Sejarah dan Asal Usul Uang: Konspirasi IMF Dalam Mengendalikan Negara-negara Dunia

Sejarah dan Asal Usul Uang: Konspirasi IMF Dalam Mengendalikan Negara-negara Dunia

BIBLIOTIKA - Sungguh mengejutkan bahwa IMF (International Monetary Fund), juga World Bank, adalah bagian dari kekuasaan para bankir internasional yang memiliki pengaruh besar dalam mengendalikan aneka kebijakan di banyak negara dunia. Uraian berikut ini akan memperlihatkan bagaimana berkuasanya IMF dalam ikut menentukan kebijakan, khususnya di negara-negara dunia ketiga, yang terbelit hutang kepada mereka.

Artikel ini merupakan lanjutan artikel sebelumnya (Sejarah dan Asal Usul Uang: Rahasia Harga Emas Hingga Tewasnya John F. Kennedy). Disusun dalam bentuk kronologi, uraian ini didasarkan pada buku The History of Money Changers yang ditulis Andrew Hitchcock.

1981: 

Presiden Ronald Reagan mulai menjabat, teman-teman konservatifnya menyarankan untuk kembali ke sistem moneter standar emas, untuk mengendalikan belanja pemerintah. Reagan menunjuk sebuah grup yang dia sebut “Gold Comission” untuk melakukan studi terhadap masalah ini, dan melaporkan kembali kepada Kongres.

1982: 

“Gold Comission” melaporkan hal sebagai berikut, “Departemen Keuangan Amerika tidak memiliki emas lagi. Semua emas di Fort Knox dimiliki oleh Federal Reserve, sebuah kelompok bankir swasta, sebagai jaminan atas hutang Nasional Amerika.

1983: 

Pemerintah Ekuador, supaya bisa mendapatkan pinjaman 1,5 milyar dolar dari IMF, harus menalangi pinjaman swasta yang berhutang kepada bank-bank swasta. Untuk memastikan Ekuador memiliki kemampuan untuk membayar kembali, IMF mendikte kebijakan untuk menaikkan harga listrik dan utilitas lainnya. Saat tindakan itu juga tidak menyelesaikan masalah, IMF menyuruh Ekuador memecat 120.000 tenaga kerja di instansi tersebut.

Ekuador dipaksa melakukan hal-hal berikut oleh IMF, menaikkan harga gas sebesar 80% sebelum November 2000, menjual kepemilikan sistem pengairan mereka ke operator luar negeri, memberikan hak kepada British Petroleum (BP) untuk membangun dan memiliki pipa minyak yang melewati Andes, dan menghilangkan lebih banyak pekerja dan mengurangi gaji mereka sebesar 50%.

1987: 

Edmond de Rothschild mendirikan World Conservation Bank yang dirancang untuk mentransfer hutang dari negara dunia ketiga (negara miskin) ke bank tersebut dan sebagai gantinya negara dunia ketiga akan memberikan tanah mereka kepada bank tersebut. Ini dimaksudkan agar Rothschild bisa mengontrol negara dunia ketiga yang memiliki 30% luas tanah di bumi.

1988: 

Tiga cabang dari Bank Sentral Dunia (World Bank, BIS, dan IMF) melalui BIS mewajibkan bankir dunia untuk menaikkan cadangan mereka menjadi 8% dari liabilitas pada tahun 1992. Hal ini akan meningkatkan persyaratan modal di level atas dari sistem fractional reserve landing.

Untuk mengumpulkan uang ini, para bankir dunia harus menjual saham mereka, yang mengakibatkan kejatuhan bursa saham di dunia. Sebagai contoh di Jepang, salah satu negara dengan modal cadangan paling rendah, nilai bursa saham mereka jatuh 50%, dan nilai real estate komersial mereka jatuh 60% hanya dalam waktu 2 tahun.

Maksud gagasan ini adalah supaya IMF bisa menciptakan lebih banyak lagi SDR yang tidak dibacking oleh apa pun, dan supaya negara-negara miskin bisa meminjam darinya. Negara-negara ini secara bertahap akan berada dalam kendali IMF setelah mereka mulai kesulitan membayar beban bunga, dan harus meminjam lebih banyak dan lebih banyak lagi. IMF kemudian bisa memilih negara mana yang boleh meminjam dan negara mana yang akan kelaparan. Mereka bisa menggunakan kontrol ini untuk mendapatkan aset-aset seperti utilitas sebagai pembayaran atas hutang, sampai suatu hari mereka memiliki negara tersebut.

1991: 

Pada Konferensi Bilderberg tanggal 6-9 Juni di Baden-Baden, Jerman, David Rockefeller mengucapkan hal ini,

“Kami sangat berterima kasih kepada Washington Post, New York Times, majalah Time, dan penerbit-penerbit besar lain yang direkturnya telah menghadiri pertemuan-pertemuan kami dan menepati janji mereka selama 40 tahun terakhir. Akan menjadi hal yang mustahil bagi kita untuk mengembangkan rencana kami di dunia, bila kita mendapatkan sorotan dari publik selama tahun-tahun ini.”

1992: 

Negara-negara debitur miskin yang berhutang pada World Bank, membayar 198 juta dolar lebih banyak daripada yang mereka terima, kepada bank-bank sentral negara maju. Pinjaman mereka cuma akan memberikan bantuan sesaat untuk mengatasi kemiskinan yang disebabkan oleh pembayaran pinjaman sebelumnya.

