Sejarah dan Asal Usul Uang: Kisah Hancurnya Finansial Amerika

 Sejarah dan Asal Usul Uang: Kisah Hancurnya Finansial Amerika

BIBLIOTIKA - Artikel ini merupakan lanjutan artikel sebelumnya (Sejarah dan Asal Usul Uang: Awal Mula Lahirnya Bankir). Uraian ini membahas awal mula Mayer Amschel Rothschild membangun dinastinya dalam mengendalikan peredaran uang di dunia. Diawali dari kedatangan Benjamin Franklin di Inggris, bangkrutnya dunia finansial Amerika akibat ulah Inggris, sampai rahasia tersembunyi yang mengungkapkan keuntungan yang diperoleh para bankir dari terjadinya perang. Disusun dalam bentuk kronologi, uraian ini didasarkan pada buku The History of Money Changers yang ditulis Andrew Hitchcock.

1757: 

Benjamin Franklin (salah satu pemimpin revolusi Amerika) menuju Inggris dan menghabiskan 18 tahun berikut di sana sampai menjelang perang Revolusi.

1760: 

Mayer Amschel Bauer mengganti namanya menjadi Mayer Amschel Rothschild dan mendirikan House of Rothschild. Dia menemukan bahwa memberikan pinjaman kepada pemerintah jauh lebih menguntungkan daripada memberikan pinjaman kepada individu, sebab nilai pinjaman kepada pemerintah lebih besar dan hutangnya dijamin oleh pajak dari rakyat negara yang bersangkutan. Kemudian dia melatih kelima anaknya seni penciptaan uang ini.

1764: 

Benjamin Franklin ditanya oleh Bank of England mengapa koloni mereka, Amerika, bisa bertambah makmur, dan dia menjawab “Gampang saja. Di Amerika kami menerbitkan uang kami sendiri. Kami menyebutnya Colonial Scrip. Kami menerbitkannya sesuai dengan proporsi permintaan dari perdagangan dan industri yang memproduksi semua barang dari produsen ke konsumen. Dengan mengendalikan mata uang kami sendiri, kami mengendalikan daya beli mata uang kami, dan kami tidak berhutang kepada siapa pun.”

Mendengar penjelasan ini, parlemen Inggris segera mengeluarkan aturan Currency Act tahun 1764. Mereka melarang koloni mereka untuk mengeluarkan mata uang sendiri, dan semua pajak diharuskan untuk dibayar dalam bentuk koin emas maupun perak.

Dalam autobiografinya, Franklin berkata, “Dalam waktu satu tahun, kondisi Amerika berbalik dengan sebelumnya, depresi mulai terjadi, dan orang-orang kehilangan pekerjaan mereka… Negeri koloni ini sebenarnya dengan senang hati bersedia membayar sedikit pajak atas produksi teh dan lainnya, seandainya uang mereka tidak diambil oleh Inggris”

Hilangnya hak koloni untuk mengeluarkan mata uang mereka sendiri dari tangan Raja George III dan para bankir internasional inilah yang menyebabkan perang revolusi.

Kontrol atas sistem keuangan Amerika ini kemudian berganti tangan selama 8 kali sejak 1764.

1775: 

Tanggal 19 April, dimulainya perang revolusi di Lexington, Massachusetts. Saat itu koloni sudah tidak punya koin emas dan perak karena habis untuk membayar pajak kepada kerajaan Inggris. Akibatnya, pemerintahan kolonial mencetak uang kertas untuk membiayai perang.

Saat perang dimulai, suplai uang Amerika berjumlah 12 juta dolar. Di akhir perang, jumlahnya menjadi 500 juta dolar, dan akibatnya mata uang ini menjadi tak berharga.

1781: 

Menjelang akhir perang revolusi Amerika, Kongres sudah putus asa akan persediaan uang. Jadi mereka mengizinkan kepala pengawas finansial, Robert Morris, untuk membuka sebuah bank swasta, dengan harapan bisa mengatasi masalah kekurangan uang.

Morris adalah orang kaya yang mendapatkan rezekinya di masa revolusi dengan berdagang material perang. Bank Sentral pertama di Amerika ini disebut dengan Bank of North America, yang diizinkan untuk beroperasi selama 4 tahun, yang dioperasikan dengan cara yang serupa dengan Bank of England. Mereka bisa mempraktekkan fractional reserve banking, menciptakan uang yang tidak mereka miliki, meminjamkannya kepada orang lain dengan mengenakan bunga atas pinjamannya.

1785: 

Walaupun berjanji untuk mengatasi masalah suplai uang, tetapi kenyataannya Robert Morris tidak berhasil melakukan apa pun selain menciptakan keuntungan untuk pribadinya, dan hak kartel banknya pun tidak diperpanjang Kongres.

1791: 

Bank Sentral kedua berhasil didirikan atas lobi dari Robert Morris, Alexander Hamilton, dan Thomas Willing. Nama bank ini adalah First Bank of the United States, yang sebenarnya sama persis dengan Bank of North America. Mereka mendapatkan kartel selama 20 tahun dan berhak memonopoli pengadaan uang dari Amerika. 80% dari sahamnya dikuasai oleh swasta dan 20% lainnya oleh pemerintah. Namun, sama seperti Bank of England maupun Bank of North America, para pemegang saham swasta ini sebenarnya tidak menyetor penuh modal mereka, mereka menggunakan uang deposit dari pemerintah untuk menciptakan kredit bagi mereka sendiri untuk membeli 80% saham mereka.

