uang di Amerika, 1/3 angkatan kerja tidak memiliki pekerjaan dan keresahan sosial mulai timbul. Sebagian orang mulai menuntut untuk kembali ke Greenbacks ataupun ke uang perak. Hasilnya, Kongres membentuk “Komisi Perak Amerika Serikat” untuk menginvestigasi masalah tersebut.

Tampaknya komisi ini mengetahui para bankirlah yang ada di balik masalah ini. Dalam salah satu laporannya, mereka menulis:

Zaman kegelapan dalam sejarah disebabkan oleh berkurangnya uang dan jatuhnya harga… Tanpa uang, peradaban tidak bisa dimulai, dan ketika suplai uang terus berkurang, akhirnya peradaban akan berakhir. Di era awal Kerajaan Romawi, jumlah uang metal adalah 1.800.000.000,- di akhir abad ke-15 suplai uang tinggal 200.000.000,- Dalam sejarah, kita tidak bisa menemukan masa yang lebih gelap daripada masa dari Kerajaan Romawi ke Zaman Kegelapan.

Sekalipun mendapatkan laporan dari komisi ini, Kongres tidak bertindak.

1877: 

Kerusuhan mulai terjadi dari Pittsburgh sampai Chicago. Para bankir berkumpul dan memutuskan bahwa mereka akan tetap dengan kebijakan mereka. Mereka tahu bahwa walaupun keadaan memang kacau, tetapi mereka tetap yang memegang kendali. Dalam rapat Asosiasi Bankir Amerika, mereka menekankan kepada semua anggotanya untuk menolak semua gagasan untuk kembali ke Greenbacks.

1878: 

Tanggal 28 Februari, Kongres mengesahkan “Sherman Law”. Hukum ini memperbolehkan pembuatan terbatas koin perak. Namun tidak berarti semua orang yang membawa perak ke Amerika bisa menjadikannya dolar perak. Uang Amerika masih tetap di-backing oleh emas paska Ernest Seyd.

Beredarnya uang tambahan dalam perekonomian, yang diikuti oleh mulai diberikannya pinjaman oleh bankir, karena mereka sudah yakin atas kendali mereka, mengakhiri masa depresi paska perang sipil.

1881: 

Wakil Partai Republik, James Garfield, terpilih sebagai Presiden Amerika. Bankir tidak menyukainya, dia adalah mantan Ketua Komite Pengawas dan juga anggota departemen Banking and Currency. Garfield mengetahui dengan pasti penipuan para bankir terhadap orang Amerika. Pada hari pelantikannya, dia berkata, “Siapa yang mengendalikan volume uang di sebuah negara adalah tuan sebenarnya dari industri dan perdagangan… dan ketika Anda sadar bahwa keseluruhan sistem ini sebenarnya mudah untuk dikendalikan, oleh sekelompok kecil orang di atas, Anda tak perlu diberitahu lagi dari mana datangnya periode deflasi dan depresi.”

Tanggal 2 Juli, Presiden Garfield mati ditembak.

1891:

Para bankir menciptakan booming perekonomian selama satu dekade dan kemudian memprakarsai sebuah masa depresi supaya mereka bisa membeli ribuan rumah dan lahan pertanian dengan harga beberapa sen per dolar. Mereka juga menyiapkan sebuah rencana untuk menjatuhkan perekonomian dalam waktu dekat. Dalam salah satu memo kepada Asosiasi Bankir Amerika, yang ditemukan dalam catatan Kongres dua puluh tahun kemudian, terbaca:

“Pada tanggal 1 September 1894, kami tidak akan memperpanjang masa pinjaman kami atas pertimbangan apa pun. Pada 1 September, kami akan meminta kembali uang kami. Kami akan menyita jaminan yang gagal bayar. Kami akan mengambil alih 2/3 lahan pertanian di sebelah Barat Missisipi, dan ribuan kavling lainnya di Timur Missisipi, dengan harga yang kami buka… Para petani akan menjadi penyewa, sama seperti di Inggris…”

1896: Isu sentral dari pemilihan Presiden kali ini adalah seputar penerbitan lebih banyak perak sebagai uang. Wakil Partai Demokrat William Bryan maju sebagai anti standar emas dan menginginkan perak sebagai uang. Bankir mendukung wakil Partai Republik, William Mckinley, yang membela standar emas. Mckinley menyuruh para manufaktur dan industrialis mengancam kepada pegawai mereka bahwa bila Bryan yang terpilih, semua pabrik akan tutup dan tidak akan ada pekerjaan.

