Sejarah dan Asal Usul Uang: Konspirasi Bank di AS Hingga Terbunuhnya Lincoln

Sejarah dan Asal Usul Uang: Konspirasi Bank di AS Hingga Terbunuhnya Lincoln

BIBLIOTIKA - Amerika Serikat pernah mengalami “perang” dengan para bankir yang menguasai dan mengendalikan peredaran uang, khususnya di Amerika. Perang itu mencapai puncaknya saat Amerika dipimpin oleh Presiden Andrew Jackson, hingga kepemimpinan Abraham Lincoln. Namun, upaya untuk menyingkirkan pengaruh para bankir di negara itu rupanya tak mudah. Abraham Lincoln bahkan kemudian terbunuh.

Artikel ini adalah lanjutan artikel sebelumnya (Sejarah dan Asal Usul Uang: Kisah Hancurnya Finansial Amerika). Disusun dalam bentuk kronologi, uraian ini didasarkan pada buku The History of Money Changers yang ditulis Andrew Hitchcock.

1816: 

Kongres Amerika kembali mengizinkan Bank Sentral swasta didirikan. Kali ini namanya “Second Bank of the United States.” Bentuk dan pemegang sahamnya lagi-lagi sama dengan First Bank of the United States.

1826: 

Talley stick ditarik dari peredaran uang di Inggris.

1828: 

Perekonomian Amerika yang sudah dimanupulasi gila-gilaan oleh Bank Sentralnya menyebabkan banyak orang bangkit melawan mereka. Anggota Senat Andrew Jackson menyampaikan kampanye menuju Presiden dengan target utama membubarkan Bank Sentral.

Jackson memenangkan pemilihan Presiden dan langsung beraksi menyingkirkan orang-orang suruhan bankir yang menjabat di pemerintahan. Dia memecat 2.000 orang dari total 11.000 pegawai pemerintahan Federal saat itu.

1832: 

Walaupun para bankir membiayai lebih dari 3 juta dolar untuk calon yang mereka sukai, Henry Clay, Jackson tetap terpilih kembali sebagai Presiden Amerika. Motto kampanyenya “Jackson and No Bank!” Presiden Jackson dalam pidato kemenangannya mengatakan, “Bahaya korupsi ini cuma terhalangi, belum benar-benar mati.”

1833: 

Presidan Jackson menunjuk Roger Taney sebagai Sekretaris Keuangan Negara, dan menginstruksikan memulai penarikan deposit pemerintah di Second Bank of the United States.

Kepala Second Bank of the United States, Nicholas Biddle, menggunakan pengaruhnya di Senat untuk menolak rencana Roger, dan mengancam memprakarsai sebuah depresi bila kartel mereka tidak diperpanjang.

Biddle berkata, “Tidak ada hal lain selain penderitaan masif yang bisa mempengaruhi Kongres… Saya sama sekali tidak ragu, bila tiba saat itu, mereka akan memperpanjang kartel ini.”

Kemudian Second Bank of the United States memperketat peredaran uang di Amerika; mereka meminta kembali pinjaman mereka dan menolak memberikan pinjaman baru. Kepanikan dan kekacauan finansial pun muncul, dan Amerika memasuki masa depresi. Apa yang dilakukan Biddle sekali lagi membuktikan kepada dunia seperti apa Bank Sentral sebenarnya.

Biddle tanpa rasa malu malahan menyalahkan Presiden Jackson, bahwa Presidenlah yang menyebabkan depresi.

1835: 

Kongres memutuskan untuk membatalkan pengambilan deposit negara dari Second Bank of the United States.

1836: 

Kartel Second Bank of the United States tidak diperpanjang. Nicholas Biddle ditangkap dan dituntut atas tuduhan penipuan.

1838: 

Pada tanggal 8 Januari Jackson membayar pembayaran terakhir hutang pemerintah. (Dia adalah satu-satunya Presiden Amerika yang pernah melunasi hutang pemerintah dalam sejarah Amerika sampai hari ini).

Seorang pembunuh bayaran, Richard Lawrence mencoba menembak Jackson, namun tidak berhasil. Di pengadilan, dia divonis tidak bersalah atas dalih dia sudah gila. Setelah bebas, Lawrence terang-terangan mengatakan di publik dia bekerja untuk sekelompok orang berkuasa di Eropa, yang berjanji akan melindunginya bila dia tertangkap.

Ketika ditanya apa pencapaian terpenting yang pernah dilakukan dalam hidupnya, Jackson berkata, “Penutupan Bank Sentral”.

Perlu waktu 75 tahun bagi para keluarga bankir untuk bangkit kembali dan mendirikan bank sentral berikut, Federal Reserve. Kali ini mereka menggunakan keturunan langsung mereka sendiri, Jacob Schiff, keturunan dari Rothschild.

1850: 

Jacob (James) Rothschild ditaksir memiliki kekayaan sebesar 600 juta Franc, lebih banyak 150 juta Franc dari seluruh bankir di Prancis dijadikan satu.

1852: 

Perdana Menteri Inggris, William Gladstone, mengatakan “Sejak saya bertugas di sini, saya mulai menyadari ternyata pemerintah tidak berkuasa atas masalah finansial. Mereka memang tidak direncanakan untuk berkuasa, pekerjaan sebenarnya mereka adalah melindungi dan menutupi “Kekuatan Kaya.”

