David Thomson, Raja Media yang Alergi pada Media

 David Thomson, Raja Media yang Alergi pada Media

BIBLIOTIKA - Raja media yang alergi pada media, itulah David Thomson. Dia memimpin penerbitan koran terbesar di Kanada, The Globe and Mail, tapi dia juga dikenal sangat menjauhi publisitas. Karenanya, meski merupakan anak dan cucu miliuner, keberadaan David Thomson tidak terendus media. Sosoknya baru dikenal secara luas, setelah namanya terkenal sebagai salah satu orang terkaya di dunia, dengan kekayaan 25,5 miliar dollar.

David Thomson lahir pada 12 Juni 1957 di Ontario, Kanada, dengan nama lengkap David Kenneth Roy Thomson. Dia merupakan generasi ketiga dalam kerajaan bisnis yang dibangun kakeknya, Roy Thomson. Kini, David Thomson dikenal sebagai raja media dan pemilik usaha Thomson Corporation yang membawahi berbagai bidang usaha lain selain media dan penerbitan.

Kerajaan bisnis Thomson Corporation dimulai oleh Roy Thomson, kakek David Thomson. Roy Thomson adalah anak tukang cukur di Toronto. Didorong keinginan untuk melepaskan kemiskinan dari hidupnya, Roy mencoba berbisnis. Pada 1920, Roy mencoba berbisnis jual beli suku cadang mobil. Tapi usaha itu bangkrut. Dia juga pernah mencoba bisnis lain, tapi hasilnya sama saja.

Sampai kemudian, muncul teknologi radio yang waktu itu bisa dibilang baru ditemukan. Orang-orang mulai mengenal pesawat radio, meski stasiun radio waktu itu masih sangat sedikit. Roy melihat peluang. Dia lalu membangun stasiun radio sendiri di daerahnya. Untuk membangun stasiun radio itu, Roy hanya mengeluarkan modal 200 dollar. Berbeda dengan usaha bisnis sebelumnya, kali ini stasiun radio milik Roy mencapai sukses.

Tiga tahun kemudian, Roy bahkan meluaskan usahanya dengan merintis penerbitan koran. Langkah pertamanya adalah membeli penerbitan yang hampir bangkrut, yakni Timmins Press. Roy juga hanya mengeluarkan modal 200 dollar untuk pembelian tersebut. Di tangan Roy, usaha penerbitan itu dibangun kembali, dan sukses. Sejak itu, usaha bisnis Roy pun kian berkembang dan membesar.

Roy Thomson memiliki anak, bernama Kenneth Thomson. Karenanya, ketika dia meninggal dunia pada 1976, perusahaan pun jatuh ke tangan anaknya. Meski begitu, setahun sebelum meninggal, Roy Thomson juga meninggalkan wasiat agar kelak perusahaannya diteruskan oleh David Thomson, anak Kenneth Thomson.

Waktu itu, David masih berusia 23 tahun, dan punya dua saudara bernama Taylor Thomson dan Peter Thomson. Tetapi tampaknya sang kakek lebih percaya kepadanya. Kenneth Thomson pun mematuhi wasiat sang ayah, dan menyerahkan kepemimpinan perusahaan kepada David.

Meski begitu, perjalanan David Thomson menuju kepemimpinan perusahaan tidak semudah yang mungkin kita bayangkan. Meski sejak awal sang kakek telah mewasiatkan bahwa dialah yang akan memimpin perusahaannya, namun David harus memulai dari bawah. Sang ayah tampaknya ingin David benar-benar layak menerima kepemimpinan perusahaan keluarga mereka, sehingga dia pun mendidik David dengan baik.

Pada 1978, ketika David Thomson lulus dari Universitas Cambridge, dia tidak bisa langsung masuk ke perusahaan yang waktu itu dipimpin ayahnya. Sebaliknya, sang ayah memintanya magang di sebuah instansi pemerintah di Kanada. Tujuannya, agar David bisa memperdalam pengetahuan investasi.

Sekitar dua tahun kemudian, pada 1980, David dipercaya menangani Hudson Bay Company, sebuah perusahaan ritel. Dia menjabat sebagai manajer di perusahaan tersebut. Beberapa tahun setelah itu, dia ditarik ke perusahaan Zeller, yang membawahi mal terbesar di Kanada, dan dipromosikan menjadi presiden direktur.

Baru setelah itu, sang ayah bersedia menerima David Thomson di perusahaannya, Thomson Corporation. Jadi, meski David sejak awal telah “memiliki hak” untuk memimpin Thomson Corporation, tetapi ayahnya ingin melihat sang anak membuktikan kemampuannya terlebih dulu.

Karenanya, baru pada 1988 David mulai bekerja untuk Thomson Corporation, dan dia diserahi pekerjaan untuk menangani bisnis media yang ada di sana, The Globe and Mail. Dari situlah kemudian, karir David di Thomson Corporation terus menanjak dan berkembang, hingga akhirnya benar-benar memimpin perusahaan, setelah ayahnya meninggal dunia.

Dulu, ketika kakeknya meninggal, total kekayaan perusahaan itu baru mencapai 500 juta dollar. Setahun setelah David memimpin perusahaan, kekayaan Thomson Corporation naik menjadi 846 juta dollar. Dua tahun kemudian, keuntungannya meningkat lagi menjadi 943 juta dollar. Kini, kekayaan Thomson Corporation telah meningkat drastis menjadi 29,3 miliar dollar. Itu jelas pencapaian yang tidak main-main, yang membuktikan bahwa David memang layak menerima wasiat kerajaan bisnis kakeknya.

Banyak yang telah dilakukan David untuk kesuksesan perusahaannya. Ia bahkan dianggap sebagai pemimpin bisnis yang revolusioner. Thomson Corporation yang semula hanya berorientasi pada bisnis media, kini mulai merambah bisnis konsultasi, farmasi dan kesehatan, jaringan televisi, penerbitan buku, industri peranti lunak dan elektronik, hingga jasa riset teknologi.