5 Investasi Terbaik Warren Buffett

  5 Investasi Terbaik Warren Buffett

BIBLIOTIKA - Untuk melengkapi artikel sebelumnya (Warren Buffett, Investor Terhebat di Dunia), berikut adalah daftar investasi Warren Buffett yang dianggap terbaik sepanjang karirnya, yang akan memberikan beberapa pelajaran menarik, khususnya bagi kita yang berminat menjadi investor saham.

American Express (1964)

Pada 1964, terjadi skandal yang sempat merusak reputasi American Express. Skandal itu dimulai oleh perusahaan minyak sayur bernama Allied Crude Vegetable Oil, yang dipimpin Tino DeAngelis. Tino mengajukan pinjaman kepada beberapa bank, termasuk American Express, dengan jaminan stok minyak saladnya. Tetapi, rupanya, perusahaan minyak Tino tengah mengalami masalah.

Ketika kapal bermuatan minyak tiba di dermaga, seorang inspektur memeriksa, untuk memastikan bahwa kapal itu berisi minyak sayur sesuai yang dinyatakan perusahaan Tino untuk mendapatkan pinjaman. Menyiasati hal itu, Tino mengganti minyak sayur dengan air yang dicampur sedikit minyak. Sang inspektur tidak curiga, karena minyak mengapung di atas air, sehingga ia percaya kalau kapal itu memang benar-benar memuat minyak.

Tetapi, kemudian, penipuan Tino terbongkar. Akibatnya, American Express menjadi korban terbesar. Sahamnya anjlok lebih dari 50 persen, hingga perusahaan kehilangan sekitar 58 juta dollar, dan reputasinya nyaris hancur. Kenyataan itu pun menjadikan orang-orang (para investor saham) menjauh dari American Express, dan tak mau lagi membeli sahamnya.

Berbeda dengan umumnya para investor waktu itu, Warren Buffett berpikir lain. ia menilai, skandal itu hanya akan menjadi kepanikan sesaat. Ia menyadari, bisnis American Express masih sangat stabil dan potensial. Buffett juga mencermati bagaimana orang Amerika mulai menggunakan kartu kredit. Ia tahu American Express akan menjadi perusahaan bagus di Amerika.

Latar belakang itu pula yang kemudian membawa Warren Buffett untuk membeli saham American Express hingga 151,6 miliar saham, senilai 1,28 miliar dollar. Faktanya, pemikiran Warren Buffett memang benar. Pada akhir 2009, saham American Express yang dibelinya telah meningkat nilainya hingga lebih dari 5 miliar dollar. Dengan kata lain, Warren Buffett telah mencetak keuntungan sebesar 290 persen dari saham yang dimilikinya.

GEICO (1970-an)

GEICO menjadi salah satu investasi besar pertama yang dilakukan Buffett. Latar belakang Warren Buffett membeli saham perusahaan asuransi GEICO, karena alasan yang mungkin sentimental, yakni karena Benjamin Graham, mentor dan idolanya, juga menjadi investor di perusahaan itu. Namun karena meniru orang yang tepat, Warren Buffett pun mendapatkan hasil yang baik. Sejak membeli saham GEICO pada 1970-an, dia terus mengumpulkannya. Pada 1981, Buffett telah menginvestasikan 45,7 juta dollar untuk 30 persen saham GEICO.

Sampai kemudian, pada 1995, Buffett memutuskan untuk mengakuisisi GEICO senilai 2,3 miliar dollar, ketika perusahaan itu sedang mengalami kesulitan bisnis. Satu tahun kemudian, pada 1996, nilai GEICO telah mencapai 4,7 miliar dollar—dua kali lipat dari nilai yang dikeluarkan Buffett untuk memilikinya. Di bawah pengelolaan Buffett, bisnis GEICO berkembang pesat, dengan pangsa pasar yang mekar dari 2,5 persen ke 8,2 persen.