Taktik ini berhasil, Mckinley mengalahkan Bryan.

1898: 

Paus Leo XIII mengatakan hal ini tentang bunga pinjaman,

“Di satu sisi ada sekelompok orang yang memegang kekuasaan karena mereka memiliki kekayaan besar, yang mengendalikan semua pekerja dan perdagangan, yang memanipulasi untuk kepentingan pribadi semua suplai uang, yang bahkan lebih berpengaruh daripada pemerintah sendiri, di sisi yang lain ada sekelompok besar lainnya yang tidak berdaya dan hidup menderita.

Bunga pinjaman (riba), yang sudah berkali-kali dilarang oleh Gereja, masih dipraktekkan hari ini walaupun dengan bentuk yang berbeda, supaya sekelompok kecil orang kaya bisa mendapatkan keuntungan dari orang miskin yang hidup hanya sedikit lebih baik dibanding seorang budak.”

1907: Di awal tahun 1900-an, para bankir mulai tidak sabar untuk mendirikan sebuah bank sentral pribadi di Amerika. Rothschild, Jacob Schiff, dalam sebuah pidatonya kepada Departemen Perdagangan New York, berkata, atau lebih tepatnya, mengancam:

“Kecuali kami mendapatkan hak pendirian Bank Sentral dengan kendali kredit yang kuat, bila tidak negara ini akan menjalani penderitaan dan kepanikan finansial terbesar dalam sejarahnya.”

Agen dari Rothschild, J.P. Morgan, yang akan melaksanakan misi ini. Ayah J.P. Morgan, Julius Morgan, adalah agen finansial Amerika untuk Inggris, dan setelah kematian ayahnya, J.P. Morgan mulai bermitra dengan Edward Grenville, mantan Direktur Bank of England.

Inilah tahun saat para bankir mulai melancarkan serangan. J.P. Morgan dan beberapa temannya memprakarsai kejatuhan bursa saham. Mereka mengetahui ada banyak bank-bank kecil yang meminjamkan terlalu banyak, sebagian bahkan cuma memiliki cadangan 1% berkat sistem penipuan fractional reserve banking. Dalam beberapa hari, orang-orang yang antre menarik simpanan mereka dari bank menjadi pemandangan biasa.

Morgan kemudian maju ke publik dan mengumumkan bahwa dia akan menalangi bank-bank ini. Namun yang tidak dia katakan adalah, uang untuk melakukannya datang dengan cara mencetak uang baru. Ajaibnya, Kongres mengizinkannya! Morgan mencetak $200.000.000 uang kertas nyaris tanpa modal, yang tidak di-backing emas sama sekali, yang bisa digunakan orang-orang untuk membeli barang-barang dan jasa, dan sebagian masuk ke bank cabangnya untuk dipinjamkan ke orang lain dengan mengenakan bunga!

Hasilnya, masyarakat umum kembali percaya kepada uang kertas. Tapi yang terpenting adalah, mulai saat itu kekuasaan perbankan mulai terkonsolidasi ke tangan sekelompok kecil bank skala besar.

1908: 

Dengan berakhirnya kepanikan finansial, J.P. Morgan dipuji sebagai pahlawan oleh Presiden Woodrow Wilson, yang dengan sombongnya berkata,

“Semua kekacauan akan bisa dihindari bila kita mengangkat 6 atau 7 orang seperti J.P. Morgan sebagai komite untuk mengatasi masalah keuangan negara kita. Roosevelt juga menandatangani peraturan pembentukan “Komisi Moneter Nasional”, yang bertujuan mempelajari masalah perbankan dan memberikan rekomendasi kepada Kongres. Tak perlu ditanya, anggota komisi ini dipenuhi oleh J.P. Morgan dan kroni-kroninya.