1861: 

Perang Sipil Amerika dimulai. Penyebab perang bukan masalah perbudakan seperti yang sering dikatakan orang. Negara bagian Utara berperang dengan Negara bagian Selatan karena sengketa tarif perdagangan tidak adil yang diterapkan Utara yang memaksa Selatan harus mengimpor barang dari Eropa dengan harga yang lebih mahal. Eropa pada akhirnya juga menghentikan impor dari negara bagian Selatan.

Para bankir melihat kesempatan besar untuk memecah belah dan menaklukkan Amerika, mereka membiayai Napoleon III di Prancis untuk menaklukkan Meksiko di sebelah Selatan, dan pada saat yang sama Inggris menempatkan pasukan mereka di Kanada (Utara).

Presiden Lincoln, yang menyadari dirinya sedang dalam masalah besar, bersama dengan Sekretaris Keuangan Salomon Chase, pergi ke New York dan mencoba mendapatkan pinjaman dari bankir.

Para bankir menawarkan pinjaman dengan bunga antara 24 sampai 36 persen, Lincoln menolak dan kembali ke Washington. Lincoln kemudian bertanya kepada salah satu kolonelnya, Dick Taylor, bagaimana cara membiayai perang ini. Taylor mengatakan padanya untuk pergi ke Kongres dan keluarkan sebuah peraturan pemerintah tentang penerbitan mata uang kertas sendiri. Uang kertas ini adalah mata uang resmi dari negara, dan semua orang diwajibkan untuk menerimanya sebagai alat tukar.

1862: 

Lincoln mulai mencetak 450 juta dolar mata uang baru. Uang ini menggunakan tinta hijau di sisi belakangnya, untuk membedakannya dari uang kertas lain saat itu. Karena itu, dolar mulai disebut dengan nama “Greenbacks”. Uang ini tidak dikenai bunga dan dapat digunakan untuk membayar pasukan dan membeli persediaan barang mereka.

Presiden Lincoln adalah presiden terakhir Amerika yang bisa menerbitkan mata uang tanpa hutang… Mengenai masalah uang, Lincoln berkata, “Pemerintahlah yang seharusnya mencetak dan mengedarkan uang sesuai dengan kemampuan belanja dari pemerintah dan daya beli masyarakat. Dengan mengadopsi prinsip ini, rakyat bisa dibebaskan dari bunga pajak yang sangat memberatkan. Uang akan menjadi pelayan manusia, bukan majikannya.”

Mengenai pernyataan Lincoln ini, The Times dari London kemudian menuliskan sebuah propaganda, yang datang dari para bankir, “Seandainya kebijakan dari benua Republik Amerika Utara ini benar-benar diterapkan, pemerintah akan memiliki uang mereka tanpa ongkos. Mereka bisa melunasi hutang mereka dan menjadi negara bebas tanpa hutang. Mereka akan memiliki semua uang yang mereka butuhkan untuk menjalankan perdagangan. Mereka akan menjadi makmur melebihi negara manapun di dunia. Pemerintahan itu harus dihancurkan atau dia akan menghancurkan semua monarki di muka bumi.”

1863: 

Tsar Alexander II Rusia memberikan bantuan tak terduga kepada Lincoln. Tsar mengatakan bahwa bila Inggris ataupun Prancis mengintervensi perang sipil, dan membantu Negara bagian Selatan, Rusia akan menganggap ini sebagai deklarasi perang. Untuk membuktikan kata-katanya, Rusia mengirimkan sebagian kapal perangnya menuju San Fransico.

Bantuan ini, tentu saja bukan karena Tsar orang yang baik hati. Tsar melihat maksud dari para bankir besar, dan dia pun telah menolak pendirian bank sentral di Rusia seperti yang diminta oleh bankir elit Eropa. Dia menyadari bahwa bila Amerika jatuh ke tangan Inggris atau Prancis, maka mereka akan berada dalam kendali Bank Sentral lagi. Ekspansi sedemikian besar dari kekaisaran bankir, cepat atau lambat akan mengancam Rusia.

1865: 

Lincoln ditembak seorang pembunuh bayaran.

Hanya ada satu kelompok yang memiliki alasan dan keinginan untuk menyingkirkannya, yaitu bankir internasional. Mereka sangat khawatir atas ambisi kredit dari Presiden Amerika tersebut.

Tak lama kemudian, para bankir kembali memperjuangkan pendirian bank sentral. Mereka juga ingin menghapuskan greenbacks, dan menghidupkan kembali mata uang standar emas, yang memang mereka miliki. Ini bertentangan dengan kebijaksanaan Lincoln yang menerbitkan greenbacks, yang di-backing hanya oleh niat baik dan kredit dari Amerika.

Para bankir ingin mengendalikan semua mata uang dan kredit dari semua negara di dunia. Dalam waktu 8 tahun sejak kematian Lincoln, mereka berhasil menerapkan sistem standar emas kembali di Amerika Serikat.

Baca lanjutannya: Sejarah dan Asal Usul Uang: Konspirasi di Balik Lahirnya Uang Emas