Tahun ini hutang luar negeri Afrika sudah mencapai 290 milyar dolar, dua setengah kali lipat lebih banyak dibanding tahun 1980, yang menyebabkan terbengkalainya sekolah, perumahan, tingkat kematian balita yang sangat tinggi, penurunan kesehatan rakyat, dan pengangguran massal.

Boris Yeltsin lewat Washington Post, berkata, “Dana bantuan dari luar negeri langsung disedot kembali ke rekening bank-bank Barat hanya untuk melunasi hutang sebelumnya.”

Tahun ini rakyat Amerika membayar Federal Reserve bunga sebesar 286 milyar dolar, uang yang dicetak oleh Federal Reserve tanpa modal.

1996: 

Pernahkah Anda berpikir mengapa produksi dunia tampak berpindah ke Cina? Dalam sebuah laporan berjudul “Ekonomi Cina Menuju Abad 21”, prediksi pendapatan per kapita Cina tahun 2010 adalah sebesar $735, hanya sedikit di atas definisi negara pendapatan rendah versi World Bank.

1997: 

Empat hari setelah diangkat sebagai Perdana Menteri, Ketua Bendahara Inggris Gordon Brown menegaskan kembali bahwa Bank of England bebas dari segala kontrol politik pemerintah.

Dalam bukunya “The Grand Chessboard”, Zbigniew Brzezinski mengungkapkan bahwa Jerman adalah pemegang saham terbesar di World Bank. Kalau Anda masih ingat bahwa keturunan Rothschild yang mengendalikan Jerman paska Perang Dunia I, tidak sulit untuk menebak siapa yang mengendalikan World Bank sekarang.

1998: 

IMF memprakarsai penghilangan subsidi minyak dan bahan pangan untuk penduduk miskin di Indonesia. Pada saat yang bersamaan juga menuntut pemerintah menalangi hutang untuk para debitur yang gagal bayar untuk menyelamatkan kroni-kroni bankir mereka.

Sebuah dokumen bocor dari World Bank, “Master Plan for Brazil.” Isinya adalah 5 persyaratan untuk memastikan tenaga kerja publik yang fleksibel. Kelima persyaratan itu adalah:
  1. Pengurangan gaji/tunjungan.
  2. Pengurangan pensiun.
  3. Peningkatan jam kerja.
  4. Pengurangan stabilitas pekerjaan.
  5. Pengurangan kesempatan kerja.

1999: 

Di Brazil, perusahaan listrik yang sudah diprivatisasi, “Rio Light”, menyebabkan pemutusan listrik yang serius di Brazil. Setelah privatisasi Rio mengurangi 40% tenaga kerjanya. Tidak masalah, untuk apa peduli, sebab harga sahamnya kemudian naik 33%!
2000:

IMF mengharuskan Argentina memotong defisit anggaran pemerintah dari $5,3 milyar menjadi $4,1 milyar setahun kemudian, 2001. Saat itu tingkat pengangguran sudah mencapai 20% dari populasi. Tak lama kemudian mereka meningkatkan taruhan dan menyarankan untuk menghilangkan defisit sama sekali. Gagasan mereka adalah menyuruh pemerintah memotong program tenaga kerja darurat dari $200 menjadi $160 per bulan untuk rakyat Argentina.

Mereka juga meminta pengurangan gaji sebesar 12-15% dari semua pegawai negeri, dan memotong uang pensiun sebesar 13%. Desember 2001, kelas menengah Argentina yang sudah muak mencari sisa makanan di jalanan, mulai membakar kota Buenos Aires. Di bulan Januari, pemerintah mendevaluasi mata uang Peso, menyapu bersih kebanyakan daya beli tabungan rakyatnya. Kurang puas karena tidak bisa merampas lebih banyak lagi, Presiden World Bank, James Wolfensohn, dengan sedih berkata, “Hampir semua utilitas sudah diprivatisasi…”

Bagaimana mereka mengontrol kekacauan dalam populasi ini? Sebuah contoh, seorang supir bus, umur 37 tahun dengan lima anak, kehilangan pekerjaan dari sebuah perusahaan yang masih berhutang 9 bulan gaji kepadanya. Dalam sebuah demonstrasi menentang ketidakadilan yang terjadi, polisi militer menembak mati dia.

Di Tanzania, hampir 1,3 juta penduduk meninggal karena AIDS. World Bank dan IMF memutuskan bahwa pemerintah harus mengubah kebijakan rumah sakit gratis dan sekolah gratis bagi rakyat mereka. Kemudian mereka menyatakan terkejut pendaftaran murid baru turun menjadi 66%.

IMF dan World Bank sudah menata ekonomi Tanzania sejak 1985. Pada masa itu per kapita Tanzania turun dari $309 menjadi $210, standar aksara turun dan tingkat kemiskinan naik tajam di populasi. Saat 1985, Tanzania masih sebuah bangsa sosialis. Juni 2000, World Bank dengan sombongnya mengatakan,

“Satu warisan dari sosialisme adalah kebanyakan orang percaya negara memiliki peranan fundamental untuk meningkatkan pembangunan dan menyediakan pelayanan sosial.”

Di Bolivia, kerusuhan terjadi setelah World Bank meningkatkan secara drastis harga air bersih. Menurut World Bank, hal itu mutlak diperlukan untuk menyediakan uang untuk perbaikan dan ekspansi. Ini omong kosong. Di Inggris, setelah Wessex Water diprivatisasi (dibeli oleh Enron), kualitas air menurun dan harga terus meningkat.

Baca lanjutannya: Perbudakan Negara-negara Dunia