Coca Cola (1988)

Ketika Warren Buffett membeli saham Coca Cola pada 1988, banyak analis Wall Street yang skeptis, dan meragukan langkah yang ditempuh Buffett. Waktu itu, laba perusahaan Coca Cola mengalami penurunan hingga 2 persen dari tahun sebelumnya. Hanya menunggu waktu saja sampai perusahaan minuman ringan lain mengambil alih pasar Coca Cola. Waktu itu, saham Coca Cola seharga 35-45 dollar.

Warren Buffett percaya pada Coca Cola, khususnya karena ia mengagumi merek dan menyukai produk minuman tersebut. Jadi, ia terus membeli saham Coca Cola. Pada 1995, Warren Buffett memiliki 100.000 saham Coca Cola senilai US$ 1,2 miliar dollar. Pada September 2010, saham Coca Cola mengalami kenaikan, dan Buffett memperoleh keuntungan hingga 766 persen, karena nilainya telah melejit hingga 10,4 miliar dollar. Sampai sekarang, Warren Buffett masih menyimpan saham di Coca Cola.

Gillette/Procter & Gamble (1989)

Awal tahun 1980-an, industri alat cukur terpukul oleh penemuan silet yang bisa diganti. Penjualan Gillette pun merosot tajam. Butuh waktu sembilan tahun bagi Gillette untuk kembali memenangkan pasar. Pada 1989, mereka mendefinisi ulang industri dengan meluncurkan produk baru, Sensor Razor, alat cukur yang jauh lebih baik dan modern. Pada waktu itulah, Warren Buffett masuk dengan membeli saham Gillette senilai 600 juta dollar. Nilai itu menjadikan Buffett memiliki 11 persen saham Gillette.

Memasuki awal 1990-an, saham Gillette menyumbangkan laba yang sangat mengagumkan. Dalam waktu kurang dari 24 bulan, investasi Buffett yang semula 600 juta dollar telah meningkat drastis menjadi 800 juta dollar. Nilai itu bahkan melesat lagi ketika Procter & Gamble mengumumkan akan mengakuisisi Gillette. Akuisisi itu dianggap sangat baik oleh Buffett, dan dia pun memutuskan untuk menambah sahamnya di sana. Total keuntungan Buffett atas sahamnya di sana mencapai 4,4 miliar dollar.

Goldman Sachs (2008)

Ketika bencana krisis finansial melanda Wall Street pada 2008, Goldman Sachs menjadi salah satu bank yang terkena dampaknya. Akibatnya, harga saham Goldman Sachs pun menurun. Pada 23 September 2008, Warren Buffett—melalui Berkshire Hathaway—menginvestasikan 5 miliar dollar ke bank tersebut. Hasilnya, dalam beberapa jam saja, harga saham Goldman Sachs naik 6 persen.

Buffett telah meningkatkan kepercayaan pasar terhadap Goldman Sachs. Pada saat yang sama, dia mencetak untung. Atas investasi Buffett, Goldman Sachs setuju membayar 10 persen dividen tahunan atas saham yang dibeli Buffett.

Tiga tahun kemudian, Goldman Sachs memutuskan untuk menebus investasi Buffett. Mereka membayar 5 miliar dollar plus 500 juta dollar, karena mengembalikan pinjaman itu lebih awal dari yang seharusnya tahun 2013. Buffet juga akan menerima dividen (pembagian laba kepada pemegang saham berdasarkan banyaknya saham yang dimiliki), sehingga total pembayaran yang diberikan kepada Buffett berjumlah 5,64 miliar dollar.

Pada waktu itu, CEO Goldman Sachs, Llyod Blankfein, menelepon Buffett, dan berkata setengah bercanda, “Kami akan membayar Anda dalam uang kertas 1 dollar.”

Menyahut canda tersebut, Warren Buffet menimpali dengan kelakar, “Tidak apa-apa, asal dividennya akan terus ditambahkan, sampai saya selesai menghitung semua uang itu.”