Biografi Stefan Persson, Tokoh di Balik Fashion H&M

 Biografi Stefan Persson, Tokoh di Balik Fashion H&M

BIBLIOTIKA - Jika di Spanyol ada Amancio Ortega yang memiliki perusahaan fashion Zara, di Swedia ada Stefan Persson yang memiliki perusahaan fashion H&M yang juga terkenal di dunia. Yang membedakan, Stefan Persson tidak merintis dan membangun usaha tersebut dari awal, namun menerimanya sebagai warisan dari sang ayah.

Stefan Persson lahir di Karlstad, Swedia, pada 4 Oktober 1947, dengan nama lengkap Carl Stefan Erling Persson. Dia adalah pemimpin perusahaan H&M yang bergerak di bidang fashion dan ritel pakaian terbesar di Swedia, bahkan di Eropa. Penjualan produk H&M setiap tahun mencapai 16 miliar dollar, dan hal itu menjadikan nama Stefan Persson tercatat sebagai salah satu orang terkaya di dunia.

Seperti yang disebut di atas, perusahaan H&M didirikan oleh ayah Stefan Persson, yaitu Erling Persson. Sebelumnya, Erling Persson bekerja sebagai salesman. Dalam suatu perjalanan ke Amerika Serikat, dia takjub menyaksikan konsep pertokoan dan ritel pakaian Amerika, dengan beragam produk dan kualitas serta harga terjangkau. Saat itu belum ada pertokoan serupa di Swedia. Kenyataan itu pun memunculkan ide di benak Erling Persson untuk membuat toko pakaian seperti yang ia lihat di Amerika.

Pada 1947, Erling Persson mendirikan toko pakaian bernama Hennes, yang waktu itu beralamat di Västerås, sebelah utara Stockholm, Swedia. Toko itu hanya menyediakan pakaian untuk wanita, dengan gaya yang modis dan harga yang terjangkau. Usaha itu berkembang baik.

Kemudian, pada 1974, Erling Persson membeli toko bernama Mauritz, yang menyediakan pakaian untuk pria. Penggabungan dua usaha itu diberi nama baru, yaitu Hennnes & Mauritz. Belakangan, Hennnes & Mauritz lebih populer dengan nama atau merek H&M. Sejak itu pula, H&M mulai memproduksi serta menjual pakaian untuk pria maupun wanita.

Pada 1976, seiring pertumbuhan usaha yang makin membesar, Erling Persson  mendaftarkan perusahaannya ke bursa saham Swedia, meski keluarganya tetap memiliki saham mayoritas. Memasuki tahun 1982, usaha yang dirintis Erling Persson pun mengalami pertumbuhan eksponensial, dan dia mulai membangun banyak toko baru, serta mulai merambah ke berbagai wilayah. Cabang-cabang H&M terus bertambah, hingga muncul di Denmark, Inggris, dan Norwegia, serta negara-negara tetangga.

Masih pada tahun 1982, Stefan Persson lulus dari kuliahnya di University of Stockholm. Waktu itu, ayahnya memutuskan untuk pensiun dari kepemimpinan di H&M, dan perusahaan itu pun diambil alih oleh sang anak, Stefan Persson. Sejak itu, Stefan Persson mulai memimpin perusahaan H&M, dan semakin meluaskan jaringannya hingga Jerman, Belanda, Prancis, Amerika Serikat, Cina, Jepang, Rusia, Turki, Korea Selatan, Singapura, sampai Thailand dan Indonesia.

Ketika Stefan Persson menggantikan ayahnya sebagai pemimpin H&M, dia berusia 32 tahun. Semula, dia sempat diragukan dapat membawa H&M menuju puncak. Tapi dia berhasil membuktikan kemampuannya. Prestasinya yang dianggap gemilang terjadi pada tahun 2002, ketika perekonomian global mengalami perlambatan, sehingga daya beli masyarakat menurun, dan banyak bisnis merugi. Di masa sulit itu, Stefan Persson berhasil mengantarkan H&M mencetak penjualan hingga 5,8 miliar dollar. Laba brutonya pun melejit hingga 34 persen dari tahun sebelumnya, menjadi 833 juta dollar.

Pada saat ini, perusahaan H&M memiliki karyawan sebanyak 94 ribu orang yang bekerja di 2.500 toko yang tersebar 40 negara di dunia, dengan penghasilan mencapai 16 miliar dollar per tahun.

Selain aktif memimpin dan mengurusi perusahaan ayahnya, Stefan Persson juga memiliki saham dalam jumlah besar di berbagai perusahaan teknologi yang ada di Swedia, Inggris, dan Prancis. Melalui kekayaannya, dia bahkan diketahui membeli seluruh desa di Hampshire yang memiliki luas sekitar 2.000 hektar, juga membeli perkebunan di Wiltshire yang mempunyai luas mencapai 8.500 hektar.

Stefan Persson mungkin anak beruntung—mewarisi perusahaan yang dirintis ayahnya, dan menerimanya tepat ketika perusahaan sedang ada di puncak. Hasilnya, dia pun menjadi salah satu orang terkaya di dunia tanpa harus merintis dari nol. Mungkin karena menyadari keberuntungannya, Stefan Persson pun mendirikan sebuah yayasan bernama Mentor Foundation, yang bergerak dalam melawan penyalahgunaan psikotropika (narkoba). Melalui yayasannya, dia ingin menjauhkan narkoba dari anak-anak muda, serta memberikan edukasi mengenai narkoba.

Stefan Persson menikah dengan Carolyn Denise, dan mereka memiliki tiga orang anak. Anaknya yang terbesar, Karl Johan Persson, kini turut membantu sang ayah menangani perusahaan.