Panduan Mengajar Anak Mengenal Toilet

Panduan Mengajar Anak Mengenal Toilet

BIBLIOTIKA - Anak Anda sudah berusia dua tahun? Banyak ahli menyarankan inilah saat yang tepat menghilangkan bau ompol di kamar tidur. Saatnya melatih si kecil untuk buang air sendiri di kamar mandi.

Sebagian orangtua menganggap usia dua tahun masih terlalu kecil untuk buang air sendiri. Apalagi budaya memakaikan popok sekali pakai (diaper) pada anak di bawah tiga tahun menjadi bagian kehidupan orangtua perkotaan masa kini. Namun, penelitian mensinyalir bahwa anak yang terus memakai diaper akan makin susah buang air sendiri dan rawan terkena penyakit saluran kemih.

Anak bisa dilatih untuk mulai mengenal toilet sejak dini. Banyak orangtua yang memutuskan melatih anaknya buang air pada usia sekitar dua tahunan, dan semakin dini mereka melatih, semakin cepat anak mengerti bagaimana seharusnya bertindak jika ingin buang air.

Meski demikian, orangtua juga sebaiknya mengenalkan apa itu buang air agar anak memahami hal ini dan tak menganggap pengenalan toilet sebagai intimidasi dari orangtua.

Berikut ini adalah sejumlah tanda dimana anak sudah bisa diajak untuk belajar mengenal toilet.
  1. Anak mulai mengerti ‘keinginan untuk buang air’ dan menunjukkan wajah ingin pipis atau setidaknya mengatakan pada Anda.
  2. Menunjukkan perilaku orang yang ingin buang air.
  3. Gelisah dan terganggu dengan diapernya yang basah atau kotor. Hati-hati, kotor dan basah menurut Anda belum tentu kotor dan basah menurut anak.
  4. Anak terjaga dalam keadaan kering (tidak ngompol) seusai tidur siang.
  5. Mampu menarik sendiri celananya.
  6. Menunjukkan sikap ingin menyenangkan Anda.
  7. Mulai memiliki rasa malu bila celananya basah.
  8. Menunjukkan minta untuk menggunakan toilet atau pispot.

Jika anak telah menunjukkan tanda siap untuk buang air sendiri, inilah saatnya untuk menerapkan kiat praktis ini. Ingat, anak yang terbiasa dengan suasana kamar mandi akan lebih mudah dan cepat buang air kecil sendiri.

Ajaklah anak Anda ke kamar mandi bersama Anda. Ayah mengajak anak lelaki dan ibu mengajak anak perempuannya. Dari sana anak akan belajar bagaimana kegiatan buang air dan akan terbiasa dengan aktivitas tersebut.

Bantulah anak mengenali perasaan dan keinginan antara ‘sudah pipis’, ‘sedang pipis’ dan ‘ingin pipis’. Doronglah anak Anda untuk mengungkapkan keinginan saat ingin pipis tanpa harus memaksa anak untuk langsung ke kamar mandi.

Biarkan anak Anda telanjang untuk mengetahui bagaimana aktivitas buang air itu sebenarnya. Dengan demikian, anak juga bisa melihat hubungan mental antara keinginan untuk buang air dan aktivitas itu sendiri.

Menukar popok di kamar mandi juga membantu menghubungkan proses buang air dengan tempatnya. Anak di atas usia dua tahun selayaknya tak lagi berganti popok di tempat tidur.

Gunakan bahasa yang mudah dimengerti dan diingat anak untuk menggambarkan keinginan dan kegiatan buang airnya. Setelah anak cukup besar, gunakan bahasa baku untuk menunjukkan keinginan buang air. Hati-hati, jangan sampai menggunakan bahasa yang menunjukkan sikap jijik atau kotor untuk mengisyaratkan keinginan buang air.

Tekankan  pada anak bahwa setelah ia berlatih buang air kecil sendiri ia tak lagi memakai diaper dan harus buang air sendiri dan merasakan enaknya bersih dan kering. Tekankan pula bahwa buang air sendiri adalah tahap penting menuju kedewasaan.

Biarkan anak belajar memelorotkan dan menarik kembali celananya setiap kali ingin buang air. Tunjukkan pula bahwa sebelum buang air anak harus melepas celananya dan memasangnya kembali setelah selesai.

Ajak anak berlatih menggunakan toilet dan tunjukkan caranya. Tujuannya bukan untuk memaksa anak ikut menggunakannya, tapi untuk mengenal toilet dan mengetahui cara kerjanya. Biasanya, bunyi air penyiram toilet kerap kali membuat anak takut pada mulanya.