Ternyata Ada Hewan yang Homo

Ternyata Ada Hewan yang Homo

BIBLIOTIKA - Panah Cupid kadang-kadang salah sasaran, dan makhluk sesama jenis saling jatuh cinta. Fenomena semacam itu tidak hanya terjadi pada manusia, tetapi ternyata juga pada hewan. Di kebun binatang Toronto, Kanada, ada dua penguin Afrika jantan yang menjalin hubungan sesama jenis. Kedua penguin itu bernama Buddy dan Pedro, keduanya berasal dari Ohio, Amerika Serikat, dan dibesarkan di kebun binatang Toronto.

Sebenarnya, di tempat mereka hidup juga ada penguin betina. Namun kedua penguin jantan di atas lebih memilih menjalin hubungan dengan sesama jenis, dan mereka sering terlihat saling bersentuhan, tidur bersama, bahkan menunjukkan perilaku binatang yang sedang kawin. Termasuk membuat suara meringkik dan mempertahankan wilayah mereka.

“Mereka melakukan perilaku pacaran dan kawin, seperti yang dilakukan hewan betina dan jantan,” ujar penjaga kebun binatang di sana. “Mereka juga berpasangan setiap malam.”

Akhirnya, kedua penguin homo itu pun dipisahkan dalam ruangan tersendiri, agar masing-masing dapat menemukan jodoh betina, sehingga dapat berkembang biak.

Selain penguin, hewan lain yang diketahui juga menjalin hubungan sesama jenis adalah burung. Para ilmuwan dari University of California menemukan bahwa setengah dari kelompok hewan yang dibesarkan bersama-sama bisa mengalami hubungan “menyimpang” semacam itu. Bahkan, ketika burung betina didatangkan ke lokasi tersebut, lima dari delapan burung yang homo itu tidak mempedulikan, dan tetap bersama pasangan sesama jenisnya.

“Hubungan pada hewan bisa lebih rumit dari sekadar jantan dan betina yang bertemu dan bereproduksi,” ujar Dr. Julie Elie, yang memimpin penelitian itu. “Pengamatan membawa saya pada hasil yang mengejutkan, bahwa hewan sesama jenis kelamin juga dapat berinteraksi seperti pasangan jantan dan betina.”

Apa yang menyebabkan hewan-hewan itu menjadi homo? Jawaban untuk pertanyaan itu masih misterius. Sebagian ilmuwan percaya fenomena tersebut berasal dari genetik, sebagian lain memperkirakan perilaku itu dipicu karena “salah pergaulan”. Dalam penelitian terakhir, ditemukan pula bahwa merkuri juga dapat mempengaruhi perilaku hewan sehingga menjadi homo.

Peter Frederick dari Florida University di Gainesville dan Nilmini Jayasena dari Peradeniya University di Sri Lanka, melakukan penelitian dengan memberikan merkuri dalam dosis rendah pada burung ibis putih. Hasilnya mencengangkan, karena hal itu dapat mengubah orientasi seksual burung. Merkuri menyebabkan banyak burung jantan berubah menjadi gay, sehingga tak ada yang membuahi burung betina, dan populasi anakan pun berkurang.

Untuk memperkuat kesimpulan, mereka mengambil sampel 160 burung ibis putih, memberi mereka metil merkuri, dan mengobservasi setelahnya. Kedua peneliti di atas membagi burung-burung itu menjadi 4 grup, dengan dosis pemberian merkuri berbeda, yaitu 0,3 ppm, 0,1 ppm, 0,05 ppm, dan terakhir tak diberi metil merkuri.

Ketiga kelompok burung yang diberi merkuri menunjukkan bukti yang nyata, mereka berubah menjadi homoseks. Sebanyak 81 persen burung yang mendapatkan dosis 0,3 ppm merkuri berubah menjadi penyuka sesama jenis. Mereka saling kawin satu sama lain, membangun sarang bersama, dan berduaan hingga beberapa minggu lamanya.

Sementara itu, populasi yang diberi merkuri namun tetap heteroseksual menunjukkan kualitas rendah dalam memelihara anakan. Peter Frederick menyatakan, “Jika hal itu terjadi secara berkelanjutan, produksi anakan akan berkurang hingga 50 persen.”

Penelitian itu merupakan temuan pertama yang mendeskripsikan pengaruh zat kimia pada orientasi seksual hewan. Banyak bahan kimia dilaporkan mampu mengubah hewan jantan tertentu menjadi lebih feminin, dan berkurang kesuburannya, namun tidak sampai mengubah orientasi seksualnya. Merkuri adalah senyawa sangat beracun, terutama jika terdapat dalam wujud metil merkuri. Belum ada penelitian yang jelas apakah zat kimia tersebut juga memberi pengaruh sama pada manusia.

Meski penemuan di atas menunjukkan bahwa homoseksualitas hewan dapat dipengaruhi oleh merkuri, namun penelitian itu tetap belum mampu menjawab apakah semua hewan yang homo memang disebabkan merkuri. Karena, beberapa kasus hewan yang diketahui homo tidak bersentuhan dengan zat kimia tersebut. Seperti yang diperkirakan ilmuwan lain, bisa jadi beberapa hewan homo itu memang “salah pergaulan”.

Fakta:

Di antara semua hewan mamalia, homoseksualitas paling banyak terdapat pada kelelawar jantan.