Pemegang saham swasta di bank ini tidak pernah diumumkan, namun secara umum dipercayai bahwa Rothschild ada di baliknya.

Pada tahun 1790, saat Alexander Hamilton sedang mengajukan pendirian bank ini kepada Kongres, Mayer Amschel Rothschild di Frankfurt, Jerman, mengatatakan hal ini, “Biarkan saya yang mengontrol uang sebuah negara, maka saya tidak peduli siapa yang menulis hukum di negara tersebut.”

1796: 

Selama 5 tahun sejak pendiriannya, pemerintah Amerika sudah meminjam 8,2 juta dolar dari Bank Sentral, dan harga barang-barang sudah melonjak sebanyak 72%. Saat itu presiden Thomas Jefferson berkata, “Saya berharap kita bisa mengamandemen konstitusi kita untuk mengambil hak meminjam dari pemerintahan federal.”

1798: 

M.A. Rothschild mengirim anaknya, Nathan, yang saat itu berumur 21 tahun ke Inggris. Dengan modal 20.000 pound, dia mendirikan sebuah bank di sana.

1800: 

Di Prancis, Bank of France didirikan. Tetapi Napoleon memutuskan untuk tidak berhutang kepada bankir. Dia berkata, “Bila pemerintah tergantung pada para bankir untuk mendapatkan uang, maka bankirlah dan bukan pemerintah yang sedang memegang kendali. Tangan yang memberi di atas tangan yang menerima. Uang tidak mengenal nasionalisme, para bankir tidak memiliki patriotisme, satu-satunya tujuan mereka adalah keuntungan.”

1803: 

Presiden Thomas Jefferson bersepakat dengan Napoleon, Amerika akan memberikan 3 juta dolar emas sebagai ganti atas sisi Barat sungai Missisipi. Ini dikenal sebagai pembelian Louisiana.

Napoleon menggunakan uang ini untuk membentuk pasukan, dan mulai menaklukkan Eropa. Bank of England segera bangkit membiayai perang melawan Napoleon dan mendapatkan keuntungan besar dari perang tersebut. Prussia, Austria, dan Rusia semuanya terbenam dalam hutang dalam usaha untuk menghentikan Napoleon.

1807: 

Nathan Rothschild menyelundupkan emas dari Prancis menuju Spanyol untuk membiayai serangan Duke of Wellington terhadap Napoleon.

1811: 

Masa 20 tahun kartel First Bank of the United States berakhir. Nathan Rothschild mengancam, “Bila aplikasi kartel ini tidak diperpanjang, Amerika akan terlibat dalam perang yang mengerikan.”

Presiden keempat Amerika saat itu, James Madison, sangat membenci bankir, dan bersama dengan Wakil Presiden, George Clinton, mereka berhasil menghalangi Senat untuk memperpanjang kartel bank.

1812: 

Seperti yang dijanjikan Nathan Rothschild, akhirnya Inggris menyerang Amerika. Namun, karena pada saat yang bersamaan Inggris masih sibuk berperang melawan Napoleon, sampai perang berakhir tahun 1814, Amerika belum berhasil dikalahkan.

1814: 

Napoleon kalah dan dibuang ke sebuah pulau di Italy, Elba.

1815: 

Napoleon berhasi melarikan diri dan kembali ke Perancis. Dia berhasil mengumpulkan kembali pasukan, tetapi akhirnya kalah kembali dari Duke of Wellington di perang Waterloo.

Nathan Rothschild mengirim salah satu orang kepercayaannya, Rothworth untuk memantau perang tersebut. Begitu hasil perang akhir diketahui, Rothworth segera kembali ke Inggris untuk memberitahu Nathan. Nathan mengetahui kabar ini 24 jam lebih cepat daripada Wellington sendiri di London.

Nathan segera menuju bursa saham London dan menjual besar-besaran. Para pedagang yang lain percaya, ini adalah pertanda bahwa Napoleon yang memenangkan perang dan mereka pun ikut menjual dalam kepanikan.

Pasar benar-benar goncang, dan semua orang mulai menjual surat hutang pemerintahan Inggris, tetapi Rothschild diam-diam membeli kembali dalam jumlah besar saat harga surat hutang itu jatuh beberapa jam kemudian. Surat-surat hutang ini bisa dikonversikan dengan saham Bank of England, dengan cara itulah Rothschild mengambil alih Bank of England, dan sejak saat itu mengendalikan suplai uang di Inggris.

Nathan Rothschild mengatakan bahwa selama 17 tahunnya di Inggris, dia berhasil melipatgandakan 20.000 pound yang dia bawa sebesar 2.500 kali lipat menjadi 50 juta pound!

Sebagian orang bertanya, mengapa bankir menyukai perang? Sederhana saja, bankir membiayai kedua belah pihak yang berperang. Perang adalah generator hutang terbesar dari sebuah negara. Sebuah negara bersedia meminjam berapa pun agar bisa memenangkan perang. Hasil akhir sebenarnya sudah diketahui dari awal. Sang pecundang akan dibiayai secukupnya, dan pihak yang dibiayai besar-besaran akan memenangkan perang.

Bagaimana bankir memastikan uang mereka bisa kembali? Semua pinjaman diberikan hanya ketika mereka mendapatkan jaminan pemerintah bahwa hutang yang mereka berikan akan dibayarkan saat perang dimenangkan.

Baca lanjutannya: Konspirasi Bank di AS Hingga Terbunuhnya Lincoln