Ketua komisi ini adalah Senator Nelson Aldrich dari Rhode Island, salah satu keluarga bankir terkaya di Amerika. Putrinya menikah dengan John D. Rockefeller Jr., yang kemudian melahirkan 5 anak laki-laki (termasuk Nelson Rockefeller yang menjadi Wakil Presiden tahun 1974 dan David Rockefeller yang menjadi Ketua Council of Foreign Relations)

Senator Aldrich kemudian menghabiskan waktu 2 tahun untuk belajar ke Eropa, dan di sana dia berkonsultasi dengan Bank Sentral Inggris, Prancis, dan Jerman, atau lebih tepatnya berkonsultasi kepada Rothschild, Rothschild, dan Rothschild.

1910: 

Senator Aldrich kembali ke Amerika. Tak lama kemudian dia mengadakan sebuah pertemuan rahasia dengan beberapa keluarga terkaya di Amerika ke Pulau Jekyll, dekat Georgia.

Di grup ini, hadir juga Paul Warburg, yang digaji $500.000 per tahun oleh perusahaan milik Rothschild: Kuhn, Loeb & Company. Uang ini akan digunakan untuk melobi Kongres untuk mendirikan sebuah bank sentral di Amerika. Hadir juga di pertemuan itu Jacob Schiff.

Rothschild, Warburg, dan Schiff, yang keturunannya sudah saling dikawinkan pada dasarnya telah menjadi keluarga yang sama.

Pertemuan itu sedemikian rahasia sehingga pada saat itu hanya nama depan yang boleh digunakan para partisipan untuk mencegah para pelayan mengetahui identitas mereka. Belasan tahun kemudian, salah seorang partisipan, Frank Vanderlip, Presiden National Citibank dan representatif dari keluarga Rockefeller, mengkonfirmasi pertemuan itu. Dia berkata,

“Pertemuan itu harus dirahasiakan, karena bila diketahui orang-orang bahwa kami berkumpul dan merancang sebuah Undang-Undang perbankan, maka Undang-Undang itu dipastikan tidak akan diluluskan oleh Kongres.”

Pada masa itu masalah para bankir elit tersebut adalah ada terlalu banyak bank di Amerika (mendekati 20.000). Pada tahun 1913 hanya 29% bank yang merupakan bank Nasional, dan total deposit yang mereka kumpulkan hanya 57% dari pangsa pasar.

Seperti yang dikatakan oleh John Rockefeller, “Kompetisi itu Dosa!”

Senator Aldrich bertahun-tahun kemudian mengakui di sebuah majalah, “Sebelum Undang-Undang ini disahkan, para Bankir New York cuma bisa mendominasi di kota New York. Sekarang kami mendominasi cadangan uang di seluruh Amerika.”

Jadi salah satu tujuan dari para konspirator itu adalah mengontrol bank-bank kecil menengah. Hal kedua yang perlu diketahui adalah saat itu perekonomian sedemikian kuat, sehingga kebanyakan ekspansi korporasi dibiayai oleh keuntungan usaha mereka, bukan lewat pinjaman bank. Sepuluh tahun pertama di abad itu, 70% sumber pendanaan korporat datang dari keuntungan usaha mereka. Dan para bankir tidak suka dengan hal itu.

Setelah pertemuan selama 9 hari di Pulau Jekyll, akhirnya mereka berhasil merancang sebuah paket Undang-Undang yang mereka sebut “Aldrich Bill”. Mereka segera mengumpulkan 5 juta dolar untuk mendirikan sebuah yayasan pendidikan, dan membiayai para profesor Universitas untuk mendukung Undang-Undang itu.

Bank Sentral baru ini pada dasarnya sama saja dengan Bank of the United States, yang akan mendapatkan hak monopoli atas mata uang Amerika dan bisa menciptakan kredit tanpa modal. Dan untuk memberikan kesan ke publik bahwa bank itu seolah-olah dikendalikan oleh pemerintah, para Dewan Gubernur di Bank Sentral akan ditunjuk oleh Presiden dan disetujui oleh Senat.

Hal ini tidak masalah buat para bankir, karena mereka tahu mereka selalu bisa membeli suara para politisi, hanya orang-orang yang mereka inginkan yang akan duduk di Dewan Gubernur.

Baca lanjutannya: Sejarah dan Asal Usul Uang: Konspirasi Lahirnya Federal Reserve